Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

26. Marry Me, Please!

5.5K 294 0
                                        

"Ssshhh...." Viona membantu Dio untuk duduk di ranjangnya. Pelipis lelaki itu diperban dan wajahnya penuh luka lebam dan bengkak. Setelah insiden pemukulan yang dilakukan oleh kakaknya tadi di rumahnya, Dio langsung dilarikan ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan karena lukanya. Kakaknya tidak kira-kira menghajar Dio. Bagaimana kalau sampai Dio tewas? Ia tak sanggup membayangkannya. Ia paham jika Ian sampai semurka itu dan menghajar Dio atas apa yang sudah lelaki itu lakukan pada adiknya.

"Jangan banyak gerak dulu! Lukamu belum kering." peringatnya. Dio menatap wajah wanita di sampingnya. Ia sadar, ia sudah begitu berdosa padanya selama ini.

"Viona...." Viona mendongakkan kepalanya dan menatap lelaki itu. Ia tersentak dan mengalihkan pandangannya pada tangannya yang disentuh oleh Dio. Tangan kekar itu menggenggamnya hangat, menimbulkan rasa asing yang nyaman dan menenangkan hatinya.

"Izinkan aku menikahimu. Biarkan aku menebus semua waktu yang telah kamu lewati selama ini tanpaku." Viona terdiam. Matanya terpaku pada sorot di manik hitam yang sedang menatapnya serius itu. Tak dipungkiri ia tetap terkejut meski bukan pertama kali lelaki itu memintanya untuk menikah dengannya.

"A-aku...." Dio menatap Viona memohon.

"Izinkan aku untuk membahagiakanmu, Viona. Kita akan memberikan orang tua yang utuh untuk anak kita. Dia butuh kita berdua." Viona menatap Dio. Ia sungguh terharu.

"Tapi..., tapi kamu tidak mencintaiku, Dio. Bagaimana kita bisa menjalani pernikahan ini?" ucapnya bingung. Ia terlalu bingung akan semua ini. Dio menatap Viona.

"Kita bisa jalani ini dengan baik. Entah apa yang aku rasakan sekarang, tapi semenjak 7 tahun itu, aku menyadari, aku membutuhkanmu di sisiku. Kamu boleh percaya atau tidak, tapi inilah adanya. Aku butuh kamu dan aku menginginkanmu, Viona." air mata meluncur dari mata indah Viona. Apa ia bisa menyimpulkan kalau lelaki itu juga mempunyai perasaan yang sama dengannya? Apa ia bisa menjamin jika harapannya dan penantiannya selama ini tak akan hancur sia-sia begitu saja?

"Kita akan membuka lembaran baru yang lebih indah dan lebih baik bersama anak kita. Tidakkah kamu lelah dengan semua ini? Harus terus menyembunyikan rahasia dan menutupi kebohongan-kebohongan yang lainnya. Aku ingin hidup tenang tanpa ada beban berat atau dihantui dosa-dosa itu lagi. Aku ingin hidup bahagia bersama istri dan anakku dengan bebas." Viona tak bisa menahan gejolak di dadanya. Menikah dengan Dio adalah impian yang selalu disimpannya di alam bawah sadarnya. Namun ia tak berani berharap karena kecil kemungkinannya lelaki itu akan menemukan dirinya. Dan kini, kesempatan untuk mewujudkan impian itu sudah ada di depan mata. Apakah ia harus menerimanya ataukah menyiakannya begitu saja?

"Akan aku pikirkan lagi nanti." jawabnya pada akhirnya. Dio tersenyum. Meski belum mengatakan setuju, tapi ia bisa membaca sinyal jika Viona sedang mempertimbangkan keputusan ini. Semoga kali ini Viona menerima lamarannya.

Ceklek ....

"Mama, Om Dio!" Dio dan Viona mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu yang terbuka. Dilihatnya Arvi yang berlari kecil ke arah mereka diikuti oleh sang oma. Mereka berdua tersenyum.

"Kamu berdua ke sininya, sayang?" tanyanya sambil memeluk tubuh mungil putranya. Bocah itu mengangguk.

"Dia udah gak sabar pengen segera ketemu kalian." ucap Alika. Wanita itu menatap Dio sejenak.

"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanyanya lembut. Tak ada emosi sedikit pun dalam suaranya. Dio tersenyum. Ia tahu, bunda Viona memahami mereka.

"Alhamdulillah sudah agak baik, Tan." Alika mendesah lega. Ia sudah khawatir kala melihat kondisi Dio saat dibawa ke rumah sakit akibat serangan putra sulungnya. Ia takut terjadi apa-apa dengan lelaki itu. Tak ada gunanya ia menyalahkan Dio karena faktanya baik Dio ataupun putrinya sama-sama korban di sini.

Red In The SilenceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang