Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

15. Single Parent

4.8K 249 0
                                        

Sudah sebulan ini Viona menjadi ibu sekaligus ayah untuk putranya. Ia begitu bahagia dengan kehadiran malaikat mungil dengan wajah Dio versi mini. Ia hanya mengambil cuti selama sebulan ditambah setelah melahirkan. Ia tidak mau ketinggalan kuliah karena terlalu lama libur. Ia harus berhasil menyelesaikan kuliah meskipun sekarang kesibukannya terbagi dengan mengurus anak. Lisna menawarkan dirinya untuk merawat putranya selama ia menuntut ilmu. Kadang Debora juga ikut menjaga Arvi saat ia tidak ada jam kuliah atau sedang tidak bekerja. Viona sedang menyusui putranya di ranjangnya. Sesekali ia menciumi rambut hitam putranya yang tebal. Ia memandang mata hitam milik Dio itu. Tatapan mata yang selalu membuatnya jatuh cinta.

"Dedek!" seru Debora sambil membuka pintu kamarnya. Viona menaruh telunjuknya di depan bibirnya.

"Sssttt...! Arvi mau tidur." Debora tersenyum minta maaf. Ia mendekati Viona dan menatap bayi itu yang masih asyik menyusu kepada ibunya.

"Wajahnya gak ada miripnya sama kamu, Vi." Viona hanya mengangguk.

"Iya. Dia mirip banget sama ayahnya." ucapnya sambil menatap wajah bayinya yang mulai mengantuk.

"Kemiripan wajah Arvi sama ayahnya memungkinkan Dio mudah untuk mengenali kalian. Tanpa perlu tes DNA pun, dia pasti bakalan langsung yakin kalau Arvi adalah anak kandungnya." Viona terdiam sejenak. Perkataan Debora ada benarnya. Mungkin tak akan susah bagi Dio untuk mengetahui hubungan darah antara dia dengan putranya karena kemiripan itu.

"Kapan kamu akan membawanya ke hadapan keluarga kamu?" Viona terlihat berpikir. Ia menolehkan wajahnya pada Debora.

"Mungkin setelah usianya dua bulan. Aku harus mempersiapkan mental dulu untuk menjelaskan ini semua. Aku takut, Deb." Debora paham akan kekalutan sahabatnya. Ia memegang bahu Viona.

"Ini adalah resiko yang harus kamu tanggung. Jelaskan dengan baik-baik. Mereka akan marah, kecewa, atau terkejut itu pasti. Berdo'a saja semoga kamu diberi kekuatan untuk menghadapi semua ini." ucapnya menyemangati. Semoga saja.

"Mereka pasti bakalan menerima Arvi sekali pun dia hadir karena maaf, akibat kecelakaan. Bagaimana pun juga, anakmu adalah cucu mereka, bagian dari keluarga mereka juga." Viona hanya mengangguk. Ia yakin meski ia telah melakukan kesalahan terbesar, mereka akan berlapang dada menerima putranya sebagai bagian dari mereka. Ia tahu bagaimana keluarganya.

***

Viona sedang mematut dirinya di depan cermin. Hari ini ia ada kuliah pagi. Siangnya ia harus kembali lagi bekerja untuk menafkahi putranya. Ia sadar kebutuhannya semakin bertambah dengan kehadiran putranya. Setelah cukup rapi dengan penampilannya, ia berjalan menuju boks tempat bayinya berada. Ia tersenyum melihat putranya yang sedang menggeliat-geliat di tempat tidurnya. Sesekali ia mengisap jempol mungilnya. Ia mengendus aroma minyak telon dari tubuh bayinya.

"Hmmm... Anak Mama sudah wangi dan cakep. Mama berangkat kuliah dulu ya, sayang! Untuk bekal masa depan kita nanti. Kamu sama Tante Lisna dulu ya nanti!" ucapnya sambil menciumi gemas wajah bayinya. Bayi itu hanya menatap lurus ke arahnya. Viona menegakkan kembali badannya dan terdengar suara bel. Pasti Lisna sudah datang.

"Mama berangkat dulu ya, sayang! Kamu baik-baik ya sama Tante!" pesannya sambil menyentuh pelan hidung mungilnya. Ia mengangkat tubuh mungilnya ke dalam gendongannya dan berjalan keluar kamarnya. Ia membuka pintu apartemennya dan dilihatnya Lisna yang sedang tersenyum lebar ke arah mereka.

"Eh, Dedek Arvi. Umm..., harum banget." ucapnya sambil menciumi wajah lucu menggemaskan Arvi. Bayi itu hanya menggeliat dalam gendongan ibunya. Viona tersenyum.

"Aku titip dulu Arvi ya, Mbak! Maaf ya repotin Mbak terus." ucapnya merasa tak enak karena terus merepotkan wanita tersebut. Hanya Lisna yang ia percaya untuk menitipkan anaknya. Ia tak mau sembarangan menitipkan anaknya kepada orang asing karena banyaknya kasus penculikan dan ia tak mau sampai hal itu terjadi. Lisna tersenyum dan menggeleng.

Red In The SilenceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang