Makan malam telah siap, semua hidangan sudah disusun rapi dia atas meja. Setelah perkelahian memalukan tadi dipergoki Youngmin, suasana kembali tenang. Jihoon menghela nafas lega, pertengkaran itu tepat saat ia juga hampir kena cakar kuku-kuku panjang Daehwi. Syukur sekali.
Semua orang sudah duduk mengitari meja makan. Youngmin selaku tuan rumah duduk paling ujung, menghadap semua murid-muridnya. Sementara itu geng Holmes dan geng Guanlin duduk saling berhadapan.
"Selamat makan," ucap Youngmin ramah.
Jinyoung menelan ludah, menatap makanan dihadapannya ini ngeri. Tapi apa daya, dia harus memakannya. Harus !
"Tanganmu sudah diobati?" ucapan Seonho mengalihkan perhatian Jinyoung. Laki-laki itu menatapnya dengan mata dingin, lebih dingin dari biasanya. Jinyoung tahu, ia harus waspada.
"Sudah," jawab Jinyoung sama dinginnya. Ia tatap mata Seonho seperti biasa, seolah tak ada kegugupan sama sekali dalam dirinya.
"Baguslah, terima kasih sudah menolong."
"Tak masalah, bagaimana tanganmu?"
"Yang harusnya lebih dikhawatirkan itu tanganmu."
Tatapan Seonho menerawang dalam dan itu membuat Jinyoung lebih gugup. Tidak, ia harus tetap tenang. Kegugupan sekecil apapun jika ia memperlihatkannya--- sekalipun tak disadari semua orang di meja makan ini----ia yakin Seonho bisa menangkapnya. Dan itu berarti buruk.
"Kau tak perlu khawatir," ujar Jinyoung sambil tersenyum. Senyum yang tipis sekali.
Seonho melanjutkan kegiatannya memasukkan sendok ke dalam mulut. Jinyoung tak tahu dan sulit menebak apa yang sedang laki-laki itu pikirkan. Sikap tenangnya yang setenang air dalam gelas justru membuatnya sedikit cemas. Seonho itu sangat logic, melihat tangan mulus tanpa bercak merah apapun setelah memegang badan panci yang baru diangkat dari kompor, tak mungkin ia tak curiga. Tak mungkin. Tatapan dingginya tadi sudah membuktikan dugaanya.
Jinyoung menghela nafas pelan, masalah Seonho ia bisa pikirkan nanti. Pandangannya mengarah ke piring penuh nasi dan lauk yang memenuhi meja. Jika ia masih seutuhnya manusia pastilah ia sangat menyukainya. Tapi sayangnya, sekarang hanya mencium baunya---yang kata manusia harum & gurih ---- baginya sudah membuatnya mual.
Ia pandang Guanlin dan Woojin yang duduk mengapitnya. Mereka makan dengan ekspresi biasa. Guanlin malah terlihat sangat menikmati, ia makan dengan pelan. Suara denting sendok dan piring memenuhi ruang makan, tapi hanya Guanlin yang nyaris tak menghasilkan bunyi apapun, seperti kebiasaan keluarga mereka.
Ia mengambil sesendok, membuka mulutnya, dan membiarkan sepotong daging meluncur ke kerongkongannya. Sejak kali pertama lidahnya mengecap rasa manis dan pedas bumbu, ia sudah ingin muntah. Bagaimana bisa Guanlin menelan rasa mengerikan ini sebegitu tenangnya?
Satu suapan berlalu, masih berkali-kali suapan lagi yang harus ia telan sampai piring itu bersih. Penderitaan ini..., ingin rasanya cepat berakhir.
Pada suapan kelima Jinyoung tak bisa lagi menahan kemuakannya. Ia berlari ke toilet yang berada persis di sebelah dapur, memuntahkan semuanya ke closet.
Melihat hal itu, Youngmin langsung menyusulnya, "Astaga, Jinyoung," serunya di ambang pintu toilet. Ia bantu mengurut leher muridnya itu pelan-pelan.
"Kau sakit? Astaga."
Jinyoung mendongak. Gurat kecemasan dihadapannya ini begitu jelas. Ah...Kecantikannya bahkan sama sekali tak berkurang meski dalam ekspresi itu.
Tangan wanita itu menyentuh bahunya, membantunya berdiri dan memapahnya keluar dari toilet. Ia didudukkan di sofa ruang tengah. Kepalanya menyandar pada bantalan sofa. Telapak guru barunya itu menyentuh keningnya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Play
Mystery / ThrillerTentang keluarga vampire yang diam-diam buat ulah hanya untuk bermain-main dengan sekumpulan anggota klub pecinta hal-hal berbau detective. Guanlin Seonho Jinyoung Jihoon Daehwi Samuel Haknyeon Euiwoong Woojin Hyungseob #guanlin #seonhoo #...
