Setelah pertemuan mereka 2 minggu yang lalu, Dio semakin dekat dengan putranya yang juga secara tak langsung dekat dengan Viona. Ia juga sering mengirim uang untuk Arvi dan membeli buku, mainan, atau kebutuhan lainnya untuk sang putra. Viona sempat menolaknya dan Dio tak menerima penolakan. Ia melakukan ini sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. Viona tak bisa berkata apa-apa lagi karena memang benar apa yang dilakukan Dio, bahkan lelaki itu pantas melakukannya setelah bertahun-tahun ia menelantarkan mereka meskipun tak sengaja karena Viona tak memberitahukan kehamilannya sebelumnya. Dio juga mengulangi permintaannya untuk menikahi Viona yang saat ini belum kunjung ada jawaban dari wanita itu. Viona belum siap memberitahukan semuanya kepada kedua orang tuanya tentang ayah kandung putranya, tapi Dio tak pernah menyerah. Arvi juga terlihat semakin nyaman dan lengket dengan Dio yang membuat Viona semakin dilema antara harus menerima lamaran Dio atau menolaknya. Ia tahu, Dio ingin menikahinya karena putra mereka membutuhkan orang tua yang lengkap dan juga kejelasan statusnya di mata hukum dan agama. Tapi Viona tak ingin semakin tersakiti dengan menjalani pernikahan sepihak ini. Sampai kapan mereka harus berpura-pura seperti kedua insan yang saling mencintai demi untuk menyenangkan putra mereka? Hari ini, kantor akan mengadakan acara liburan ke puncak dan menyewa sebuah villa di sana. Viona sudah bersiap-siap dengan perlengkapannya untuk menginap di sana. Viona menoleh ke arah putranya yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan tatapan sedih. Ia tersenyum dan menghampirinya.
"Mama gak akan lama, sayang. Ada Oma, Opa, sama Om Nino. Suka ada Tante Ira dan Dedek Liana juga kan di sini? Jangan sedih gitu, ah! Nanti gantengnya ilang." ucapnya sambil mengusap lembut wajah putranya.
"Nanti gak ada yang bacain celita." Viona tersenyum.
"Kamu bisa minta Oma nanti. Mama cuma satu hari aja kok, gak lama." Arvi mengangguk tak rela. Ia tak biasa berjauhan dengan mamanya meski hanya sehari.
"Anak sholeh! Sekarang kita kebawah, ya?!" pintanya mengajak putranya untuk menuju ke bawah.
Viona berpamitan kepada kedua orang tuanya sembari menitipkan putranya. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan putranya, tapi ia tak enak dengan karyawan lainnya juga bosnya kalau ia tak ikut. Ia juga tak memungkiri kalau ia butuh refreshing akibat beban dan stress yang menyerangnya saat ini.
"Bun, Yah, aku titip Arvi sehari, ya! Kalau dia gak nurut di tegur raja. Aku pamit dulu." pamitnya sambil menyalami kedua orang tuanya. Alika mengelus lembut rambut putrinya.
"Hati-hati ya, Nak! Kabari kami kalau udah sampai!" Viona mengangguk.
"Iya, Bun. Aku pergi dulu, Assalamualaikum. Jagoan Mama baik-baik ya di sini! Mama pamit dulu." ucapnya kepada putranya. Arvi hanya mengangguk. Lalu, ia segera berlalu dari sana menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Arvi menatap kepergian mamanya tak rela.
"Jangan cemberut gitu, dong! Mau ikut Opa sama Oma gak ke kebun binatang sekarang?" tanya Nathan kepada cucunya. Wajah bocah itu langsung berubah cerah kala mendengar kata jalan-jalan.
"Mau, Opa!" Nathan dan Alika tersenyum. Tak susah untuk membujuk Arvi untuk menghilangkan kesedihannya karena ditinggal sementara oleh mamanya.
"Gitu, dong! Sekarang kamu siap-siap, ya! Kita berangkat bentar lagi." Arvi tersenyum lebar.
"Yeee...! Asyik!" serunya sambil berlari menuju tangga ke arah kamarnya di lantai atas. Nathan dan Alika hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucu mereka.
***
Rombongan bus yang membawa para karyawan kini sudah tiba di daerah puncak. Viona merapatkan sweater-nya karena rasa dingin yang begitu menusuk kulit. Udara segar dan sejuk begitu kental terasa kala mereka menginjakkan kaki di sana. Viona memandang takjub pemandangan segar nan hijau yang terbentang luas di dataran tinggi itu. Tak salah pilihannya untuk mengikuti acara liburan ini meski harus meninggalkan anak untuk sementara waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red In The Silence
RomanceSejak pertama masuk SMA, Viona memendam sebuah rasa kepada teman sekolahnya, Dio. Mengamati dan mengagumi dalam diam meski sang pujaan hati tak pernah melihatnya. Mencoba bertahan menjadi sosok tak terlihat, dekat tapi seakan jauh untuk tergapai. Hi...
