Viona memandangi seorang pemuda yang berpakaian seragam paling rapi di antara yang lainnya yang sedang asyik dengan bacaan buku tebalnya di bangku depan kelas. Entah apa yang sedang dibacanya, tapi melihat wajahnya yang begitu serius membuat sebuah senyum terbit dari bibir pink Viona. Pemuda itu tidak terlalu tampan dan menonjol seperti kebanyakan siswa lainnya yang berlomba-lomba untuk menunjukkan kepopulerannya sebagai siswa tampan yang rajin menebar pesona kepada setiap gadis. Dia memiliki kharisma dan daya tarik yang tidak bisa Viona abaikan begitu saja. Tapi satu hal yang Viona benci dari pemuda itu, dia terlalu acuh kepada perempuan, termasuk dirinya.
"Hayooo...! Serius amat mandanginnya. Gak copot apa tuh mata?" Viona menolehkan wajahnya pada gadis di sebelahnya. Ia mendengus.
"Suka-suka gue kali. Rusuh aja!" rutuknya dengan wajah bersemu. Eka mengamati perubahan wajah Viona. Gadis itu tertawa.
"Cieee..., mukanya kayak tomat busuk. Ketahuan banget kali Vi kalo lo naksir dia." Viona merasa salah tingkah. Ia kembali menolehkan wajahnya pada sang pemuda yang masih ada di sana yang masih asyik dengan kegiatannya.
"Gue heran sama lo, Vi. Yang naksir lo kan banyak. Si Cello yang tampannya selangit dan pujaan cewek-cewek di sini lo tolak. Padahal dia udah nyiapin sesi romantis banget buat nembak lo waktu itu. Kalau gue jadi lo, gue langsung terima. Bakalan kayak di negeri-negeri dongeng itu." celoteh Eka sambil tersenyum membayangkan ia bersanding dengan pangeran imajinasinya. Viona terdiam sejenak.
"Urusan hati gak bisa dilihat dari tampan atau enggaknya, Ka. Meski banyak yang tampan, kalau hati gue gak sreg, ya gimana?" ucapnya.
"Emang lo ngerasa sreg sama dia gitu?" Viona langsung terdiam. Ia tak bisa menjawab. Pertanyaan yang jelas menyudutkannya. Mengenal secara langsung saja tidak, bagaimana mau tahu sreg atau tidaknya? Ia hanya berani memandang dan mengaguminya dari jauh. Eka menepuk pelan bahu Viona.
"Vi, lo cantik, dari keluarga berada juga, tubuh lo juga bagus kayak model. Gue pengen juga kayak lo. Sampai kapan lo mau nunggu dia yang jelas kayak tembok gitu, datar, dan gak ada sinyal apa pun untuk lo. Untuk sekedar kenal aja lo susah, 'kan? Udahlah! Mendingan jatuh cinta sama yang pasti-pasti aja daripada galau sendiri karena cinta gak kesampean." Viona terdiam sejenak. Ia menggelengkan kepalanya.
"Tahu, ah! Puyeng gue mikirinnya."
KRINGGGG!!!!
Suara bel yang menandakan waktu istirahat telah selesai membuat para siswa yang sedang asyik dengan kegiatannya sontak berhamburan masuk ke kelasnya masing-masing.
"Bentar lagi Pak Toto masuk. Gue males ah belajarnya. Kita ke kantin belakang aja, yuk!" Viona dan Eka menolehkan wajahnya ke belakang saat ada yang menepuk bahu mereka. Akhirnya, mereka mengangguk.
"Ayo!" mereka berdiri dari duduknya untuk pergi dari sana sebelum guru mereka masuk ke kelas. Viona melihat kembali tempat duduk yang ditempati pemuda tadi yang ternyata sudah kosong. Pasti dia sudah masuk ke kelasnya. Ia segera mengikuti langkah kedua temannya yang sudah berjalan di depannya menuju tempat biasa mereka nongkrong.
***
"Pasti gue ujung-ujungnya tidur di kelas. Suaranya kan kayak yang ninaboboin aja." Viona dan Eka tertawa.
"Haha... Iya. Gue kan emang gak suka bahasa Indonesia kali." timpal Viona sambil menyeruput es tehnya. Ia bukanlah murid yang bandel yang pekerjaannya suka melanggar peraturan sekolah dan merepotkan orang tua untuk bolak-balik karena dipanggil ke sekolah. Tapi ia juga bukanlah murid yang tertib dan menuruti peraturan sekolah. Viona hanyalah murid biasa yang tak terlalu pintar ataupun bodoh di kelasnya. Ia lebih unggul dalam pelajaran hitung-menghitung dan ia pernah ikut Olimpiade Matematika Tingkat Kota yang dikirimkan dari sekolahnya waktu kelas dua dan memenangkan juara ke-III.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red In The Silence
RomansSejak pertama masuk SMA, Viona memendam sebuah rasa kepada teman sekolahnya, Dio. Mengamati dan mengagumi dalam diam meski sang pujaan hati tak pernah melihatnya. Mencoba bertahan menjadi sosok tak terlihat, dekat tapi seakan jauh untuk tergapai. Hi...
