Part 7

42 5 2
                                    

Terkadang, cara Tuhan menghadirkan rasa itu lucu. Terkadang pula, Tuhan memulai rasa itu dengan amarah.

***


Aish! Kenapa malah bocor, sih?! Di saat-saat yang kaya gini pula! Bisa telat, Gue.” gerutu Letta saat melihat ban depan motornya yang kempes akibat tusukan paku yang cukup besar

Pagi yang tidak beruntung. Begitulah pikir Letta. Akibatnya ia terpaksa mendorong motornya ke tempat tambal ban yang untungnya tidak terlalu jauh dari tempatnya kedapatan sial.

Tapi yaa, Letta adalah gadis kuat. Walau peluh di pelipisnya dan dengan nafas terengah-engah yang menandakan bahwa ia lelah, tapi ia tetap mampu mendorong motornya dengan ekspresi tenang.

“Hei.. Letta?” seseorang memanggil,
Letta menoleh dan melihat orang tersebut.

“Bannya bocor yaa?” tanya seseorang itu sambil melihat ke arah ban depan Letta.

“Malah nanya!” bathin gadis itu.

“Biar Gue bantu, tambal ban gak jauh lagi dari sini.” kata orang tersebut kemudian turun dari motornya.

“Gak usah repot-repot! Gue bisa sendiri kok.” jawab Letta dengan nafas agak tersengal.

“Serius? Nafas Lo aja tinggal satu-satu dan lihat keringat Lo, udah ngalir gitu.”

“Gak usah sok peduli deh, Gevin!” jawab Letta dengan nada muak.

“Gak usah sok kuat deh, Letta! Lo pasti capek’kan? Kenapa Lo gak minta bantuan? Disini’kan banyak orang. Lo pikir, Lo bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain?”

“Pakai nanya lagi,Lo. Iyaa jelaslah Gue capek. Lo pikir dorong ini motor gak pakai tenaga! Tapi yaa, walaupun Gue capek, Gue gak perlu bantuan orang lain selagi Gue bisa ngelakuinnya sendiri!”

Hehk! Cewek sombong! Kalau Lo mau banggain diri Lo yang kaya Hulk, yang kuat banget itu?! lebih baik nanti aja. Sekarang Lo terima aja bantuan Gue, emang Lo mau telat?”

Entah kekuatan apa yang membuat Letta tak membantah, gadis itu hanya diam.

“Tuh Lo bawa motor Gue!” ucap Gevin sambil menunjuk motornya dengan ibu jari

Letta melihat motor Gevin “Yaa kali Gue bawa motor Lo yang gede itu!” bathin Letta kemudian matanya melihat Gevin dengan tatapan sinis.

“Oh yaa, Lo gak mungkin bawa motor Gue ini. Ya udah, Gue dorong aja knalpot Lo dari belakang.”
_

Sesampainya di tempat tambal ban, tempat yang tidak terlalu besar, dan disana ada bapak tua sedang menambal ban motor seseorang pula.

“Permisi, Pak!”

“Iyaa? Ah.. bannya bocor yaa? Bawa kemari!” ucap si bapak tua seakan sudah mengetahui apa yang terjadi.

“Iyaa.. Pak.”

“Ah.. bocornya lebar ini. Butuh ban dalam baru.” jelas si Pak tua.

“Trus gimana, Pak? Kapan selesainya?” tanya Letta.

“Belum tau juga yaa. Motor yang ini aja belum selesai. Nanti sajalah ambilnya, sepulang sekolah, kalian anak sekolah’kan?”

“Iyaa, Pak. Kok Bapak tau?” tanya Gevin dengan wajah bercanda.

“Bapak’kan peramal.” jawab si bapak sambil tersenyum seakan mengikuti candaan Gevin, sedang lelaki itu hanya tergelak.

“Cih.. dasar bodoh!” gumam Letta “Kalau ditunggu aja gimana, Pak?” tanya Letta.

Love and Belonging Needs (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang