31 :: Maaf

1K 93 14
                                        

Selama di dalam kelas kedua cowok itu hanya diam. Tidak mengatakan apapun  satu sama lain.

Putra yang dasarnya duduk sebangku dengan Vano juga ikut diam, matanya memang menatap papan tulis di depan, tapi di pikiran cowok berambut hitam itu masih memutar adu mulut antara kedua sahabatnya.

Sekilas ia menatap Gefran yang duduk tepat di depan Vano, sesaat setelahnya ia beralih menatap Vano yang sedang serius menyalin ringkasan di papan tulis ke buku catatan miliknya.

“Van,” panggil Putra.

Yang dipanggil hanya bergumam kepalanya mendongak menatap papan tulis sesaat dan kembali menunduk tanpa menoleh ke arah orang yang mengajaknya berbicara.

“Lo kenapa, sih?”

“Gue baik-baik aja,” ucap Vano tak acuh.

Putra berdecak, “Gue gak tanya kabar lo, ogeb.” Ketusnya.

Cowok berlesung pipi itu kini menolehkan kepalanya ke kiri, menghentikan aktivitas menulisnya sejenak.  “Lagian lo tiba-tiba tanya gue 'kenapa'.”

“Bukan gitu,” Putra memutar jengah bola matanya.

“Maksud gue, lo sama Gefran kenapa jadi marahan gini, sih?” badannya sedikit bergeser dan berbisik pada Vano.

Vano menghela napas pelan, “Panjang ceritanya,” ucap cowok itu kembali menuliskan sesuatu pada buku tulisnya.

“Ceritain ke gue.” Desak Putra membenarkan posisi duduknya.

“Ogah.” Vano bergumam sambil membaca ringasan di papan tulis.

Putra berdecak kesal, “Gak baik sahabat marahan cuman gara-gara cewek,” ujar Putra sok bijak.

Vano menghentikan aktivitas menulisnya, setelahnya ia menatap serius Putra.

Namun, dalam hitungan detik tatapan serius itu berubah menjadi tatapan malas.

“Sok iye, lu,” ketus Vano.

Putra kembali berdecak, sahabatnya yang satu ini memang keras kepala dan susah dikasih tahu.

“Gue serius, tapir.” Sewot Putra yang menjitak pelan kepala Vano.

“Berisik lo, noh, ringkasan disalin. Gue gak mau, ya lo pinjem buku gue gara-gara lo ketinggalan.” Vano berucap jengkel.

“Katanya kalo orang pelit kuburannya sempit,” ucap Putra asal.

“Gue mah sabar, ya punya temen kayak lo,” Vano melirik Putra.

“Orang sabar kuburannya pake AC.” Lanjutnya dengan kekehan.

“Bego, anjir.” Putra berucap ketus.

Vano terkekeh setelahnya, sedangkan cowok di sampingnya hanya mengucapkan sumpah serapahnya.

Dongkol.

Cowok berambut pirang yang duduk di depan mereka sedari tadi samar-samar mendengar percakapan keduanya, dan seulas senyum tipis. Bahkan sangat tipis terukir di setiap sudut bibirnya.

Menurutnya kedua sabahatnya itu memang aneh, konyol, kadang bego, tapi apa adanya dan itu yang membuat Gefran betah berteman dengan keduanya.

Akan tetapi dirinya perlahan membuat persahabatan mereka pecah dan itu bukan yang  sebenarnya dia inginkan.

Vano berdiri dari tempat duduknya tepat setelah bel istirahat berbunyi, matanya sesaat memperhatikan Gefran yang masih sibuk menutup buku-bukunya.

Hanya beberapa detik dan cowok itu memilih pergi.

Gefran menghentikan aktivitasnya saat Vano berjalan di sebelahnya. Cowok itu memperhatikan Vano yang melangkah keluar dari kelas dengan tatapan datar sampai Vano benar-benar menghilang di balik pintu.

Vanolive [ NEW VERSION ] HIATUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang