"Besok kita akan berangkat ke Jogja. Akan diadakan perkumpulan keluarga besarku di rumah Nenek sekaligus memperkenalkanmu kepada keluargaku di sana." Viona menatap suaminya. Ada sedikit kekhawatiran di hatinya.
"Apa..., mereka akan menerimaku? Kamu tahu sendiri kan bagaimana awal pernikahan kita?" Dio tersenyum.
"Semua yang sudah berlalu tak ada gunanya untuk dikenang lagi. Yang terpenting, kamu sudah menjadi bagian hidupku dan juga keluargaku. Aku yakin, mereka pasti akan menerimamu dengan baik, apalagi Nenek. Percayalah padaku!"
Viona menatap Dio sejenak. Ia mencoba untuk yakin. Mengingat kehadiran saudara-saudara Dio saat pernikahan mereka, kelihatannya mereka biasa saja dan tidak mempermasalahkan. Ya, semoga saja.
***
Udara segar pegunungan dan angin yang berhembus sejuk begitu terasa menenangkan. Sudah hampir satu jam yang lalu keluarga kecil Dio tiba di kediaman sang nenek di Kota Yogyakarta. Rumah yang cukup besar dengan gaya minimalis dan terdapat berbagai tumbuhan di halamannya membuat suasana begitu asri. Viona seakan menghirup udara kebebasan di sini. Berbeda jauh dengan Jakarta yang sumpek dan tak pernah absen dari debu dan polusi udara juga cuaca panas yang selalu membuatnya gerah. Apalagi melihat putranya yang begitu antusias sejak diberitahu kemarin bahwa akan berkunjung ke rumah nenek buyutnya di Yogya.
"Anginnya segel banget, Ma. Aku pengen tinggal di sini aja, ah!" serunya senang sembari menghirup dalam udara segar dari jendela kamar yang terbuka. Viona tersenyum.
"Terus nanti sekolah kamu gimana? Kapan-kapan kita ke sini lagi sama Ayah." Arvi tersenyum.
"Seling-seling ya kita ke sini nanti!" Viona hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kamu mau tidur dulu atau maen sama yang lainnya? Mama mau ikut bantu-bantu di belakang." ucap Viona sembari membereskan ranjang putranya. Arvi terlihat berpikir.
"Ikut maen aja, ah. Bosen di sini sendili."
"Emangnya gak capek?" Arvi menggeleng.
"Gak. Pengen maen."
"Yaudah, jangan jauh-jauh ya maennya! Kamu kan baru ke sininya." Arvi hanya mengangguk.
"Sayang...." terdengar suara pintu dibuka. Muncul sosok suaminya yang memasuki kamar mereka.
"Kamu mau istirahat dulu atau mau ke belakang? Ada Ibu juga kok di sana. Gak usah canggung. Anggap aja kayak di rumah sendiri." Viona tersenyum dan mengangguk.
"Ke belakang aja, Di. Gak enak juga sama yang lainnya. Aku kan udah jadi bagian dari keluarga kamu juga." Dio mengangguk.
"Yaudah. Kita keluar sekarang, ya! Arvi mau di sini atau ikut siapa?" tanyanya kepada putranya.
"Mau maen sama sodala-sodala di depan."
"Yaudah. Yuk kita ke depan!" ajaknya kepada mereka berdua.
Viona berjalan menuju dapur belakang yang sedang ramai oleh para ibu-ibu yang sedang mengadakan kegiatan memasak. Ia masih merasa canggung karena baru pertama kalinya ke sini.
"Eh Vio, ayo sini!" seru mertuanya begitu melihatnya datang. Ia tersenyum tipis dan berjalan mendekati kumpulan ibu-ibu itu untuk ikut bergabung.
"Si adeknya ke mana, Mbak?" tanya seorang ibu.
"Maen di depan sama saudaranya, Bu." jawabnya lembut. Orang-orang di sini tutur bahasanya lembut, jadi sebisa mungkin ia selalu bersikap sopan dan menjaga nama baiknya sebagai istri Dio di depan keluarga suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red In The Silence
RomantikSejak pertama masuk SMA, Viona memendam sebuah rasa kepada teman sekolahnya, Dio. Mengamati dan mengagumi dalam diam meski sang pujaan hati tak pernah melihatnya. Mencoba bertahan menjadi sosok tak terlihat, dekat tapi seakan jauh untuk tergapai. Hi...
