23.Aku Tidak Bilang Ini Permen

226 47 20
                                        

Zian Apartemen

04:55 PM

Bella berdiri menyenderkan tangannya di pagar balkon Apartement Zian. Pemandangan kota terpapar disana. Semilir angin berhembus di wajahnya pelan. Sungguh nyaman tapi entah kenapa raut wajah Bella tidak begitu bagus hari ini. Sudah dua hari ia berada di sana. Sebenarnya ia bosan dan juga rindu?

Iya. Dia rindu sekolah, rindu rumah, rindu pergi bermain keluar dan juga rindu Kak Diaranya. Ia mendengus napas pelan dan menatap ke bawah. Ia ingin keluar tapi keadaan Zian masih seperti itu.

"Hei Kepala Udang!"

Bella terperanjat kaget. Ia nyaris saja mati konyol jika sampai jatuh ke bawah. Ia mengelus dada dan menoleh cepat ke belakang.

"Kamu ya.." Bella hendak marah tapi langsung gagap dan membalikkan badannya. Ia menutup matanya sejenak dan menggigit bibir bawahnya.

Lagi-lagi Zian berjalan dengan keadaan seperti itu. Zian baru saja selesai mandi. Ia hanya memakai training tanpa memakai atasan apapun, alias ia bertelanjang dada. Bella tidak tahu apa yang ia pikirkan tapi saat melihat Zian ia pikir laki-laki itu cukup em.. seksi. 

Asal ia tahu itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

Zian menghampiri Bella dan berdiri di sebelahnya. Ikut menatap pemandangan sunset sore itu.

"Kenapa malah kesini? Cepat sana pakai baju. Nanti masuk angin.." usir Bella.

Senyum muncul di bibir Zian. Entah kenapa akhir-akhir ini ia banyak tersenyum.

"Kenapa? Badan ku bagus? Kamu tidak bisa melihat otot-otot ini? Sayang kalau tidak dipamerkan.." Zian menghadap Bella dan berjalan mendekat.

Bella menggeleng sambil berjalan mundur.

"Eh, jangan mendekat. Kamu sudah banyak merepotkan ku lho.."

"Bukannya itu memang tugas mu. Inget! Harus tanggung jawab." Sahut Zian.

SKAK MAT!

Bella menyeringai sebal. "Kalau begitu ada apalagi?"

Zian memutar bola matanya kemudian menarik tangan Bella masuk dan menutup pintu balkon. Mereka duduk di ranjang.

"Ganti perbannya.." Zian meletakkkan kotak obat di depan Bella. Bella hanya mengangguk kemudian menjalankan perintah Zian.

Bella mengambil perban dan beberapa kain kassa untuk membaluti lukanya. Wajah Bella tiba-tiba saja menjadi serius saat melakukan hal itu, alisnya sampai berkerut. Diam-diam Zian memperhatikan hal itu sejak kemarin-kemarin dan entah kenapa memandangnya sedekat ini ia merasa sedikit terganggu?

"Lukanya jadi jadi cepat kering.." kata Bella disela kerjaanya.

"Syukurlah, lukanya cepat kering karena kamu yang mengurus ku."

Hati Bella berdesir kala mendengar itu. Baru kali ini Zian memujinya.

Bella mengoles salep di sisi luka yang membengkak di bahu Zian. Memang tidak separah sebelumnya tapi tetap saja saat melihat itu Bella terus merasa bersalah.

Zian mendengar dengusan napas berat Bella lagi.

"Jangan pikir yang macam-macam cepat selesaikan ini.." suara Zian membuyarkan lamunan Bella. Ia buru-buru melilitkan kain kassa itu di luka Zian dan menutupinya.

"Sudah selesai.." ucap Bella sambil melihat hasil karyanya. Zian menggerak-gerakkan tanganya namun disaat yang sama ia mendapatkan sentilan dari Bella.

"Aw, sakit!" ringisnya sambil menyentuh kening. Bella berkacak pinggang.

"Jangan banyak bergerak, nanti makin parah.."

TIME BLITZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang