Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

31. I Love You, Viona

5.9K 288 0
                                        

Hari Minggu adalah hari yang selalu ditunggu siapa pun untuk menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta seharian penuh dan melepas penat setelah seminggu menghabiskan hampir separuh waktu untuk bekerja. Begitu juga dengan Viona. Ia merasa tak ada beban di hari ini. Sang putra sedang bermain di rumah orang tuanya dan suaminya sedang keluar untuk menemui teman kuliahnya yang katanya ingin membahas keperluan penting di antara mereka. Viona merasa lega ketika teman suaminya itu adalah lelaki. Jika perempuan, Viona yakin dirinya tak bakalan tenang seharian ini. Saatnya waktunya untuk bersenang-senang tanpa diganggu siapa pun, termasuk anak dan suaminya. Ia mengajak Eka untuk jalan-jalan dalam rangka ladies time. Sudah lama ia tak berkumpul dengan sahabat-sahabatnya seperti saat ia SMA dulu atau saat kuliah. Ia rindu di masa ia masih bebas bergaul dan kelayapan ke sana kemari bersama teman-temannya tanpa beban. Tak ada salahnya ia menghabiskan waktu hari ini untuk jalan-jalan sambil bergosip ria dan bernostalgia dengan sahabat masa SMA-nya itu. Netta sudah punya suami dan ikut suaminya yang berprofesi sebagai tentara yang sekarang ditugaskan di daerah Kalimantan. Jadi mereka tak pernah bertemu lagi selain sekali-kali masih sering berkomunikasi lewat sosmed. Hanya Eka yang belum menikah dan masih betah melajang di antara mereka bertiga. Terdengar suara klakson mobil di depan rumahnya. Pasti Eka sudah datang. Ia menyambar tas kecilnya dan keluar dari kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu rumah sebelum ia keluar. Ia berjalan menuju mobil merah hati yang terparkir di depan pagar rumahnya dan menguncinya, lalu masuk ke dalamnya. Ia menghempaskan bokongnya di kursi depan.

"Anak lo gak dibawa?" tanya Eka yang mulai menjalankan kembali mobilnya. Viona menggeleng.

"Gak. Dia lagi maen di rumah Bunda. Maklum, kan dia udah lama tinggal di sana, jadi masih ngerasa tinggal di sana. Lagian kan gue juga pengen punya waktu bebas sendiri tanpa bawa anak sesekali." Eka tertawa.

"Iya juga, sih. Kali-kali kita harus kayak gini, nostalgia, lah." Viona mengangguk. Mobil yang mereka tumpangi mulai membelah jalanan yang padat.

Mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan. Viona dan Eka mulai berburu senjata perempuan begitu mereka masuk ke dalam mall, kegiatan yang sudah lama mereka lupakan selama ini. Viona hanya sesekali mengajak putranya belanja untuk membeli kebutuhannya seperti alat tulis, baju, atau keperluan bulanan untuk mereka. Hanya acara belanja singkat, setelah itu pulang jika Arvi sudah puas bermain. Viona membeli baju untuknya, anaknya, dan suaminya. Ia tertarik melihat kaos untuk couple keluarga dan ia membeli itu untuk anak dan suaminya. Kedua wanita itu begitu antusias dan puas dengan sesi jalan-jalan mereka yang diselingi dengan acara bergosip ria atau bernostalgia tentang masa SMA dulu. Mungkin karena mereka jarang bertemu, jadi mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya sebelum mereka kembali kepada kewajiban masing-masing. Tangan mereka sudah penuh dengan kantong belanjaan. Viona begitu puas hari ini.

"Gue laper. Kita cari makan, yuk!" ajak Eka sambil mengelus perutnya. Viona mengangguk karena ia pun merasakan hal yang sama. Sudah masuk waktu siang ternyata.

"Yuk!" lalu kedua wanita itu berjalan untuk mencari tempat makan di sana.

Setelah menaiki eskalator menuju lantai 3, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di restoran Jepang di sana. Viona tertawa mendengar lelucon Eka sambil berjalan masuk ke dalam restoran yang ramai saat ini. Tiba-tiba Eka menghentikan langkahnya yang membuat Viona sedikit heran.

"Kenapa, Ka?" pandangan Eka tertuju pada sesuatu yang sepertinya menariknya. Viona mengikuti arah pandangan sahabatnya. Dan seketika, seperti ada yang meremas jantungnya dengan tangan tak kasat mata. Tiba-tiba nafasnya terasa sesak. Di ujung sana, ia melihat sosok ia kenal, suaminya sedang makan siang berdua dengan wanita lain. Suaminya tertawa lepas dan ceria, bahkan tawa itu tak pernah ia tunjukkan selama ini setelah mereka menikah. Itu seperti bukan sosok suaminya yang ia kenal cuek dan kalem. Ia dan Dio malah lebih banyak canggungnya dibanding akrabnya seperti ia dengan wanita itu. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari mereka.

Red In The SilenceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang