Part 3

7.9K 472 5
                                        

~~~
Mencintai itu bukan hanya bersiap akan datangnya kebahagiaan, tetapi juga harus siap terluka. Terluka di saat orang yang kita cintai memilih orang lain.
-Aliandra-
~~~

Mau tidak mau Prilly mengikuti perkataan sang Papah. Jika tidak, karier yang sudah ia bangun akan di tutup olehnya. Namun Prilly tidak tahu bagaimana nasib hubungannya dengan Andrew? Apakah ia akan mengakhirinya? 'Tidak, itu tidak akan terjadi' batin Prilly bicara. Kini Prilly tengah makan malam bersama keluarganya dan juga keluarga Ali. Yap! Prilly memang tak banyak bicara, pikirannya terus saja memikirkan sosok Andrew. Ia yakin jika Andrew sudah datang ke rumahnya untuk menjemput dirinya, namun Prilly yakin juga jika Papahnya telah meminta para penjaga untuk mengusir Andrew.

Memang sejak SMA, hubungan mereka selalu di tentang oleh Sang Papah karena bedanya keyakinan. Namun Prilly tak mempermasalahkan itu, yang terpenting ia hidup bahagia dengan Andrew.

"Sebaiknya kita percepat hari pernikahannya" ucap Papah Rizal.

Prilly menoleh ke arah sang Papah. Papahnya memang selalu mengambil keputusan secara sepihak, ia pun mengendus kesal.

"Aku setuju dengan usulmu, Rizal" seru Bunda Resi.

"Bagaimana pernikahan mereka di adakan sebulan lagi?" Saran Mamah Ully.

Prilly tersedak, kemudian ia segera meneguk air. Sebulan lagi? Tentu Prilly sangat terkejut mendengarnya.

"Baiklah, sebulan lagi pernikahan kalian akan di adakan. Tidak perlu acara pertunangan" balas Papah Rizal.

Prilly menatap Papah Rizal tak percaya. Tanpa ia sadari air mata pun lolos keluar dari matanya. Apa takdir mempermainkan cintanya dengan Andrew? Ia tidak mungkin menghianati cinta Andrew. Prilly bangkit dari posisinya, kemudian berlalu menuju halaman belakang rumahnya tak peduli panggilan dari kedua orang tuanya.

Sedangkan Ali yang melihat kepergian Prilly pun memilih untuk mengikutinya diam-diam.

"Ya Allah, apa karena beda keyakinan cinta kami berhenti sampai di sini saja? Prilly tidak yakin jika akan bahagia bersama pria yang tidak Prilly cintai bahkan Prilly tidak kenal sama sekali" gumam Prilly.

Ali terus memperhatikan Prilly dari jauh. Ali siap untuk mencintai Prilly, namun ia tidak yakin jika akan ada kebahagiaan yang akan datang dalam hidupnya.

'Aku tidak peduli, cinta itu butuh pengorbanan dan aku akan berjuang walaupun Prilly tidak mencintaiku. Dengan status suami istri, seiring berjalannya waktu cinta Prilly akan ada' batin Ali.

Kemudian, Ali melangkahkan kakinya menuju ruang makan dan membiarkan Prilly sendiri di halaman belakang rumahnya.

**skip

Kini Prilly menatap kosong ke arah depan sembari memakan red velvet. Ia terus memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Gritte yang sedari tadi melihat Prilly melamun segera menghampirinya.

"Lo lagi mikirin apa sih, Prill? Dari tadi lo melamun terus?" Tanya Gritte.

Prilly menghela nafasnya pelan, kemudian di tatapnya Gritte cukup lama.

"Gue akan menikah sebulan lagi, te" ucap Prilly pelan.

"Sama Andrew?" Tanya Gritte memastikan.

Prilly menggelengkan kepalanya pelan. Sulit rasanya ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada sahabatnya ini.

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang