#20 Berjuang

6.1K 504 55
                                        

Menunggu dan berjuang adalah suatu kelelahan. Tapi gue suka kok sama kelelahan itu.

-M

Senyum yang belum pernah ia lihat terasa lebih hangat dari senyum manis orang terhangat. Meski hal itu terjadi sedetik tepat pada empat jam yang lalu, jantungnya masih terus berdesir saat kilatan memori tentang senyuman itu kembali berputar. Ya, sampai saat ini.

Matanya bergerak menelisik jauh menembus jendela ruang kelas. Mengamati silau matahari dan hembusan angin kering yang menerbangkan dedaunan di belakang sekolah dengan lihai. Ia menggoyangkan ranting kesana sini menimbulkan suara, bergerak mengotori halaman belakang tanpa memperdulikan tukang kebun tua yang terlihat kelelahan. Laki-laki itu mengusap peluh, mendongak dengan tatapan menyipit menatap sekilas matahari, sebelum tubuh renta itu kembali sibuk. Memegang gagang sapu dan menggerakkannya untuk mengumpulkan puing-puing rezeki.

Ah tidak, fokusnya tidak sedang kesana lagi. Berusaha mengalihkan pikiran, tapi lagi dan lagi senyum itu memaksa hadir. Mengintip lewat jendela dan menggetarkan sesuatu di dalam hati dengan sangat lancang. Hanya sedetik, bayangkan saja! namun rasa itu, manis itu, tetap hadir perlahan mengusik rindu.

Ia menghembuskan nafas, memaksa panca indra kembali berfungsi dengan semestinya. Jantung dengan detak biasa, mata dengan kedipan normal, pikiran dengan fokus seadanya, dan segala hal dengan batas wajar. Tidak seperti saat ini, dan semua itu berubah karena satu orang. Orang yang bahkan tidak pernah ia kira dapat masuk dan membuatnya seperti ini. Melamun dan bingung akan perasaan yang padahal milik kita sendiri.

"Hati-hati kesambet!"

Refleks ia menoleh dan terkejut saat suara penyebab rindu itu tiba-tiba datang. Mata hijau penuh candu sedang menatapnya dengan pandangan datar. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya berkedip dan berusaha menekan laju kecepatan detak jantungnya.

Bisa jebol tulang rusuk gue lama lama!!!

"Nggak ke kantin?"

"Emang udah bel?" tanya Lauren dan kembali terkejut saat kelasnya sudah sepi. Hanya tinggal Meika yang tidur tengkurap dengan pulas di karpet belakang.

"Kebanyakan mikir gue."

"Ihh, PD amat!!!"

"Jangan berisik!"

"Oh ya, Meika lagi tidur." ucap gadis itu melirik ke bagian belakang sambil menutup mulut sebelum matanya bergerak ke arah pintu saat seseorang masuk.

"Permisi."

"Hmm."

"Jangan dibangunin Za, dia barusan tidur." ucap Lauren membuat Gazza yang awalnya berniat membangunkan gadis itu akhirnya mengangguk dan mengelus pelan rambut coklat gelapnya.

"Ren?"

"Apa?"

"Pinjem jaket." Gazza bangkit dan menerima jaket yang baru saja dilemparkan Lauren. Ia mengangguk sebelum melebarkan benda tersebut untuk menutupi kaki Meika.

Marcell yang awalnya mengamati gerak gerik Gazza kembali menoleh ke arah Lauren dengan tatapan seperti biasa. Namun kali ini memang ada yang berbeda dari manik hijau itu, sekelebat kehangatan ada di lingkaran mata yang Tuhan ciptakan dengan sangat indah. Membuat siapapun pasti salah tingkah juga jika ditatap sedalam itu oleh doi mereka masing-masing.

"Kantin yuk ah, laper gue!"

"Bilang aja grogi."

"Gazza diem lo! nyaut aja kayak kabel rumah gue."

SELEZIONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang