29 :: Lupa

1.1K 89 5
                                        

Olive melangkah santai di koridor dengan kedua tangan yang memegang kedua sisi tas coklatnya.

Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih empat puluh menit, tapi keadaan sekolah masih cukup sepi.

Senyum di bibirnya perlahan mengendur tergantikan dengan kernyitan pada dahinya.

"Olive," orang itu melambaikan tangannya.

Olive menoleh ke belakang, memastikan memang ada yang memanggil namanya.

Matanya tak lepas dari seseorang yang berlari kecil ke arahnya dengan senyuman khas orang itu.

Cowok itu. Ia berusaha mengerem larinya dan melebarkan senyumnya.

"Pagi, cantik," sapanya dengan wajah yang ia buat seimut mungkin.

Olive yang geli melihat wajah cowok yang berdiri sejajar dengannya terkekeh.

"Pagi, Van." Olive mengganguk sekali dan tersenyum.

Vano mengerucutkan bibirnya, "Kamu, mah."

Olive bingung saat melihat cowok itu kini menekuk wajahnya, "Kenapa, sih?" heran Olive.

"Orang gue nyapa lo pake kata 'cantik' seharusnya lo bilang gini, 'pagi juga, Stevano ganteng' gitu."

Kerutan di dahi gadis itu memudar berganti dengan kekehan.

"Kenapa ketawa?" Vano memincingkan matanya.

"Pengen banget, ya dipanggil ganteng?" ucap Olive masih dengan kekehannya.

Kedua alis Vano bertaut sesaat sebelum senyumnya muncul, "Gak juga, sih. Kan gue emang udah ganteng dari sananya." Ia menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.

"Pede," singkat Olive.

"Biarin yang penting lo sayang," cowok itu tertawa sendiri menyadari apa yang diucapkannya.

Tapi kalimat itu langsung berefek pada pipi Olive. Terbukti pipinya sekarang menjadi merah.

"Apaan, sih," ia memukul pelan dada bidang Vano "jadi cowok pede banget."

"Suka-suka. Daripada lo," Vano mendekatkan badannya pada gadis di depannya, " gengsi. Gak mau jujur kalo sayang gue."

Kedua tangan Olive menggepal kuat, matanya juga menutup rapat. Gadis itu mencak-mencak, greget dengan cowok di hadapannya.

"Ihh, ngeselin!" ucapnya gemas sendiri.

Vano tergelak melihat wajah gadis itu yang semakin memerah.

"Jangan marah-marah, ntar cepet tua. Kalo tua kan gak bisa pacaran sama gue." Goda cowok itu menaik-turunkan kedua alisnya.

Olive menghela napasnya dengan sekali hentakan. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.

Ini masih pagi dan cowok itu sudah membuatnya gregetan. Rasanya ia sangat ingin mengigit Vano yang masih terkekeh.

"Udah, ah. Yuk, ke kelas," ucap Vano merangkulkan lengan kirinya pada bahu Olive.

Gadis itu tercengang, lipatan tangannya perlahan memudar. Kepalanya menoleh ke kiri, sedikit menunduk menatap lengan Vano yang berada di bahunya.

Sesaat setelahnya mata coklat madu Olive menatap wajah Vano yang juga sedang menatapnya.

"Kenapa?" tanya Vano heran.

Olive menggeleng ragu. "Enggak."

"Yuk," ajak Vano berjalan dengan tangan yang masih merangkul gadis itu.

Di sisi lain, sejak tadi seorang cowok memperhatikan keduanya. Tangannya menggepal kuat dengan napas yang memburu. Entah apa yang ada dipikiran cowok itu sekarang.

Vanolive [ NEW VERSION ] HIATUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang