Pada awalnya, Dio hanya berencana untuk belanja kebutuhan sehari-harinya di supermarket ini. Ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan Viona dan putranya di sini. Ia senang bisa bertemu lagi dengan anaknya. Tapi sosok lelaki asing yang baru dilihatnya ada di dekat Viona membuat suasana hatinya menjadi kacau tak menentu. Lelaki mana lagi yang mendekati ibu dari anaknya itu?
"Om Dio? Om kenapa?" Dio kembali mengalihkan pandangannya pada bocah di hadapannya. Ia tersenyum.
"Om gak kenapa-napa, sayang. Emm, Om pulang dulu ya, sayang?! Nanti kapan-kapan kita maen lagi." ucapnya sambil mengelus sayang rambut hitam putranya. Arvi mengerucutkan bibirnya. Dio tersenyum dan mencubit pelan pipi putranya.
"Nanti kita ketemu lagi, kok. Kamu samperin Mama dulu ya, sayang! Om sayang kamu." ucapnya sambil mencium kening putranya dan langsung beranjak dari sana tanpa menoleh ke mana-mana lagi. Tak terdengar suara Viona yang memanggilnya. Lebih baik ia segera pergi dari sana daripada ia membuat keributan akibat emosi yang tak terkontrol. Setiap hal yang berhubungan dengan Viona membuatnya lebih sensitif. Viona memang membuatnya benar-benar gila.
Ia segera mengambil motornya di parkiran. Tujuannya saat ini adalah kediaman orang tuanya. Sudah saatnya ia mengakui semuanya kepada mereka. Apa pun yang akan terjadi nanti, ia siap menanggung resikonya. Ia harus menjadi lelaki sejati yang mempertanggungjawabkan segala yang sudah ia perbuat. Ia memacu motornya dengan kecepatan sedang sampai ia tiba di kawasan dekat rumahnya. Ia memasuki halaman rumahnya dan memarkirkan motornya di sana. Ia mengetuk pintunya.
"Assalamualaikum, Bu!" serunya dari balik pintu. Hatinya begitu gelisah, takut akan reaksi orang tuanya saat ia mengakui semuanya nanti.
"Walaikumsalam. Bentar, Di!" terdengar suara engsel dibuka. Dio menyalami tangan ibunya dan mengikutinya masuk ke dalam. Ia meremas tangannya gugup.
"Kebetulan kamu datang ke sini sekarang. Ada yang mau Ibu tunjukkin sama kamu." Dio mengerutkan keningnya mendengar ucapan ibunya. Kini ia menjadi penasaran dengan apa yang ingin ibunya tunjukkan kepadanya.
"Apa, Bu?" Ningrum tersenyum.
"Bentar! Ibu ambil sesuatu dulu." ucapnya sambil berjalan menuju kamarnya. Dio menunggu sebentar. Rasanya ia harus menunda dulu sebentar tentang apa yang ingin dikatakannya. Melihat wajah senang ibunya barusan, ia merasa tak tega jika ia harus melukainya dengan pengakuannya nanti. Tak lama ibunya datang kembali sambil membawa benda seperti selembar foto. Ningrum duduk di sebelah putranya.
"Ibu punya gadis kenalan yang Ibu rasa bakalan cocok dengan kamu. Coba perhatikan fotonya!" Dio memperhatikan selembar foto yang disodorkan ibunya. Foto seorang gadis manis yang berhijab panjang sampai batas perutnya. Dio akui gadis itu cukup menawan.
"Namanya Fitri. Dia putrinya temen Ibu. Dia guru TK dan baru lulus kuliah 2 bulan yang lalu. Gimana menurut kamu? Cantik, 'kan? Ibu yakin, dia calon yang cocok untuk kamu dan ibu setuju jika kamu pilih dia." Dio menghela nafasnya. Ini sudah ketiga kalinya ibunya mencoba untuk menjodohkannya dengan putri dari kerabat-kerabatnya. Dan pendirian Dio masih sama, ia tak bisa. Dan inilah saatnya ia harus mengakhiri semua rahasia yang menyiksa ini. Ada masa depan anaknya yang dipertaruhkan di sini.
"Bu...." panggilnya. Ningrum heran melihat tatapan serius putranya kepadanya. Seperti ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
"Ada yang ingin aku sampaikan sama Ibu." ucapnya masih menatap ibunya. Ningrum hanya diam menunggu apa yang akan dikatakan putra semata wayangnya itu. Dio menarik nafas sejenak, mempersiapkan mentalnya.
"Mungkin setelah mendengar ceritaku ini, Ibu akan menganggapku anak durhaka atau tidak berguna. Aku terima apa pun yang akan Ibu atau Bapak katakan nanti. Tapi aku harus mengatakan ini semua." perasaan Ningrum mulai tak enak. Ia merasa apa yang akan disampaikan oleh putranya itu bukanlah berita bagus. Dio menarik nafasnya sekali lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red In The Silence
RomanceSejak pertama masuk SMA, Viona memendam sebuah rasa kepada teman sekolahnya, Dio. Mengamati dan mengagumi dalam diam meski sang pujaan hati tak pernah melihatnya. Mencoba bertahan menjadi sosok tak terlihat, dekat tapi seakan jauh untuk tergapai. Hi...
