Guanlin berlari sekencang yang ia bisa demi segera sampai ke ladang jamur. Beberapa kali ia sampai terguling karena tersandung akar-akar pohon. Guanlin Panik !
Begitu sampai ia langsung mencari jamur berlendir yang dimaksud Donghyun. Ada banyak sekali jenis jamur yang tumbuh dan beberapa memiliki bentuk & warna yang mirip. “Ungu..ungu…,”Gumam Guanlin pelan sembari mengedarkan pandangan tajam ke segela penjuru. Pandangannya berhenti pada sekumpulan jamur berlendir dengan batang berwarna ungu yang tumbuh tersembunyi diantara jamur-jamur berukuran raksasa.
Guanlin mengulurkan tangan, membentuk energinya menyerupai tangan transparan, karena khawatir akan terjadi hal tak terduga jika mencabut langsung dengan tangan. Ia tak ada waktu untuk kekacauan baru. Jamur-jamur itu lantas dimasukkan ke dalam kantong. Guanlin lalu berlari lagi sekencang-kencangnya kembali ke tempat Samuel menunggu. Perkiraanya sudah 10 menit ia pergi.
Suara batuk-batuk Samuel yang pertama menyambutnya begitu ia sampai. Batuknya menyemburkan darah cukup banyak hingga membasahi kain dada. Haknyeon yang menahan tubuh Samuel setengah duduk pun kondisi pakaiannya juga penuh bercak darah. Guanlin buru-buru mendekat dan tanpa bertanya ia mencengkram rahang Samuel agar membuka mulut lebih lebar dan memaksakan lendir jamur masuk meluncur ke kerongkongannya.
Guanlin membekap mulut Samuel yang akan batuk lagi. Samuel berusaha melepaskan lengan Guanlin sembari menggeleng-geleng dengan mata berair, tapi Guanlin tak bergeming dan menyuruh Haknyeon menahan lengannya lebih kencang agar tak berontak.
Menyerah dengan Guanlin, tangan kanan Samuel beralih menepuk-nepuk dadanya, berharap itu bisa mengurangi rasa sakit dan panas di dada yang tak tertahankan.
Hingga tiga menit kemudian barulah Guanlin melepaskan bekapannya.
Samuel langsung terkulai di pelukan Haknyeon. Guanlin terduduk lemas, tangannya belepotan darah. Deru jantungnya bergemuruh kuat hingga rasanya ia bisa mendengar detakan jantungnya dengan jelas.
“Setelah kembali guru biologi itu tak akan kubiarkan begitu saja !” Haknyeon benar-benar terlihat marah & frustasi.
Guanlin masih berusaha mengatur nafas, mengatur pikiran, mengatur emosinya agar ia bisa berpikir jernih lagi.
Guanlin bangkit berdiri. “Aku akan lanjut sendiri. Kau jaga Samuel hingga kondisinya membaik lalu kembalilah. Berikan bahan yang sudah kita dapat pada Donghyun.”
“Sendiri ? Kau bahkan tak tahu kegilaan apa lagi yang disimpan hutan ini ? Bagaimana kau mau menghadapinya sendirian?”
“Kita tidak punya waktu lagi.”
“Tapi Guan….”
“Hidup Jinyeong bergantung padaku Yeon.”
Haknyeon terdiam, ia kalah !
Guanlin merapikan pakaiannya sebentar, “Jaga Samuel dan segeralah kembali, aku pergi,” kemudian dia melesat pergi mencari tanaman selanjutnya.
!@#$%^&*()
.
.
.
Guanlin menyebrangi bebatuan sungai dengan hati-hati, sungai yang ia lewati ini tampaknya cukup dalam dan arusnya deras. Tergelincir seperti kejadian lalu resikonya lebih berbahaya.
Guanlin menghela nafas lega begitu kakinya menapak di tanah. Tanaman selanjutnya berada di sekitar tepian sungai ini. Benar, tak sampai semenit Guanlin sudah menemukan targetnya. Sebuah tanaman berbuku-buku mirip mahkota nanas.
Guanlin berjongkok dan membentuk energinya menjadi sebilah pisau transparan. Daun- daun tanaman itu kaku dan bergerigi duri-duri kecil. Artinya, bagian yang bisa dipegang aman hanya pangkal buku yang menghubungkan dengan umbi. Guanlin mengeduk tanah dengan pisaunya hingga bagian umbi terlihat. Ia tarik bagian pangkal buku hingga seluruh bagian umbi tercabut dari tanah. lalu ia tebaskan pisaunya beberapa kali untuk memisahkan mahkota dan umbi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Play
Mystère / ThrillerTentang keluarga vampire yang diam-diam buat ulah hanya untuk bermain-main dengan sekumpulan anggota klub pecinta hal-hal berbau detective. Guanlin Seonho Jinyoung Jihoon Daehwi Samuel Haknyeon Euiwoong Woojin Hyungseob #guanlin #seonhoo #...
