Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

30. Cinta Atau Nafsu?

7K 303 4
                                        


Viona merasa ada yang aneh dengan suaminya sejak kepulangan dari rumah orang tuanya beberapa jam yang lalu. Selama perjalanan pun mereka lebih banyak diam dan sedikit obrolan di antara mereka. Dio hanya menjawab ocehan putranya sesekali dan menjawab pertanyaannya singkat tanpa menoleh sama sekali ke arahnya.

Saat sudah tiba di rumah pun suaminya langsung menuju kamar dan tidur di ranjang mereka. Saat makan malam bersama tiba Dio masih tetap bungkam hingga Viona malas untuk terus bertanya lagi. Ada apa dengan suaminya? Apa ada sesuatu yang ayahnya atau kakaknya bicarakan tadi kepadanya tanpa sepengetahuannya? Lebih baik ia langsung menanyakan saja pada suaminya tentang masalah yang mengganjalnya. Ia mengikuti Dio menuju kamar mereka.

"Dio...." panggilnya.

Lelaki itu menolehkan wajahnya sekilas dan memalingkannya lagi. Viona menghela nafasnya. Pasti sedang ada sesuatu yang menganggu pikiran Dio saat ini. Ia mendekati suaminya yang kini sudah duduk di ranjangnya.

"Semenjak pulang dari rumah Bunda tadi, kamu lebih banyak diam. Apa kamu ada masalah? Cobalah ceritakan padaku. Aku gak tahu masalahnya apa kalau kamu gak cerita dan terus mendiamkan aku kayak gini."

Terselip nada kesal dan sedih dalam suaranya. Ia tak enak didiamkan seperti ini tanpa tahu sebabnya. Dio menghentikan aktivitasnya memainkan ponselnya dan menatap Viona. Langsung disimpannya ponselnya di atas nakas dan mendekati istrinya hingga jarak mereka semakin menipis. Ia menatap intens manik hitam Viona.

"Aku gak suka lihat kamu dekat dengan lelaki lain." Viona mengerutkan keningnya tak paham. Apa maksud suaminya?

"Maksud kamu siapa? Aku dekat dengan siapa?" Dio masih menatap serius mata indah istrinya.

"Dia, dia lelaki yang berbicara berdua denganmu tadi di rumah Bunda. Teman kamu itu." Viona mencoba mencerna ucapan suaminya. Tiba-tiba ia teringat dengan Ehsan.

"Ehsan maksud kamu? Ya Allah, Dio... Dia temen aku. Kami gak ngobrol apa-apa, cuma membahas kabar, pekerjaan, dan waktu-waktu aku, Debora, dan Dave di sana selama kuliah. Itu aja, gak ada yang lain." jelasnya mencoba meyakinkan suaminya. Dio masih diam masih dengan wajah seriusnya.

"Tapi dia menyukaimu. Apa kalian pernah menjalin hubungan sebelumnya?"

Viona menghela nafasnya. Ia merasa suaminya berubah posesif setelah menikah. Tapi ia rasa bahwa mereka harus saling terbuka satu sama lain agar tidak ada kesalahpahaman ke depannya. Ia menarik nafas sejenaknya.

"Ia memang pernah menyatakan perasaannya dulu waktu aku masih mengandung Arvi. Dia menawarkan dirinya untuk menjadi ayah bagi Arvi, tapi aku menolaknya karena aku hanya menganggap dia tak lebih dari sahabat yang sudah begitu banyak membantuku selama di sana. Dia sudah berjasa dalam hidupku, tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa selain sebuah persahabatan." jelasnya.

Dio menggeram kesal saat mendengar bahwa lelaki bernama Ehsan itu hampir merebut istrinya dan anaknya itu. Ia marah pada dirinya sendiri yang terlambat mengetahui keberadaan mereka berdua. Untungnya Viona tak menerima cinta lelaki itu, sehingga Viona dan putranya tak jatuh ke tangan orang lain. Entah apa yang dirasakannya kalau ia mengetahui Viona sudah dimiliki oleh lelaki lain beserta putranya.

Ia tak bisa membayangkannya jika ia benar-benar kehilangan mereka. Ia berterima kasih pada Tuhan yang masih memberikannya kesempatan untuk memiliki Viona dan Arvi dalam hidupnya sehingga ia bisa menebus waktu yang terbuang selama ini dengan memberikan mereka kebahagiaan dan kasih sayang yang ia punya. Viona merasa takut dengan tatapan suaminya yang mengintimidasinya.

"Kamu harus tahu, kamu milikku sekarang dan selalu." ucapnya tegas, lalu tanpa diduga Dio langsung menyambar bibir istrinya yang membuat Viona terkejut dengan aksi suaminya.

Red In The SilenceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang