"Prakkk!!!!! ", suara keras saat William memukul meja kerja di depan nya. "Bisa mati bosan jika seperti ini terus menerus," teriak William.
Seorang pria tua dengan kaca mata tebal nya terkejut kaget. Sejak mereka kembali ke New york ruang tengah rumah mereka di sulap menjadi tempat belajar, Franco membayar seorang dosen profesional untuk mengajar mereka bertiga.
"Bersabarlah , ingat janji mu pada iblis tua," kata Sergey lirih.
Selama satu minggu mereka tertekan tanpa ada kemajuan apa pun . Mereka frustasi.
Franco si iblis tua seorang yang biasa memanipulasi, dia sadar cara seperti ini tidak akan berhasil. Mereka bertiga harus dipisahkan , belajar teori saja akan membuat mereka semakin tertekan. Terakhir Franco melihat wajah Andrew yang berubah terlihat bloon dan sangat tertekan.
SERGEY POV
Sungguh membosan kan, tinggal di kota penuh gemerlap hiburan malam seperti Las Vegas, tetapi seperti di penjara. Tiap pagi harus membaca surat kabar bisnis di awasi seorang Profersor tua dan pergerakan angka-angka yang tidak ku mengerti pembicaaran sambil minum kopi.
Pagi hingga siang menjalani hidup monoton , belajar bisnis didampingi oleh guru yang dibayar mahal oleh Iblis tua. Aku bukan dari keluarga berpendidikan yang rela membuang banyak uang untuk belajar bisnis yang menurutku tidak penting.
Setelah mengetahui jumlah uang yang dikeluarkan , aku merasa sayang jika aku bermain-main. Aku tekun mengamati dan berusaha mengingat tiap ilmu yang guru itu berikan.
Wajar saja jika aku bertemu Igor dengan wajah tertekan nya saat awal hidup bersama , mungkin si Iblis Tua juga memaksanya seperti aku sekarang, memang harus di akui saat rapat di London Igor mengeluarkan banyak pendapat luar biasa yang saat itu sedikit pun ide seperti itu tidak ada terlintas di otak ku. Jika adik ku bisa menjalani aku harus bisa , aku harus hidup mengikuti perkembangan jaman. Menjadi pemburu bayaran tidak mungkin jauh dari resiko kematian di suatu saat.
Meskipun bosan aku merasa beruntung, menjadi kekasih si kembar yang memiliki keluarga yang sangat memperhatikan kami.
Semoga hubungan kami akan seperti ini terus menerus sampai kapan pun.
Satu hal yang paling menyiksaku harus berpisah dengan kedua kekasih nya, kebiasaan dada ku dipakai mereka bersandar saat tidur sekarang kosong . Satu bulan seperti satu tahun. Nafsu ku terus naik merindukan mereka, merindukan kejalangan mereka . Waktu kujalani dengan penuh kegiatan , bahkan untuk menuntaskan hasrat ku dengan tangan ku sendiri hanya satu kali dalam satu bulan. Itupun kurasakan hampa, nafsu ku menjerit-jerit menginginkan si kembar.
Bayangan si kembar terus menganggu ku , entah apa yang mereka lakukan sekarang.
Menjelang sore aku harus menemani si Rubah Tua bersama kekasih ya Amed. Selalu saja ada masalah di kasino, hotel , atau tempat hiburan nya . Aku merasa semua masalah sengaja di buat untuk membuatku tertekan, bahkan Alberto tidak membantu ku sedikit pun , semua di lemparkan ke pundak ku untuk menyelesaikan nya.
Bahkan sifat jalang yang tidak tahu diri seolah memancing birahi ku, Alberto selalu bermesraan tanpa rasa malu di depan ku, baik di ruang kantor tertutup , maupun di publik area seperti kolam renang atau gay bar.
Amed pun tidak sadar kalau usia nya sudah tidak muda lagi, dengan tidak tahu malu sengaja membuka baju memamerkan otot six pact nya menari di gay bar. Para pecinta sejenis bersorak saat Amed berlaku seperti itu. Memang jujur tubuh ku tidak sekekar dan sexy Amed, tetapi dalam hati jika para pria gay berjajar berbaris untuk memilih kami berdua yang telanjang pasti peminat terhadap ku jauh lebih banyak dibanding pria tua itu , itu yang terpikir oleh ku, "sesombong itukah diri ku, he..hehe..hee", aku tertawa sendiri. Meskipun belum tentu terbukti kebenaran nya , jika para pria yang berjajar itu memiliki mata rabun semua dan hanya mengunakan tangan dan meraba saja mungkin tidak ada seorang pun yang memilih ku walaupun aku lebih muda dan tampan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS AZRÆL
Fiksi Umum( Bacaan untuk orang dewasa ) Jeritaan kepuasan nafsu mereka selalu dibarengi dengan jeritan kematian lawan bercinta nya. Mereka berdua selalu memilih korban nya yang menurut mereka layak menerima hukuman akibat dosa -dosa yang mereka lakukan. Sepe...
