9 :: fight

2.5K 229 79
                                        


Fio yang melihat kedua temannya begitu payah menghadapi Vano berjalan mendekat dengan kedua tangan yang menggepal kuat, matanya menatap nyalang ke arah Vano yang sedang menarik napas.

Sesak di dadanya seakan datang disaat yang kurang tepat, Vano mencengkeram dadanya kuat dengan mata yang terpejam rapat tidak menyadari bahwa Fio mendekatinya dengan tangan yang siap melayangkan tinju pada Vano.

Dan benar saja, Fio yang berjalan beberapa langkah kini sudah ada di depan Vano. Cowok itu mendorong dengan keras tubuh Vano membuat dirinya terdorong ke belakang. Jika saja Vano tidak mempunyai keseimbangan yang baik mungkin cowok itu kini sudah terjatuh.

"Bangsat!" Fio melayangkan satu tinjunya pada wajah Vano.

Tinjuan itu berhasil membuat sudut bibir Vano robek dan berdarah. Vano mengusap sudut bibirnya, matanya menatap tajam cowok yang kini berdiri di depannya.

Beberapa detik kemudian Vano mendaratkan pukulannya pada cowok itu, Fio yang kalah cepat dengan Vano tidak sempat menghindar. Tangan Vano mencengkeram kerah baju seragam Fio. Air muka Vano kini bertambah merah padam menahan emosinya rasa sakit di dadanya sesaat ia lupakan.

"Gue gapernah habis pikir sama sikap lo! Gue bahkan gapernah tau kenapa lo jadi kaya gini!" ujar Vano, tatapannya begitu mematikan saat menatap cowok yang kini begitu dekat dengannya.

Fio memejamkan matanya sesaat "Lo udah lupa hah?!" senyum culas itu kembali terlihat diwajah Fio.

Vano menautkan alisnya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan cowok itu. "Maksud lo apa?!"

"Vano, gue rasa lo emang udah amnesia" cowok itu menggelengkan kepalannya. "Lo lupa sama semua, iya?"

Vano semakin mengeratkan cengkeramannya pada baju Fio "Lo bahkan cuman parasit di hidup gue! Lo itu ga berguna sama sekali Yo!"

Fio menyeringai "Dan mereka lebih percaya sama gue."

Vano yang emosinya sudah memuncak kembali mendaratkan pukulannya pada wajah Fio. Cowok itu hanya tersenyum miring menerima pukulan Vano.

Sampai pada akhirnya Fio mendorong dan menendang dada Vano, yang menyebabkan dada Vano terasa sangat sakit dan sesak sampai cowok itu tersungkur di jalanan. Fio menekan dada Vano dengan satu kakinya. Fio menunduk dengan senyum penuh kemenangan diwajahnya.

"Lo bahkan lebih lemah sekarang! Lo itu menyedihkan Van."

Nada bicara Fio itu membuat Vano muak, rasanya ingin sekali dirinya menyingkirkan cowok berandal itu dari dunia ini. Dadanya semakin sakit saat Fio menekankan kakinya di sana, Vano hanya bisa meringis menahan rasa sakit itu.

"Lo pen-ge-cut Yo!" ucap Vano terbata namun penuh penekanan disetiap kalimatnya.

"Pengecut lo bilang? Kalo gue pengecut lo apa? Brengsek?"

"Lo bahkan gatau caranya berterimakasih!" kalimat itu begitu menusuk saat Vano mengucapkannya.

Fio mengangkat kakinya dari dada Vano. "Gue gabakal biarin lo hidup!" ujar Fio yang melangkahkan kakinya menjauhi Vano.

Vano meringis mencengkeram dadanya kembali. Dadanya benar-benar sesak sekarang, cowok itu berusaha berdiri mendekati motornya.

"Lo harus kuat No" ucap cowok itu pada dirinya sendiri.

Rumah rasanya masih begitu jauh bagi cowok itu, rasa sakit itu juga tidak kunjung hilang. Terkadang cowok itu hampir menabrak pengendara lain akibat fokusnya yang terkadang buyar saat sakit itu terasa.


****

Cowok itu memasuki halaman rumah yang cukup luas. Kakinya melangkah perlahan masuk ke dalam rumah itu. Rumah itu begitu besar dan luas namun rasanya begitu sepi, seperti hari-hari biasanya.

Vanolive [ NEW VERSION ] HIATUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang