Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

4. I Lost My Everything For You

5.8K 317 1
                                        



Viona merasa ingin buang air kecil setelah lumayan lama menikmati serunya penampilan demi penampilan yang tersaji. Ia melirik Netta di sampingnya yang asyik menggerakkan tubuhnya semangat.

"Net, gue ke belakang dulu, ya?! Kebelet, nih."

Netta hanya mengangguk tanpa menolehkan wajahnya. Viona berjalan melewati keramaian untuk segera mencari toilet. Rasanya sudah tak tahan. Setelah sampai di toilet yang dicari, ia segera melaksanakan hajatnya. Setelah merasa lega, ia langsung keluar dari sana dan merapikan penampilannya di depan cermin di sana. Ia berjalan keluar dan samar-samar, ia mendengar suara orang yang sedang menahan sakit.

Ia mengedarkan pandangannya dan matanya tertuju pada seorang pemuda yang sedang mengerang menahan sakit di tubuhnya. Ia seperti mengenalnya. Langsung saja ia setengah berlari mendekatinya. Ia terkejut saat ternyata pemuda itu adalah Dio. Wajahnya terlihat memerah dan seperti sedang menahan sakit.

"D-Dio...." gumamnya hampir tidak percaya.

Tanpa diduga, pemuda itu langsung menerjangnya dan membungkamnya dengan ciuman mendadak. Viona terkejut setengah mati dan tidak bisa berteriak karena ciuman Dio yang hampir membuatnya kehabisan nafas. Dengan susah payah, ia melepaskan pemuda itu dari tubuhnya. Ia tahu apa yang sedang terjadi dengan Dio. Pasti pemuda itu sedang terkena efek obat perangsang.

Ia sudah tahu itu karena ia sering mendengar Eka dan Netta yang menceritakan tentang kelakuan nakal teman-teman mereka. Ia segera menggiring Dio dari sana sebelum orang lain melihat mereka dan menimbulkan pemikiran negatif untuk mereka. Kebetulan ia menemukan sebuah ruangan yang ia tebak kamar yang ada di belakang yang jauh dari jangkauan orang-orang.

Ia membuka pintu ruangan yang tidak terkunci dan menyalakan lampu setelah masuk ke dalam. Ia berusaha menahan Dio yang saat ini sudah hilang kendali. Ia mengunci pintu itu supaya tidak ada yang memergoki mereka. Viona terkejut saat Dio kembali menyerangnya dengan ciuman brutalnya dan meremas dadanya kuat. Viona meringis menahan rasa sakit sekaligus geli yang menyerangnya.

Ia segera menggiringnya dengan susah payah karena tubuhnya yang lebih besar darinya menuju ranjang di sana. Dio langsung melepaskan pakaiannya satu per satu dengan tak sabar sampai bertelanjang dada. Wajah Viona merona saat melihat tubuh Dio yang tidak terlalu kekar, tapi cukup telihat seksi di matanya.

Perlahan ia mendekatinya. Ia harus segera menolong Dio saat ini. Ia tak tahu persis tentang obat perangsang, tapi yang ia tahu, melakukan hubungan seks adalah salah satu cara yang tepat untuk menolongnya. Penderita bisa mati kalau dibiarkan. Viona tak bisa biarkan itu terjadi. Tapi apakah ia harus kehilangan segalanya untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu beserta harga dirinya? Ia tak bisa membiarkan orang lain mengetahui kondisi Dio saat ini yang akan menjatuhkan harga diri lelaki itu nantinya. Tapi ia benar-benar tak punya pilihan lain saat ini.

***

Viona memandangi wajah pemuda yang sudah merenggut kesuciannya yang kini tertidur karena kelelahan akibat aktivitas mereka barusan. Pikirannya menerawang tentang masa depannya. Semua orang pasti akan mencemooh mereka atas dosa besar yang telah mereka lakukan. Ia mengelus lembut wajah Dio. Air mata belum berhenti mengalir dari matanya. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Dio dalam.

"Goodbye, Dio. Mungkin kamu akan membenciku setelah kamu sadar dan mengetahui semua ini. Maafkan aku yang sudah membuat noda di antara kita. Aku hanya ingin mengucapkan satu kata, aku mencintaimu setulus hatiku. Maafkan aku, Dio...." ucapnya sambil menatap wajah pemuda itu yang masih terlelap dengan berurai air mata. Viona segera menghapus air matanya dan mencoba untuk beranjak dari ranjang mengabaikan rasa sakit di organ intimnya. Ia harus segera pergi dari sana sebelum Dio bangun dan melihatnya di sini bersamanya. Ia tak akan sanggup melihat kebencian di wajah Dio saat pemuda itu sudah sadar atas apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya. Dengan tertatih-tatih, ia berjalan menuju keluar dan memakai kembali sepatu hak tingginya. Ia mencoba untuk bersikap biasa saja agar orang-orang tak curiga bahwa sesuatu telah terjadi padanya. Ia membuka pintu dan keluar. Ia memandang sejenak pintu dan menghela nafas sejenak. Ia memutuskan untuk segera pergi dari sana.

Acara masih meriah dan belum selesai. Viona mampir sebentar ke toilet untuk memperbaiki wajahnya yang terlihat kusut akibat menangis. Untungnya Dio tak membuat tanda merah di lehernya karena ia sebisa mungkin untuk mencegahnya. Bisa ketahuan dan habis ia kalau sampai mereka melihatnya. Ia mencoba untuk berjalan dengan normal meski rasa tak nyaman dan sakit yang masih dirasakannya di bagian kewanitaannya. Ia melihat Eka dan Netta yang sedang duduk di sebuah kursi dekat tempat makanan dan minuman. Ia menghampiri mereka.

"Ya Ampun, Vi... Lo ke mana aja? Ke toiletnya kok lama banget. Terus, mata lo kenapa?" cecar Eka yang heran melihat Viona yang terlihat agak berantakan. Viona tersenyum tipis. Ia mencoba untuk menutupi apa yang telah terjadi padanya. Ia menggeleng.

"Gak apa-apa. Gue lagi dapet tamu dan gak enak badan. Boleh gak gue pulang ke kost-an lo aja, Ka? Ini udah terlalu malem. Kasihan kakak gue jemputnya." kedua temannya meneliti penampilan Viona yang mencurigakan.

"Lo gak habis kenapa-napa, 'kan?" tanya Netta. Viona menggeleng.

"Enggak kok, Net. Gimana, Ka? Boleh gue pulang ke rumah lo?" tanyanya sekali lagi pada Eka. Eka hanya mengangguk.

"Oke. Kita pamitan dulu, ya?" Viona mengangguk. Eka merasa tak tega dengan Viona. Pasti ada yang disembunyikan oleh gadis itu.

***

Dio mengerjapkan matanya perlahan. Begitu ia membuka matanya, sebuah ruangan asing di mana ia berada saat ini. Ia mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Seketika, matanya langsung terbuka dan kaget saat mendapati dirinya ada di sebuah kamar. Ia menyadari dirinya yang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Ia langsung menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan terkejut luar biasa saat ia tahu bahwa ia telanjang bulat saat ini. Ia mengingat hal apa yang membuat ia sampai terjebak di sini. Ia mengingat saat menerima minuman dari Bobby dan meneguknya. Lalu, ia merasakan tubuhnya menjadi panas dan berjalan menuju toilet. Kesadarannya mulai hilang dan ia melihat seorang gadis cantik yang berjalan ke arahnya. Setelah itu, ia merasa ada yang membawa dirinya pergi dari sana.

"Astaghfirullah...! Apa yang telah aku lakukan?" gumamnya masih dengan raut terkejut. Ia melihat bercak merah yang menodai seprei. Seketika, tubuhnya langsung menegang. Kini ia yakin, ia baru saja meniduri seorang gadis.

"Ya Allah... Apa aku baru saja telah melakukan dosa besar?" ia mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana ini? Ia telah merenggut keperawanan seorang gadis. Ia melihat sebuah benda seperti kalung yang tergeletak di sampingnya. Ia meraih benda itu. Sebuah kalung emas putih dengan liontin inisial huruf "V". Ia terdiam sejenak sambil memandangi kalung itu.

"Aku akan mencarinya untuk menjelaskan tentang kejadian ini. Aku berjanji akan bertanggung jawab." gumamnya berjanji. Ia segera beranjak dari sana sebelum ada yang memergokinya dan menimbulkan masalah besar untuknya. Ia akan menyimpan kalung itu sebagai petunjuk untuk mencari gadis yang telah ia renggut masa depannya dan juga yang telah membuat hidupnya tak akan sama lagi seperti sedia kala. Ya, ia harus secepatnya menemukan gadis itu.

Red In The SilenceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang