WFLO Part 19

8 1 0
                                    

.

.

"Wah aku senang melihatmu yang sekarang" Yami tersenyum bangga melihat majalah yang ia pegang. Sore ini Yami sedang berada di gedung HIMA Agency. Setelah makan siang dan sedikit berjalan-jalan, Hinoto membawa Yami ke kantornya. Saat jalan-jalan tadi mereka hanya berkeliling tak tentu arah. Jadilah Hinoto inisiatif mengajak Yami kesini karena jujur ia lumayan lelah mengikuti Yami. Gadis itu sangat suka hang out padahal yang Yami lakukan hanyalah memperhatikan keadaan dan pemandangan sekitarnya.

"Ini berkat kau juga, aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu waktu itu. Dan juga Pak Manajer yang sialnya sangat handal dalam promosi wkwk" ucap Arata.

"The Young Arranger hit us just in a weeks.. whoaa judul yg mengesankan ya haha" Yami masih membulak-balik halaman majalah yang Arata berikan tadi. Cover dan sebagian isinya adalah foto Arata. Arata sekarang menjadi seorang model sekaligus arranger.

"Kau sudah bekerja keras. Aku bangga padamu. Jalani semua ini dengan penuh rasa syukur." Yami tersenyum dan sekali lagi menegaskan kalau ia terlihat sangat bangga dengan teman barunya itu.

"Pasti" Arata membalas tersenyum kedua tangannya masih bertengger disaku samping celananya.

"Kau terlihat seperti kekasihnya" sindir Hinoto yang sedari tadi diam memperhatikan keduanya.

"Aku malah merasa dia seperti ibuku wkwk" ucap Arata

"Ey kau bisa saja anakku haha" keduanya menggoda Hinoto yang mulai terlihat kesal.

"Oy ! Assalamu'alaikum semuaa" sapa Mamoru yang baru datang. Yami, Hinoto, dan Arata pun membalas salam Mamoru.

"Sudah lama Yami ?" tanya Mamoru yang duduk di sofa sebelah Yami

"Emm lumayan"

Mimik Hinoto seketika berubah menjadi serius. Ia terus memperhatikan gestur Yami dan Mamoru.

"Sepertinya sudah sore aku akan pamit saja" Yami berdiri sambil menyelendangkan tas lengannya.

"Biar ku antar" Hinoto ikut berdiri sambil menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja.

"Tidak. Biar aku saja yang mengantar Yami. Kebetulan aku ada keperluan denganmu Yami" ucap Mamoru yang bangkit dari duduknya.

"Ah baiklah" jawab Yami.

"Kita bicara di cafeterania ya" Mamoru mengedipkan sebelah matanya menyampaikan kode yang hanya dimengerti oleh Yami

"Ah baiklah tapi tolong ingat waktu jika sedang membicarakan itu" ucap Yami malas.

'Apa yg akan mereka bicarakan ?' batin Hinoto.

Sungguh hatinya sangat sakit dan dadanya sesak. Ia tak suka melihat interaksi antara Yami dan Mamoru. Ia tak suka kedipan Mamoru kepada Yami. Ia tak suka mendengar perkataan mereka yang sepertinya ada yang disembunyikan dari Hinoto.

"Membicarakan apa ?" Hinoto mengeluarkan suaranya

"Ini urusan aku dan Yami tuan, kau tidak akan suka wkwk" jawab Mamoru

'Tidak akan suka ? apa yang Mamoru mak- apa mereka menjalin hubungan dan sedang merencanakan pernikahan ? oh tidak" pikir Hinoto

Mamoru dan Yami pun pergi menyisakan Arata dan Hinoto diruangan itu.

"Hey bung, you'll never know if you never try" Arata menepuk bahu Hinoto yang masih memandangi kepergian dua sahabatnya.

"Apa maksudmu ?" Hinoto menolehkan kepalanya lalu menekuk alisnya pertanda bingung. Sebenarnya Hinoto tau apa maksud dari ucapan Arata. Hanya saja ia ingin memastikannya langsung agar tidak salah tangkap. Apa terlalu kelihatan bahwa saat ini Hinoto sedang cemas? bingung? ingin tau? kesal? cemburu? Apa semuanya terlihat ? Tentu, Arata itu orangnya lumayan peka terhadap kondisi sekitarnya.

We Found Love in OsakaWhere stories live. Discover now