Beberapa tahun kemudian ....
Anak-anak kecil berseragam merah putih berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Jam pulang sekolah telah tiba. Viona berjalan di antara kerumunan untuk mencari jagoan kecilnya menuju kelasnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman sekolah yang luas. Biasanya putranya selalu menunggunya di pos depan gerbang. Ia mulai khawatir kala anaknya tidak ada di sana. Ke mana anaknya? Ia berpapasan dengan guru anaknya yang baru keluar dari kelas.
"Maaf, Bu. Apa Arvi masih ada di dalam?" tanyanya kepada wanita berhijab yang merupakan guru wali kelas anaknya. Wanita itu menggeleng.
"Kelas sudah kosong, Bu. Semua anak sudah bubar. Tadi saya juga lihat Arvi keluar kelas." Viona mulai panik. Ia takut anaknya hilang.
"Mungkin dia sudah menunggu di depan, Bu." Viona menggeleng.
"Tadi saya gak lihat di tempat biasa dia nunggu jemputan. Saya kira masih di kelas. Yaudah kalau begitu, terima kasih ya, Bu." guru itu mengangguk. Viona berpamitan dari sana setelah menemukan putranya tidak ada di sana juga. Ia mulai gelisah dan takut Arvi diculik.
"Ya ampun, Arvi... Kamu di mana, Nak?" gumamnya sambil terus mencari keberadaan putra kesayangannya itu. Tiba-tiba pandangannya menangkap seperti sosok anaknya yang duduk sendiri di bangku taman dengan bahu yang terlihat seperti bergetar naik turun. Segera ia menghampirinya dengan setengah berlari.
"Ya Allah, sayang... Kamu kenapa, Nak?" Viona tersentak kaget kala melihat putranya yang bersimbah air mata. Langsung ia duduk di sampingnya dan meraihnya ke dalam pelukannya.
"Mama nyariin kamu ke mana-mana, sayang. Mama udah panik takut kamu diculik. Apa yang terjadi sama kamu, Nak?" ia melepaskan pelukannya dan memegang wajah putranya yang basah karena air matanya. Hatinya sakit sekali melihat air mata itu. Pasti sudah terjadi sesuatu dengan putranya.
"Cerita sama Mama! Apa ada yang jahatin kamu?" tanyanya menyelidik. Anak itu masih sesenggukan tak menjawab. Viona menghela nafasnya. Ia semakin yakin jika putranya baru saja mendapat hal yang tidak menyenangkan. Ia mengelus lembur rambut putranya.
"Yaudah kalau kamu belum mau cerita. Sekarang kita pulang, yuk! Jangan nangis! Nanti Mama beliin kamu es krim." bocah itu hanya mengangguk. Viona segera menggiring putranya dari sana untuk meninggalkan area sekolah yang mulai sepi.
***
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh Alika yang menatap putri dan cucunya heran. Arvi menyalami neneknya yang memandangnya dengan raut penuh tanya. Alika menatap Viona meminta penjelasan. Viona menarik nafasnya sejenak.
"Tadi aku nemuin dia lagi nangis sendirian di bangku taman sekolah. Aku udah panik Bun nyari dia waktu dia gak ada di pos gerbang tempat dia biasanya nunggu. Eh, tahu-tahunya anakku lagi nangis. Aku gak tahu apa yang bikin dia nangis. Dia belum mau cerita." jelasnya. Alika menatap cucunya sejenak.
"Apa dia ada masalah dengan temannya?" Viona mengedikkan bahunya.
"Aku gak tahu, Bun. Nanti aku akan bujuk dia buat cerita." Alika hanya mengangguk.
"Bawa dia ke kamarnya! Temenin dulu sebentar. Dia lagi butuh kamu." Viona mengangguk mendengar saran bundanya. Lalu, ia mengajak putranya untuk menuju kamarnya. Viona mengikuti putranya masuk ke dalam kamarnya yang dipenuhi dengan poster-poster gambar robot dan mobil, juga mainan yang disimpan dalam keranjang besar di sudut kamarnya. Ia ikut duduk di ranjang putranya yang kecil dengan seprei bergambar kartun Upin & Ipin. Ia mengelus lembut rambut putranya sampai ke punggungnya.
"Arvi, sayang... Kamu sayang kan sama Mama?" tanyanya lembut. Arvi hanya mengangguk. Viona tersenyum tipis.
"Kalau kamu sayang Mama, kamu mau kan cerita sama Mama kenapa kamu tadi nangis sendirian?" bocah itu terdiam sejenak, lalu ia segera menolehkan wajahnya dan memandang wajah ibunya. Viona tersenyum lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red In The Silence
RomanceSejak pertama masuk SMA, Viona memendam sebuah rasa kepada teman sekolahnya, Dio. Mengamati dan mengagumi dalam diam meski sang pujaan hati tak pernah melihatnya. Mencoba bertahan menjadi sosok tak terlihat, dekat tapi seakan jauh untuk tergapai. Hi...
