Nggak usah baper,
gue cuma khawatir,
bukan sayang.
-G
"Gue takut nyakitin orang yang udah bikin lo kayak gini."
Lauren terdiam mendengar ucapan Marcell yang entah kenapa membuat jantungnya sedikit berdesir. Untung saja saat ini wajahnya masih tertutup oleh jaket jeans yang membuatnya tidak harus menatap cowok bermanik hijau di sebelahnya.
Marcell terlalu sulit ditebak, ucapannya yang menyebalkan terkadang tidak sebanding dengan perlakuannya. Entah kenapa saat mereka duduk sedekat ini, ia malah merasa masih ada sebuah sekat yang dibangun Marcell untuk tidak ditembus siapapun. Sekat itu terlalu kuat, terlalu kokoh dan terlalu sulit untuk dimasuki, bahkan oleh sekedar bayangan.
Dia perusak mood yang berpengalaman. Dia juga pelindung yang bisa diandalkan. Dilain waktu, dia juga bisa menjadi seseorang yang bisa menyentuh getaran itu. Tapi disamping itu semua, dia punya sisi yang menakutkan, dia penuh rahasia, dan bahkan mempunyai kemungkinan untuk pergi dan tidak kembali lagi. Ia mempunyai satu pegangan terkuat yang membuatnya masih berdiri di ambang ragu, antara ya atau tidak, dan Lauren tidak bisa mengerti apa maunya hati dan pikiran cowok itu. Ia terlalu abu-abu untuk bersanding dengan rindu.
"Marcell, lo masih disitu?"
"Hmm."
Gadis itu membuka jaket jeans yang menutupi wajahnya dan menoleh ke arah seorang cowok yang masih duduk membelakanginya. Ia terdiam lalu mengetuk bahu Marcell tiga kali membuat pemiliknya menoleh dan berganti posisi duduk. Cowok itu menatap langit dengan pandangan tak terbaca, tidak peduli dengan pandangan Lauren yang masih menatap lurus ke arahnya.
"Jangan ngelihatin, nanti suka."
"Ih! ogah suka sama lo, kayak nggak ada cowok lain aja."
"Bagus kalau gitu."
Marcell menatap bintang di atasnya tanpa ekspresi. Ia memperhatikan kerlip cahaya yang terkadang terang lalu meredup sedetik kemudian, begitu sebaliknya. Apakah gadis itu ada di atas sana? sedang melihatnya saat ini? ataukah cahaya itu bukanlah bintang, melainkan lampu senter yang digunakan gadis itu untuk memantau pergerakan Marcell di bumi?
"Bodoh!" gumamnya sangat pelan sampai Lauren tidak bisa mendengar bahwa cowok itu baru saja mengucapkan sesuatu.
"Seharusnya hari ini hujan."
"Jangan!" Marcell menoleh cepat dan memasang ekspresi seolah tidak suka dengan harapan Lauren.
"Lo nggak suka hujan?"
"Hmm."
Ternyata benar, ucapan tantenya benar bahwa banyak orang diluar sana yang tidak menyukai hujan, termasuk Marcell. Gadis itu menatap heran ke arah cowok yang saat ini kembali memfokuskan pandangannya ke atas langit, menatap ribuan bintang yang sejak tadi berkedip-kedip seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Kenapa lo nggak suka?"
"Nggak suka aja."
Gadis itu menganggukkan kepalanya berusaha mengerti, mungkin ada alasan lain yang membuat Marcell tidak menyukai hujan. Alasan yang tidak bisa ia ceritakan pada orang sembarangan, seperti Lauren.
"Kalau lo?" tanya Marcell membuat gadis itu menghembuskan nafas pelan dan ikut menatap langit.
"Gue pertama kali main hujan sama orang tua gue. Gue pertama kali main sepeda waktu hujan tiba-tiba dateng. Gue selalu bisa tidur cepet tanpa mimpi buruk karena hujan. Ulang tahun gue nggak tau kenapa juga selalu bertepatan sama hujan. Bahkan, hujan sampai jadi saksi waktu orang tua gue mutusin buat jalan sendiri-sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
SELEZIONE
Teen FictionAku mencintainya, itu sederhana. Tapi satu yang membuatnya rumit, aku terlalu takut untuk menerima hal yang berakhir dengan sakit hati. Pun aku terlalu ragu dan justru berjalan mundur memberi peluang. Memberi kesempatan orang lain untuk ikut memili...
