27. Sidang

182 38 15
                                        


Bella mendapatkan nomor handphone Asyila dari beberapa kakak kelas yang ia kenal dan saat itu ia langsung menghubungi nomor Asyila dengan modal keberanian ia ingin mengajak gadis itu untuk sedikit berbicara mengenai kasus yang terjadi di sekolah tadi.

2 jam ia menunggu di kafe yang telah mereka janjikan. Ia sudah memesan 3 gelas capucino dan 1 piring cheese cake tapi Asyila belum juga menampilkan batang hidungnya.

Bella berdiri dari tempat duduknya hendak pergi membayar pesanannya di kasir sebelum suara pintu kafe itu terbuka.
Bella memusatkan pandangannya dan melihat seorang gadis dengan setelan feminin berjalan ke arahnya dengan senyum tipis di wajahnya.

Bella langsung mengurung niatnya dan kembali duduk sampai Asyila menghampiri dan duduk di depannya.

"Sudah lama ya.." ucapnya membuka pembicaraan.

Bella ingin tertawa. Jelas sekali lama, ia bahkan sudah berapa kali mengumpat dalam hatinya.

"Nama mu.. Bella kan?" tanyanya lagi seolah tidak memperdulikan dengan pertanyaan awal yang belum mendapatkan jawaban.

Bella sedikit mengangguk. "Iya.."

Asyila sedikit terkekeh. "Benar, kamu cukup terkenal dikalangan kami makanya aku terkejut waktu kamu menghubungi ku.."

Bella ikut tersenyum. Ya,, fake smile.

"Jadi apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan?" Entah mengapa Bella merasa ekspresi hangat yang Asyila tunjukan sebelumnya hilang saat pertanyaannya barusan.

Bella mengaduk-aduk sedotan di dalam capucino itu sebelum menarik napas.

"Ini mengenai Elle, Kak Asyila mengenalnya kan?"

Asyila tersenyum sarkastik.
"Kenapa membahasnya? Kamu teman gadis itu?" Tanyanya balik.

Bella mengangguk.
"Aku yakin pasti ada kesalah pahaman disini, tidak, maksud ku Elle tidak bersalah Kak."

"Tidak bersalah kata mu? Guyonan macam apa ini.."

"Aku, aku cuma berharap Kakak bisa memikirkan ini. Elle benar-benar tidak bersalah sekarang ia dalam masalah mental karena stress dan juga trauma. Jadi ku harap Kakak bisa membantu dalam proses sidang Elle nanti." Jelas Bella berusaha meyakinkan Asyila. Tapi sepertinya ia salah. Asyila menanggapi omongannya hanya seperti angin lalu, menatapnya saja ia tidak.

"Kenapa minta tolong kepada ku? Kenapa tidak mencari pengacara yang hebat saja? Paling tidak bisa meringankan hukumannya.."
Asyila menyenderkan punggungnya di badan kursi sambil memainkan handphonennya.

"Hanya Kak Asyila.. Kak Fauzi koma di Rumah Sakit. Kami tidak bisa mendapatkan bukti darinya.."
Bella masih kukuh.

Asyila menarik napasnya kemudian berdiri sambil memasang wajah datarnya. Bella ikut berdiri.

"Jadi hanya ini yang ingin kamu bicarakan?"

"Kak tolong tunggu se.."

"Kamu membuang waktu ku Bella. Ku pikir kami gadis yang menarik makanya aku datang kesini.." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Bella.

Bella ingin mengejarnya tapi ia takut Asyila hanya akan menjadi kesal dan bisa saja benci.

Ia mengambil tas kecilnya dan berjalan ke kasir disaat yang sama seseorang masuk ke kafe dan berjalan cepat menghampiri Bella.

Bella yang baru selesai menutup dompet sempat terkejut saat ia menarik tangannya keluar.

"Hey, apalagi sih.." Bella menarik tangannya dan langsung memukul punggung laki-laki itu saat mereka berada di luar kafe.

TIME BLITZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang