Chapter 17 : Membantah
Apartement
8:50 PM
Bella keluar dar kamar mandi dan masih mendapati Zian di kamar. Berbaring di kasur sambil memainkan handphonenya. Bella mendekat dan duduk di sofa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Sunyi. Hanya suara TV yang terdengar. Setelah mereka bermain kartu tadi Bella merasa jidatnya sangat perih karena disentil Zian.
Alasannya? Tentu saja karena ia kalah terus. Harus Bella akui jika Zian adalah pemain kartu terbaik yang pernah ia temui.
"Zi, kamu tidak pulang ke rumah mu?" tanya Bella akhirnya.
Zian menatapnya sekilas, ia semakin membentangkan tubuhnya di kasur. Kemudian Zian menarik selimut.
"Pulang kemana? Apartement ini milik ku." ucap Zian seenaknya. Bella mendekat dan langsung menarik selimut yang dipakai Zian.
"Tidak! Pergi sana, aku tidak mau semalaman hanya berdua dengan cowok!"
"Memangnya kenapa? Aku tidak akan melakukan apa-apa kok."
"Ta-tapi tetap saja.." Bella mulai kehabisan kata-kata.
"Tidur di sebelah. Aku tidak akan menyentuh mu." Zian menepuk pinggir kasur dan mulai memejamkan matanya sementara Bella masih diam, bingung dengan dua pilihan di kepalanya mengenai Zian. Ia harus tidur disana atau tidak?
"A-aku.." Bella menggelengkan kepalanya. Kemudian ia beranjak dari sana dan duduk di sofa. Bella akan mengalah hari ini, memang apartement ini milik Zian.
Ia tidak akan segampang itu untuk tidur seranjang dengan Zian walaupun laki-laki itu berkata tidak akan melakukan apapun. Itu semua bukan jaminan.
Bella membaringkan badannya dan mulai memejamkan matanya sampai tiba-tiba ia merasa sebuah bantal dilempar tepat mengenai wajahnya. Bella membuka matanya dan mendapati Zian tepat di depannya. Ia membawa sebuah bantal dan juga selimut.
"Ke-kenapa?" Bella tampak bingung.
"Dasar Kepala Udang! Tidur disana." Zian menunjuk ranjang. Bella hanya menatap ranjang itu sedetik kemudian kembali beralih ke Zian.
"Beneran?"
"Ku hitung satu sampai tiga.."
"Kasian kamunya.."
"Satu..."
"Aku masih tidak percaya.."
"Dua.."
"Bener yah.."
"Hitungan ke-tiga ku gendong.. Ti.._.."
Bella langsung beranjak dengan terburu-buru begitu mendengarnya dan langsung meloncat ke ranjang. Zian lagsung memungut bantal yang jatuh kemudian menaruhnya di sofa tak lama dari itu ia berbaring di sofa.
"Zian.." panggil Bella tiba-tiba.
"Hem?"
"Aku.."
"Apa?"
"Ketus banget sih.."
"Iya ada apa?" tanya Zian lebih lembut.
"Em.. aku lapar. Kamu ingat aku belum makan apa-apa?"
Zian bangkit dan berjalan ke Dapur beberapa detik kemudian ia kembali dengan membawa beberapa bungkus roti dan sandwich di tangannya.
"Makan ini. Besok aku akan bawakan makanan yang lebih enak. Untuk malam ini makan saja ini dulu."
Bella membuka bungkus roti tersebut dan langsung memakan isinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIME BLITZ
Fiksi Remaja[TAMAT] Bella baru saja menjadi salah satu siswa di sekolah ternama di Jakarta. SMA Bakti Jaya yang banyak mendapat sorotan karena banyaknya prestasi. Namun di hari pertamanya pun, ia sudah mendapatkan masalah dan terlibat dengan Blitz. Salah satu...
