Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

17. Dua Hati Yang Bertautan

4.7K 255 2
                                        

Suasana ramai dan lalu lalang di kantor pagi ini menunjukkan permulaan kesibukan dari masing-masing individu yang berkutat dengan aktivitasnya sendiri. Dio melenggang berjalan menuju lift dan masuk bersama karyawan lainnya. Saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba seorang gadis berteriak untuk mencoba menghentikan pintu lift yang akan tertutup sebentar lagi.

"Tunggu bentar!" serunya sambil menyeruak masuk ke dalam kerumunan dengan tergesa-gesa. Nafasnya terlihat ngos-ngosan. Gadis itu melirik ke sampingnya dan mendapati Dio. Ia mencolek lengan Dio yang sedang fokus pada ponselnya. Dio menoleh.

"Eh, Dio. Ketemu kamu di sini." sapanya sambil tersenyum. Dio balas tersenyum.

"Hai, Ki. Kenapa kelihatannya terburu-buru?" gadis bernama Kiki itu tersenyum tipis.

"Aku tadi kejebak macet di jalan. Takut telat ke kantor. Sumpah, tadi macetnya parah, Di." curhatnya. Dio mengangguk.

"Iya. Ada polisi tadi. Jadinya macet." Kiki mengangguk. Tak lama, pintu lift terbuka dan mereka keluar dari sana. Dio berjalan beriringan dengan Kiki yang merupakan teman satu ruangannya.

"Eh, Di. Nanti pulang ada acara, gak?" tanya Kiki. Dio menolehkan wajahnya dan menggeleng.

"Enggak, Ki. Kenapa?" gadis cantik itu tersenyum tipis.

"Kamu mau gak nemenin aku ketemuan reuni sama teman-teman kuliah aku dulu? Mereka datang berpasangan, aku kebetulan gak ada pasangan. Kamu mau gak nemenin aku sebagai pasangan aku di depan mereka?" Dio sedikit terkejut dengan permintaan Kiki. Ia merasa ragu. Kalau menolak, ia merasa tak enak dengan Kiki. Kalau mengiyakan, ia takut memberi harapan dan sinyal yang bisa disalahartikan oleh gadis itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Please ya, Di... Cuma sekali ini aja." pintanya dengan nada memohon. Dio merasa tak enak. Akhirnya, ia mennyetujuinya. Kiki tersenyum.

"Thanks ya, Di." Dio hanya tersenyum tipis. Lalu mereka berjalan masuk ke dalam ruangan mereka.

Pukul tujuh malam ini, Dio sudah bersiap-siap untuk berangkat memenuhi permintaan Kiki untuk menemani gadis itu. Ia memacu motornya menuju rumah Kiki untuk menjemput gadis itu. Setelah sampai di depan rumah Kiki yang lumayan besar dan bagus, dilihatnya gadis itu yang sudah siap dengan dress selutut merah maroon dan tas Hermes putihnya serta heels putih yang senada. Kiki terlihat begitu cantik dan menawan malam ini dengan riasan naturalnya dan rambutnya yang digerai dengan jepit berkilau yang menghiasinya. Namun entah kenapa itu semua tak mampu membuat hati Dio bergetar meski ia akui penampilan gadis itu memang sempurna di matanya. Kiki tersenyum dan berjalan menghampiri Dio.

"Ayo, Di!" Dio mengangguk.

"Orang tua kamu sudah tahu?" tanyanya. Kiki mengangguk setelah naik di jok belakang Dio. Kiki mengangguk.

"Iya. Mereka udah ngizinin, kok. Tadi mereka nanyain kamu. Lain kali mampir ya ke rumahku?!" pintaya. Dio hanya tersenyum kikuk. Motor pun melaju membelah jalanan yang tidak terlalu padat seperti siang hari. Dio merasa gelisah kala tangan putih mulus Kiki melingkar erat di perutnya. Jantungnya berdegup tak karuan.

Mereka pun sampai di sebuah restoran di mana acara reuni diadakan. Dio memarkirkan motornya dan mereka turun menuju ke dalam restoran di mana teman-teman mereka sudah menunggu. Dio berjalan di samping Kiki. Gadis itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah kumpulan yang berada di pojok. Ia mengikuti gadis itu ke sana.

"Hai, girls. Gue kangen banget kalian." ucapnya sambil bercepaka-cepiki dengan teman-temannya. Di antaranya ada yang membawa suami dan anaknya. Kiki mengajak Dio untuk duduk di tempat yang sudah tersedia.

Red In The SilenceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang