15. Nilai dari Keberanian

196 53 5
                                        

Chapter 15 : Nilai dari Keberanian.

Ruangan kepala sekolah terasa pengap seolah udara tidak bisa masuk disana. Apalagi dengan keadaan yang sangat mencekam bagi Bella. Ada sekitar 7 orang disana yang sedang mengawasinya dan Bella hanya bisa menunduk. Mengindari tatapan tajam yang dilontarkan kepadanya.

Rapat dibatalkan gara-gara Bella dan kini bukannya menyesali apa yang telah ia lakukan, Bella malah tersenyum bangga. Ia tidak sadar jika Kepala Sekolah di depannya semakin murka menatapnya.

"Sabrina Flora Arabella.. saya tanya sekali lagi, kamu masih niat sekolah atau engga?!" teriak Kepala Sekola. Bella memejamkan matanya sekilas kemudian mengambil napas dan mulai mendongak, ia akan mencoba untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Kepala Sekolah jika rapat itu diteruskan maka akan lebih hancurnya dari pada dibatalkan.

Tatapannya dengan Pak Kepala Sekolah bertemu. Jangan lupakan jika disana juga ada Alvaro yang juga menatapnya sinis.

"Sa-saya sebelumnya minta maaf Pak, ta-tapi sebenarnya saya ini menyelamatkan Bapak.." Bella mulai berbicara.

"Menyelamatkan?! Kamu baru saja membuat masalah!" Pak Kepala Sekolah membanting dokument yang Bella robek tadi tepat di depannya.

"Saya benar menyelamatkan Bapak. Seseorang dari kerabat Bapak ada yang ingin menjatuhkan Bapak." Jelas Bella.
Pak Yudi yang merupakan Kepala Sekolah itu terdiam beberapa detik detelah mendengar penuturan dari Bella. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke sekeliling dan mulai menatap orang-orang yang ada di ruangannya. Detik berikutnya ia terkekeh pelan.

"Kamu pikir kamu sedang berbicara dengan siapa? Jangan mengarang cerita! Sebenarnya apa motif mu menghancurkan rapat ini. Untung saja Menteri Pendidikan tadi tidak berpikir yang macam-macam tentang sekolah kita."

"Ayah." Panggil Alvaro tiba-tiba. Semua orang di ruangan itu kini menatapnya.
Alvaro berdiri dan berjalan ke arah Bella.

"Sebenarnya Bella ini sudah lama berniat menghancurkan rapat ini. Ia tadi memaksa ku untuk menghentikan rapat ini." Gumam Alvaro.

Bella menatap Alvaro dengan tatapan sulit untuk dimengerti.

"Justru sebenarnya dialah yang ingin menjatuhkan Ayah bukan kerabat Ayah." Lanjut Alvaro.

"Benar." Sambung Reza yang merupakan ketua komite yang juga turut hadir disana. Bella menatap Reza seolah memikirkan sesuatu.

"Jika memang ada orang yang ingin menjatuhkan Pak Yudi, apa kamu punya Bukti?" sambung Pak Reza. Bella terdiam beberapa detik seolah memikirkan jawaban apa yang tepat ia utarakan.

Orang-orang disana masih setia menunggu jawabannya.

"Saya memang mendengarnya. Seseorang yang berniat untuk menghancurkan Bapak sehingga posisi Bapak akan turun dengan cara ia menghancurkan rapat ini. Sebelum dokument ini sampai ke tangan Menteri pendidikan, orang itu sudah terlebih dahulu menukarnya dengan dokument palsu." Jelas Bella.

"Dan presentasi itu adalah hal yang buruk untuk ditampilkan. Sebelum Bapak Menarik kesimpulan, Bapak harus terlebih dahulu memeriksa berkas-berkasnya." Sambung Bella.
Untuk beberapa detik Pak Rudi dan seluruh orang di ruangannya terdiam.

"Di-dia bohong!" pekik Pak Reza tiba-tiba sambil menunjuk Bella.

"Pak Kepala, kita harus bertindak cepat. Anak ini harus segera diberi pelajaran."

"Aku setuju Ayah." Kata Alvaro. "Bella harus diskors beberapa Minggu. Atau dia harus dikeluarkan dari sekolah ini. Sebenarnya dari awal berada di Sekolah juga dia sudah membuat masalah dengan ku."

Bella membulatkan matanya, ia tidak menyangka Alvaro akan berkata seperti itu mengenai dirinya.

"De-dengar Pak, sa-saya.." Bella mencoba untuk menjelaskan.

"Bersiap untuk mengangkat kaki dari Sekolah ini Bella."

Tepat saat itu setetes air mata jatuh mengenai pipi Bella. Ia tidak menyangka niatnya untuk menolong akan menjadi kesialan seperti ini untuknya. Bella menggelengkan kepalanya dan terus mencoba untuk menjelaskan kepada Kepala Sekolah bahwa niatnya yang sebenarnya bukanlah seperti yang ia pikirkan.

Pak Kepala Sekolah tidak memperdulikannya dan mulai berjalan pergi dari sana. Bella terduduk sedih. Jika memang ini yang ia dapatkan, maka mungkin tidak apa. Yang perlu ia lakukan adalah menerima kenyataan.

***

Spesial untuk pembaca saya yang setia menunggu. Nana bakalan update sebanyak-banyaknya dalam waktu dekat ini. Maaf jika telat update karena Nana sibuk banget. Maaf kalau banyak typo nanti Nana benerin deh, soalnya buru2 banget..
Author mau ngetik chap berikutnya jadi cukup sampai sini cuap-cuapnya. Jangan lupa VOTE DAN KOMENTARNYA YAHHH>>>> see you

TIME BLITZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang