Chapter 18 : Rahasia Terbongkar (II)
SMA Bakti Jaya
Di dalam Aula besar itu, Pak Reza berteriak nyaring dan ia mulai terlihat kacau. Matanya menatap tajam Zian walaupun ada sarat ketakutan di dalamnya.
"Kamu menduduh ku? Bukti seperti itu mana bisa heh?" Pak Reza mulai tertawa sendiri sementara Zian hanya menatapnya bosan kemudian ia beralih kepada para siswa dan siswi lain yang menatapnya.
"Luna keluarlah.." ucap Zian. Tak lama dari itu salah satu dari siswi keluar dari gerombolan. Ia adalah Luna Agaisha. Ele dan Vania menatap kaget Luna begitupula siswa lainnya.
Luna berjalan dan berhenti tepat di depan Zian.
"Tunjukkan buktinya.."
Luna mengangguk lalu mengeluarkan handphonenya. Luna mengotak-atik handphonenya lalu menunjukkan sesuatu kepada Pak Yudi. Ia nampak tidak sabaran.
"Jadi kamu sudah menukar dokumentnnya dengan yang palsu?"
"Iya Pak, saya bahkan sudah merubah presentasinya.."
"Bagus, Pak Yudi pasti akan jatuh dan bapak akan segera menggantikannya. Ku dnegar rapat ini sangat penting yah.."
"Tunggu saja."
Luna menarik handphonennya kembali begitu rekaman itu selesai diputar. Pak Yudi nampak tak percaya dengan mulut setengah menganga. Semua orang di dalam Aula itu kini menatap Pak Reza yang sedang keringat dingin disana.
"Saya melihat Pak Reza dan salah satu bawahannya berencana untuk menjatuhkan Pak Yudi. Jadi saya merekam pembicaraan ini. Selain itu saya juga tahu jika Pak Rezalah yang sengaja menghilangkan dana sekolah beberapa minggu yang lalu dengan mengatas namakan Pak Yudi." Jelas Luna. Zian yang mendengarnya tersenyum bangga.
"Bukan! Itu bukan suara saya. Percayalah Pak!" Pak Reza menghampiri Pak Yudi dan berusaha meyakinkannya.
"Tangkap dia! Selama ini saya sudah menahan diri untuk kejahatan Bapak." Kata Zian. Beberapa dari Guru dan Satpam sekolah datang dan mulai menahan tangan Pak Reza, sedangkan Pak Reza terus mengamuk.
"Lepaskan aku! Awas kamu Zian! Kamu akan membalas mu! Awas kamu!" teriaknya. Zian hanya menghela napas kemudian Alvaro menghampirinya.
"Zian terimakasih banyak.." ucapnya. Zian hanya mengangguk kecil.
"Lain kali jangan salah paham. Bella, dia berniat baik."
Alvaro terdiam. Zian menepuk bahunya pelan kemudian berbalik tapi tertahan saat tiba-tiba Pak Yudi memeluknya.
"Terimakasih Nak, maafkan kami karena sudah menuduh mu."
"Santai saja Pak. Lagipula Bapak adalah kenalan Ayah saya."
"Sekali lagi terimakasih.."
Zian mengangguk dan menepuk punggung Pak Yudi.
"Pak Argha!" panggil seseorang. Zian yang mendengar nama itu langsung melepas pelukkan dan berbalik. Disana ia melihat seorang pria paruh baya yang berjalan menghampirinya. Pria itu masih terlihat segar dengan balutan jas dan kacamata hitamnya.
Zian menatap datar pria didepannya itu sementara Pak Yudi langsung memberi salam begitupula yang lainnya.
"Ku dengar ada masalah.." ucapnya dengan suara bariton yang sangat khas. Pria itu melepaskan kaca matanya dan menatap ke sekitar. Dilihat dari wajahnya ia sangat mirip dengan Zian. Siapa lagi dia jika bukan Ayahnya Zian.
"Ayah.."
***
Bella menatap kosong ke jalanan sejak ia kembali dari sekolahnya. Rasanya masih tidak percaya jika Zian berani mengatakan kebenaran mengenai dirinya seperti itu. ia memang kabur dari Apartement dan memutuskan untuk datang ke Sekolah dan di saat yang sama ia melihat Zian berbicara di depan membela dirinya.
Jujur saja ia merasa sangat tersentuh dengan sikap Zian tadi dan ia harus sedikit meluruskan jalan pikirannya mengenai Zian itu.
Bella saat ini sedang berada dalam perjalanan ke rumahnya dengan berjalan kaki. Tentu saja, ia tidak punya uang seser pun dan Zian sama sekali tidak memberikannya uang jajan. Saat ini yang ia pikirkan adala ia harus segera pulang mengambil beberapa pakaiannya dan uang simpanan.
Tidak mungkin ia harus memakai baju kebesaran Zian terus. Sesampai di depan pagar rumah Bella menoleh ke belakang. Entah kenapa sejak dari sekolah tadi ia merasa seperti ada seseorang yang mengikuti dan mengawasinya. Namun saat menoleh ke belakang ia tidak melihat siapa-siapa.
Cuman perasaan aja. Pikir Bella.
Ia memasuki perkarangan rumah dan langsung berjalan ke teras. Saat hendak membuka pintu Bella menyadari jika rumahnya benar tidak dikunci.
Ia mendengus kesal. Ia terus berpikir, untung saja pagar rumahnya di tutup. Bella memasuki rumah dan langsung menutup pintu.
"Aku kembali.." ucap Bella dalam kesepian rumahnya. Yang ia rasakan sejak kembali adalah rumahnya menjadi dingin.
Tanpa menunggu apapun, Bella langsung memasuki kamarnya dan membuka lemari untuk mengambil beberapa pakaian dan menysunnya di koper. Usai melaksanakan rencanaya Bella langsung keluar kamar dan saat membuka pintu kamar ia melihat seorang pria dengan pakaian hitam serta topi sedang berdiri membelakanginya.
Bella terkejut dan berusaha menahan teriakannya. Ia mengamati pria itu yang perlahan membalikkan badannya ke arahnya.
Ia tertawa pelan saat melihat Bella. Dapat Bella lihat wajahnya, ya, wajah itu tampak asing baginya. Ia belum pernah meliha pria ini sebelumnya.
"Selamat datang kembali Bella.." ucapnya diselingi tawa.
"Siapa?"
Bella mehanan napas dan mengenggam kuat koper di tangannya berusaha untuk menahan getar di tubuhnya. Ia merasa tidak baik saat ini dalam artian ia dalam bahaya.
Pria itu mendekat dan memperhatikan wajah bella yang nampak ketakutan. Kemudian ia tertawa lagi.
"Siapa anda? Dan kenapa anda datang ke sini!" pekik Bella lagi lebih keras. Bukannya menjawab laki-laki itu malah semakin tertawa sehingga menampilkan sederatan giginya. Bella tidak dapat lagi menahan keringat yang sudah membasahi tubuhnya.
Tiba-tiba saja ia teringat dengan ucapan Luna beberapa hari yang lalu dan juga ucapan Zian untuk jangan pulang dulu ke rumahnya. Bella menjadi menyesal saat mengingat hal itu. seharusnya ia patuh dan sadar bahwa dari awal Zian itu berniat baik kepadanya.
Dalam hati ia terus berdoa dan memanggil nama Zian. Berharap laki-laki itu akan menolongnya saat ini.
"Zian.. tolong aku.."
Pria itu semakin mendekat. Bella langsung siap siaga dan lari dari sisi yang berlawanan namun ia kalah cepat saat pria itu berhasil mencekal lengannya. Bella langsung panik dan berusaha menarik tangannya.
"Lepaskan aku.."
"Bella, mari bermain dengan ku sebentar.."
***
Halo pembaca sekalian.. kita bertemu lagi pada chapter berikut ini...
Sebenarnya Nana mau ngumpulin dulu banyak-banyak Chapter lalu baru post. Maunya sih cerita ini cepat tamatnya muehehhehehhe.. tapi ada juga temen yang hampir setiap hari, bukan! Setiap jam pelajaran nyuruh ngeupdate ni cerita..-_-" ngechat juga.. Bahkan ada juga nanya yang Ceye juga kapan update... adududuh kerjaan makin banyak ...
Nggak apa-apa Nana seneng kok. Doain aja biar semuanya cepat kelar
Chapter ini sedikit panjang kan??
Jangan Lupa VOTE DAN KOMENTAR>> Semoga kalian menyukai cerita ini....
Salam kenal dan jumpa lagi di cpater berikutnya..
Dadah...
KAMU SEDANG MEMBACA
TIME BLITZ
Dla nastolatków[TAMAT] Bella baru saja menjadi salah satu siswa di sekolah ternama di Jakarta. SMA Bakti Jaya yang banyak mendapat sorotan karena banyaknya prestasi. Namun di hari pertamanya pun, ia sudah mendapatkan masalah dan terlibat dengan Blitz. Salah satu...
