WFLO Part 4

12 2 0
                                    

Author POV

"Apa Hinoto sering makan malam disini ?" tanya Yami di tengah aktivitas makan bersama di rumah Tuan Denzu.

"Ya tentu, aku sering mengundangnya kesini karena suamiku kadang sangat sibuk untuk menemaniku makan malam, dan sekarang aku juga akan sering-sering mengundangmu" Istri Tuan Denzu dengan yakin menjelaskan, tak ada keraguan dalam nada bicaranya. Tentu ini sebuah kejujuran bukan ? Hinoto itu anaknya dan dia pasti sering makan dirumahnya sendiri kecuali saat anak itu sedang sibuk mengerjakan proyek animenya.

"Mm begitu.. kau sepertinya sangat suka sekali masakan Okaasan"

"Sangat ! okaasan sangat pandai memasak itu membuatku sangat berselera"

"Oh kau? kalian sangat dekat ya, sepertinya aku akan punya saingan disini wkwk"

"A-ah i-itu.."

"Eey sudah makan saja jangan banyak bicara, kalian berdua ini adalah anakku"

Begitulah perbincangan malam di meja makan keluarga Denzu. Terasa hangat dan sangat akrab. Bukan hanya karena hubungan antara anak dan ibu yang sebenarnya, tapi karena Yami yang juga memang sudah menyatu dengan keluarga itu. Namun saat mereka melanjutkan kembali acara makan malam, Yami terus memandangi Hinoto dengan penuh kecurigaan. Hinoto pun  menyadarinya. Menyadari kalau ia seperti sedang dilihat dengan mata yang menyimpan beribu pertanyaan dan penuh curiga. Dan sekarang Hinoto sedang merinding melihat raut wajah Yami. Ayolah siapa yang tidak merinding, Hinoto disana melihat smirk Yami didepannya.

'Apa yang sedang anak itu pikirkan..' batin Hinoto cemas

"Kenapa kau memandangiku ? fokus saja pada makananmu bukankah seleramu sangat besar sekarang ?" goda Yami mengagetkan Hinoto tersenyum sinis.

'Apa-apaan itu ? senyum itu lagi ? sekarang dia terlihat menyeramkan. Ya Allah selamatkan aku'

Yuna POV

Aku sudah berada di apartemen sekarang, karena setelah selesai makan malam bersama dirumah Tuan Denzu aku langsung ijin untuk pulang. Tadinya aku sempat ditahan oleh okaasan dan disuruh menginap disana mengingat waktu sudah sangat malam. Ya aku sekarang memanggil Istri Tuan Denzu dengan panggilan okaasaan. Okaasaan yang memintanya karena ia bilang aku sudah seperti anaknya sendiri, dan akupun harus menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Masih banyak orang-orang baik didunia, yang tidak memandang ras, keyakinan, gender, ataupun kebangsaan. Aku sangat senang dunia ini masih memiliki orang-orang seperti itu. Selama masih ada orang baik maka bumi ini tidak perlu khawatir. Karena mereka pasti akan selalu menjaga bumi ini dengan baik sepenuh hati. Memandang dunia ini penuh rasa cinta dan kedamaian.

Sangat lelah, itu yang aku rasakan setelah beraktivitas seharian. Bahkan hari ini, aku tak sempat hanya untuk sekedar jalan-jalan menikmati suasana Osaka. Yang kulakukan hanya mensurvey sana-sini berburu data apa saja yang bisa kudapatkan. Mungkin karena Tempozan adalah tempat yang sangat menarik dimata orang-orang. Dan info yang aku dapatkan mengenainya sangatlah banyak, sangat menarik, dan tidak ada habisnya.

"Keren" gumamku yang kini sedang berbaring dengan senyum yang merekah

*Niconiconii* Ringtone

"Ya seperti biasa, saat aku sedang bersantai pasti anak ini akan menelefonku.. kenapa selalu pas sekali ya ? apa dia pasang cctv disini ? kalau iya pasti menyeramkan uuuu" mungkin karena lelah akupun berpikir yang tidak-tidak sekarang. Mana mungkin Oca memasang cctv disini kan. Tau lokasi apartemenku saja tidak. Dan lagi, dia saat ini sedang di Indonesia.

"Assalamu'alaikum, ada apa Oca ?"

"Wa'alaikumussalam, Yamyam aku ada berita untukmu, penerbanganku kesana dipercepat.. jadi besok aku akan menyusulmu"

"Waaaah kau serius ?"

"Hmm, jadi siapkan dirimu wkwk.. aku tidak akan menginap di kamar apartemenmu, tapi mungkin aku akan menginap di kamar lain, apartemen yang sama denganmu"

"Tak apa lagian aku tidak mau tidurku diganggu haha, oke aku tunggu kau disini"

"Baiklah itu saja, daaah"

*click*

"Baiklah jadwal untuk besok yaitu survey ke Nakanoshima Park.. wah tempat yang bagus tak kusangka aku akan kesana lagi..

Flash back on

"Yamiii pelan-pelan nak nanti kau akan jatuh"

"Haha biar saja bibi, kalau tidak berlari nanti aku akan tertangkap"

Disinilah kami, taman yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Kami sengaja datang dari Tokyo hanya untuk mengunjungi Taman Nakanoshima. Kebetulan ini adalah musim semi dan waktu yang sangat pas bukan untuk mengunjungi taman yang dipenuhi bunga yang sedang bermekaran. Yami kecil, begitu aku harus memanggil diriku. Aku berlarian di hamparan bunga yang sangat luas, bermain dengan sahabat baikku. Aku kesini tidak dengan keluargaku, tetapi dengan keluarga sahabatku. Walaupun begitu mereka sudah menganggapku seperti putrinya dan akupun sudah menganggap mereka seperti orang tuaku. Mereka menyayangiku seperti nenek dan kakek, bahkan jika aku terluka justru merekalah yang paling khawatir. Pernah satu kali aku menangis sangat kencang karena ulah sahabatku itu, tapi disini yang dimarahi siapa ? Sahabatku, ya tentu oleh kedua orang tuanya sendiri. Mereka memperlakukanku sangat baik sampai-sampai anak kandung sendiri kadang terlupakan hihi. Aku bersyukur bisa mengenal mereka. Walaupun kami berbeda keyakinan, tapi mereka tak pernah mempermasalahkannya. Aku, nenek, dan kakek.. kami memang tinggal dilingkungan yang tidak sesuai dengan keyakinan kami. Kami muslim dan mereka bukan, mari kita sebut saja Tuhan mereka itu ialah Dewa. Walaupun begitu kami hidup sangat rukun, penuh toleransi, dan saling menghargai satu sama lain.

"Yamii, jika kita besar nanti mari berkunjung lagi kesini" seru bocah laki-laki dengan mata yang mengecil saat ia tersenyum.

"Ayoo jangan lupa ajak aku, kau tidak akan melupakanku kan jika sudah besar nanti ?"

"Umm ! tentu tidak ! aku akan menjadi sahabatmu..."

"Selamanyaaaaaa haha" ucapku dan bocah itu berbarengan

"Mm apakah nanti kita akan bisa bertemu lagi ?" tanyaku sedih mengingat waktu itu aku tau kalau aku menetap di Jepang hanya sampai lulus SD, dan akan pindah ke Indonesia setelahnya, menetap bersama ibuku

"Jangan berbicara seperti itu, aku yakin kita akan bertemu lagi Yami.. dan nanti kau akan pangling terhadapku wkwk"

"Wah memangnya nanti saat kau besar kau akan berubah ?"

"Tentu ! lihat saja hmm"

Aku tersenyum mendengar penuturan sahabatku. Setelah lelah bermain kami mengobrol dipinggir taman. Membicarakan apa saja kemungkinan yang akan terjadi ketika kelak kita dewasa nanti. Walaupun kami berbeda gender, tapi sahabatku itu bisa memahamiku dengan sangat baik. Anak-anak yang tumbuh di Jepang memang sedikit berbeda. Tubuh boleh kecil, tapi pemikiran mereka, sadar ataupun tidak, mereka dewasa.

'Baiklah, sampai ketemu beberapa tahun mendatang, ku harap kita tidak melupakan satu sama lain'

Flashback off

"Haaaah kenangan yang tidak bisa terlupakan ! sebaiknya aku tidur sekarang supaya nanti bisa bangun untuk sholat malam, ah dan planning besok...

hmm what's your next scenerio ?.. Hi-no-to"

TBC

We Found Love in OsakaWhere stories live. Discover now