Malam berganti pagi. Matahari masih malu menampakkan dirinya. Aland mengerjapkan matanya dan mulai melihat sekeliling. Ketika ia melihat ke kiri, ia terkejut melihat Al ada di sampingnya. Namun, entah dorongan apa ia tak mau melepas Al. Ia nyaman. Sama seperti memeluk Sebastian.
Tak lama kemudian mata Al terbuka lebar. Ia menguap dan menoleh ke samping kanan. Mata keduanya bertemu. Seperti melihat luka satu sama lain.
"Ekhem! Maaf karena telah memelukmu sampai-sampai kau ikut tidur di sini," ucap Aland sembari melepaskan tangannya dari Al.
Al langsung bangun setelah merasa terlepas dari pelukan Aland. Ia menatap Aland datar.
"Ya, aku maafkan. Kau tunggulah, aku akan menyuruh pelayan mengantarkan sarapan untukmu," ucap Al datar.
Aland hanya mengangguk karena tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya tawanan.
Al segera berjalan keluar menuju kamarnya. Sebelumnya ia mengunci pintu kamar itu.
"Apa ini? Dia siapa sebenarnya? Kenapa matanya sama seperti Ayah? Apa dia....? Ah! Tidak! Dia tidak mungkin kakakku. Mana mungkin aku punya kakak yang jahat seperti iblis?" Aland segera mengenyahkan pikiran itu dan mencoba mencari cara agar bisa lepas dari neraka itu.
Ketika ia berpikir ada seseorang yang masuk. Seorang pelayan berumur 57-an masuk dengan nampan di tangannya.
"Selamat pagi, Tuan Muda Aland. Saya ke sini mengantarkan sarapan," sapa dan ucap si pelayan itu.
"Selamat pagi," sapa Aland dengan senyum ramahnya.
"Ini sarapan Anda. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya si pelayan sambil menaruh nampan di atas meja dekat kasur.
"Hmm, aku ingin bertanya tentang Al. Dimana orang tuanya? Waktu pernikahan kakakku aku tidak datang dan tidak sempat melihat orang tuanya." Aland memasukkan satu sendok sup ke dalam mulutnya.
"Yang saya kenal hanya ayah Tuan Al."
"Siapa dia?"
"Tuan William Damiartha."
Perkataan pelayan itu membuat Aland terbelalak sendok yang ia pegang jatuh begitu saja mendengar nama ayah Al. Ia merasa syaraf-syaraf di tubuhnya membeku. Itu berarti ia dan Al. Ia dan Al? Saudara?!
"Tidak. Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin!!! Lepaskan aku! Lepas! Hei, siapapun lepaskan aku!" Jerit Aland. Otaknya tak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
Al yang mendengar jeritan Aland langsung berlari menuju kamar itu. Ia melihat Aland tengah berusaha melepaskan diri dari borgol itu. Ia juga melihat pelayannya tengah berdiri dengan wajah terkejut. Al segera berlari menuju Aland dan memeluknya.
"Hei, hentikan! Kau bisa melukai dirimu dengan borgol itu!" Peringat Al sambil memeluk Aland. Mencoba menghentikan Aland agar tidak melukai Aland lebih dalam.
"Lepaskan aku! Lebih baik aku mati daripada punya saudara se-ayah sepertimu!" Teriak Aland sekamin brutal mencoba melepaskan diri.
"Apa? Ap-apa maksudmu?! Saudara? Ayah?" Al bertanya sembari tetap memeluk Aland.
"Kita saudara? Katakan siapa nama ayahmu! Katakan!"
"William Damiartha."
"Pria itu. Pria kejam itu. Dia membunuhku! Dia iblis!" Kemarahan melingkupi Aland.
"Apa? Aland! Tenangkan dirimu!"
Butuh waktu lama agar bisa menenangkan Aland. Setelah Aland tenang si pelayan memberikan air putih padanya.
YOU ARE READING
Tears for Love and Happiness
RomansaPRANG!! BAK! BUK! Semua barang dalam ruangan itu pecah dan tak berbentuk lagi. Suara kesakitan menerjang tubuh si wanita yang tak lain adalah istri seorang CEO terkenal. Tubuhnya dipukul menggunakan cambuk dan ditendang-tendang bagaikan binatang. Pr...
