23 :: Hola, Shafa

2K 110 50
                                        

Jawab pertanyaan di bawah, ya teman-teman😁




Matahari sekarang mulai bersinar lemah. Angin perlahan berhembus menggoyangkan dedaunan dengan lembut dan sepertinya rintik hujan masih terlalu pagi untuk turun.

Cowok berlesung pipi itu masih asik bergulat di bawah selimut tebalnya yang hangat, terlalu enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya pagi ini.

Tak berapa lama cwok itu perlahan membuka kelopak mata memperlihatkan manik mata coklatnya.

Matanya mengerjap beberapa kali memandang langit-langit kamarnya sambil menguap lebar.

Detik berikutnya ia bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju balkon kamarnya.

Tangannya mendorong pintu kaca yang menghubungkan balkon dengan kamarnya.

Kedua tangan Vano ia gunakan untuk menyangga tubuhnya, cowok itu memandang lurus ke depan.

Membiarkan angin pagi berhembus membawa rintik hujan membasahi wajahnya.

Sakit di dada dan rasa mualnya sudah lebih baik daripada sebelumnya.

Namun, sakit di kepalanya masih ada.

Sesaat Vano mengulas senyum tipis entah apa yang dipikirkannya sekarang, yang jelas cowok itu langsung masuk ke dalam dengan cepat.

***

Cowok berambut coklat melajukan motor ninja merahnya cepat, tidak memperdulikan rintik hujan yang turun perlahan.

Indra penciumannya menangkap dengan jelas bau khas aspal yang terguyur hujan sejak semalam.

Aroma yang ia sukai, entah kenapa ia menyukainya.

Cowok itu memarkirkan motornya dan memasuki bangunan yang mempunyai bau khusus dengan sebuket bunga mawar di tangannya.

Cowok berlesung pipi membuka pintu perlahan lalu masuk ke dalam.

Tidak ada siapa-siapa di sini hanya gadis itu sendirian.

Bahkan ini sudah kali kelimanya Vano tidak melihat cowok itu menjenguk gadis yang masih belum mau membuka mata.

Vano tahu itu karena setiap Vano datang tidak ada lagi buket bunga yang tergeletak di atas nakas seperti hari-hari sebelumnya.

Vano sedikit khawatir, sedikit sekali, apa yang sebenarnya terjadi dengan cowok yang dulu sangat dekat dengannya.

Vano meletakkan sebuket bunga yang dibawanya di atas nakas, matanya menatap alat yang tampak seperti televisi kecil.

Dan di dalamnya terlihat garis hijau yang bergerak teratur dengan bunyi yang memenuhi ruangan itu.

Detik berikutnya ia mendudukkan dirinya pada kursi di samping ranjang.

Vano mengusap lembut pucuk kepala gadis itu.

"Hai," sapa Vano tersenyum.

Senyum yang menyiratkan kesenduan juga kerinduan yang teramat sangat.

Tangan kanannya kini menggengam tangan gadis itu yang terbebas dari selang infus.

Mata coklatnya terus menatap wajah pucat orang di depannya.

"Kayaknya, Fio gak jenguk lo lagi? Gue khawatir sama dia, tapi gue juga benci sama dia. Gue gak tahu apa yang udah ngebuat Fio jadi berandal kaya sekarang."

Vano menghembuskan napas lelah.

Cowok itu menundukkan kepalanya hingga dahinya terasa menyentuh kasur tempat gadis itu tidur.

Vanolive [ NEW VERSION ] HIATUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang