Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

3. Awal Petaka

6K 295 0
                                        

Malam nanti, sekolah Viona akan mengadakan acara prom night atau malam perpisahan setelah hari kelulusan. Sesekali, Viona melirik jam dinding kamarnya yang bergerak menuju angka setengah enam sore. Ia mengobrak-abrik isi lemarinya untuk menemukan dress yang cocok untuk dikenakannya nanti malam. Sudah hampir setengah jam lebih ia memilah-milah pakaiannya, namun ia belum menemukan pakaian yang cocok. Ia mengacak rambutnya kesal.

"Aduhh... Gimana ini?! Aku belum nemui dress yang cocok, nih." gerutunya kesal. Lalu, pandangannya terjatuh pada sebuah dress selutut warna putih gold yang tergantung di lemarinya dan terbungkus plastik. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambilnya. Ia meneliti sejenak dress anggun itu. Ia ingat, dress ini adalah hadiah dari ayahnya waktu ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu dan belum pernah dipakainya, hanya dicoba saja. Dress itu terlihat cantik dengan beberapa hiasan payet dan mutiara yang menghiasi bagian dadanya serta pita yang manis di bagian tengah-tengah perut. Ia tersenyum. Sepertinya, ia harus memakai ini nanti.

"Yes! Sepertinya ini terlihat cocok. Lagian, aku belum pernah makenya." komentarnya sambil tersenyum.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Acara akan dimulai pukul delapan malam. Setelah selesai melaksanakan sholat maghrib, ia segera bergegas untuk berdandan. Ia segera mengganti bajunya dengan dress tadi yang tergantung di pintu lemarinya. Ia sudah tak sabar untuk segera mengenakan pakaian itu. Pakaian itu terlihat pas di tubuh indahnya. Ia memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Ia tersenyum lebar dan terus mengamati penampilannya saat ini di depan cerminnya sampai tak sadar pintu kamarnya terbuka tanda seseorang masuk.

"Cieee..., yang udah tampil cantik. Mau ketemu gebetannya ya di sana?" goda Ira sambil tersenyum dan berjalan meghampiri adiknya. Viona menolehkan wajahnya dan tersenyum.

"Kakak kepo aja!" Ira hanya tertawa.

"Bener, 'kan? Kelihatan Vi wajahnya kayak tomat gitu." Viona hanya tersenyum tipis. Memang iya ia ingin tampil cantik nanti saat bertemu Dio di sana.

"Mau gak di-make up-nya?" tanya Ira. Viona mengangguk.

"Iya. Ayo dong, Kak! Takut telat nanti. Cewek kan ribet." Ira mendengus dan berjalan mendekati adiknya di meja rias.

"Huh! Kayak artis yang mau show di panggung aja." Viona hanya tertawa pelan. Ira mengambil kursi kecil dan duduk menghadap adiknya. Ia mengambil face spray dan menyemprotkan ke wajah Viona.

"Tadi Kak Naufal ke sini, Kak. Kakak udah nemuin dia belum? Dia kan udah nunggu lama." Ira mengangguk.

"Udah, kok."

"Kalian ngobrol apa aja?" tanyanya penasaran. Ingin tahu aja bagaimana reaksi mereka.

"Ya, gitu. Seputar aktivitas sehari-hari aja. Tentang aku, juga dia." Viona menatap wajah kakaknya. Raut wajahnya biasa saja, tidak berbinar.

"Kakak tahu, gak? Kak Naufal itu suka sama Kakak. Emangnya Kakak gak sadar, ya?" Ira yang sedang mengoleskan foundation ke wajah Viona menghentikan kegiatannya sejenak. Ia terdiam sejenak dan mengedikkan bahunya.

"Aku tahu dia suka merhatiin aku. Tapi ya..., kalau hati Kakak meresponnya biasa aja, ya mau gimana lagi?"

"Kakak nyoba dong deket sama dia. Dia udah mapan dan siap nikah juga." Ira hanya tersenyum tipis.

"Gak tahu, Vi. Aku hanya ingin fokus nyelesain kuliah aja sekarang. Urusan nanti kalau itu." ucapnya. Viona hanya mengangguk saja. Mungkin memang kakaknya tidak ada hati dengan Naufal. Kakaknya persis seperti bundanya, sedikit cuek seperti sang ayah. Intinya, kakak cantiknya itu adalah perpaduan keduanya, kalem tapi tetap murah senyum dan tidak pelit bicara seperti kakak kembarnya yang laki-laki.

Red In The SilenceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang