29. Makanan Untuk Azka

78 14 2
                                        

Azka terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Reflek membuat dirinya terduduk dan membuka mata tiba-tiba. Mimpi itu aneh. Mimpi itu seakan membuat dirinya ingin mencari sang Mama. Ia yakin Mamanya pasti masih ada. Tetapi Azka sendiri pun tak tau kemana wanita yang telah melahirkannya itu. Apa benar setelah hari perceraian itu Mamanya pergi dari rumah?

Cowok berumur 17 tahun ini melirik jam weker yang berada dinakas disamping ranjang tidurnya. Ia hanya bisa menghembuskan napas pasrah saat dilihat jarum jam berada pada angka sembilan yang berarti tidak ada sekolah bagi Azka hari ini. Kemudian ia meraba-raba kasur hingga selimutnya untuk mencari benda persegi panjang yang tipis itu. Setelah menemukannya, dilihat banyak pesan yang masuk ke ponselnya. Entah mengapa pesan dengan nama kontak Melda lebih menarik perhatiannya dari sekian banyak pesan yang masuk.

Melda: Ka kenapa gak sekolah?

Ia tersenyum tipis. Sampai detik ini pun Azka masing bingung entah kenapa cewek itu begitu peduli padanya.

Kesiangan mel,

Send.

Selanjutnya ia turun kebawah untuk sekedar mengambil makanan barangkali ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya dipagi hari seperti ini. Dilihatnya meja makannya yang kosong, serta kulkas yang hanya berisi beberapa minuman dan buah-buahan saja. Ia berjalan menuju dapur, kemudian mengambil sebungkus mie instan dan sebutir telur. Semenjak Mamanya pergi, Azka lebih sering menyendiri dan sedikit menutup diri. Terutama pada perempuan. Entah mengapa ada sedikit rasa benci pada kaum hawa saat Mamanya meninggalkannya begitu saja.

Bahkan sekarang hidupnya tak terurus. Tak akan ada yang membangunkannya dipagi hari saat akan sekolah, tak akan ada yang memasakkan makanan untuknya, sekarang semua serba sendiri. Bukan maksudnya tidak mandiri, apalagi Azka seorang anak laki-laki. Tetapi tetap saja peran ibu sangat penting dihidup siapapun. Begitu juga bagi Azka. Entah berapa kali dalam seminggu ia makan mie instan, jika saat malas untuk membeli makanan keluar. Walaupun ia sendiri tau bahwa memakan mie instan terlalu sering itu tidak baik bagi kesehatan. Jika ada Mamanya, pasti ia sudah diomeli habis-habisan.

Ponselnya bergetar saat ia tengah duduk dimeja makan sambil menyuapkan mie kuah yang telah ia masak.

Melda: Jgn sering kesiangan mulu, bntar lagi ujian.

Azka: Hehe, iya mel siap!

Melda: Pulang sekolah gue kermh lo ya?

Azka: Ngapain?

Melda: Adadeh, pokoknya lo gak boleh kemana-mana. Drmh aja..

Azka: Okee

Ngapain Melda mau kerumah? Percayalah walaupun Azka bertanya-tanya begitu tetapi ada sedikit rasa senang terselip dihatinya. Bahkan mungkin tanpa ia sadari. Setiap ada sesuatu yang berhubungan dengan cewek itu membuat Azka lebih semangat untuk menjalani setiap hari-harinya.

***

Melda turun dari taksi setelah membayarnya. Kini ia telah sampai didepan rumah Azka. ia berjalan menuju pagar dan masuk karena memang tidak dikunci. Azka memang pernah bilang bahwa tidak ada pembantu rumah tangga atau supir dirumahnya. Ia hanya tinggal bersama sang ayah dirumahnya yang besar itu.

Setelah mengetuk pintu beberapa kali pintu terbuka dari dalam dan menampilkan seorang cowok dengan kaus tanpa lengan berwarna hijau lumut serta celana kain berwarna hitam sepanjang lutut. Rambut Azka yang acak-acakan entah mengapa menarik perhatian Melda. Ia suka melihat cowok dengan rambut sedikit berantakan ketimbang klimis. Melda juga bisa melihat otot lengan Azka yang cukup besar dengan kausnya yang tanpa lengan itu.

"Mel?" Azka mengipas-ngipaskan tangannya didepan wajah Melda.

Melda tersadar dirinya tengah melamun. "Eh? ... Lo belum mandi ya Ka?"

Azka menyengir kuda sambil menggeleng. "Udah gue bilang mau kerumah malah belum mandi, mana pake baju begitu lagi." Kata Melda dengan wajah datar.

"Mager ah. Emang kenapa kalo gue pake baju begini? Seksi? Lo terpesona?"

Melda memelototkan matanya. "Selain dingin ternyata lo juga punya tingkat kepedean yang tinggi ya,"

Azka terkekeh melihat ekspresi Melda. "Eh iya ini gue bawain makanan buat lo. Gue tau pasti lo makan mie instan lagi kan tadi?"

Azka menaikkan alisnya, memiringkan sedikit bibirnya serta menaikkan kedua bahunya secara serentak, tanda mengiyakan perkataan Melda. "Tumben?"

"Tumben kenapa?" tanya Melda.

"Ya ngebawain makanan gini,"

Melda bingung mau menjawab apa. "Eum.. yaa kepikiran aja sih,"

Azka menahan senyumnya. "Kepikiran? Kepikiran gue maksudnya?" goda Azka sambil memajukan wajahnya tepat didepan wajah Melda sampai membuat cewek itu menahan napas dan segera menjauhkan dirinya.

"Apaansih, kan pede lagi."

Tangan Azka bergerak mengacak-acak rambut Melda kemudian menarik pelan lalu menuntun cewek itu untuk masuk kerumahnya. Sementara Melda merasakan kelainan pada jantungnya yang berdetak semakin cepat. Ia bingung dengan hatinya sendiri. Bahkan ia belum bisa mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasa masih mencintai Fahri, tetapi saat berada didekat Azka jantungnya selalu menimbulkan detakan-detakan yang bergejolak seolah saat bersama Fahri dulu. Namun rasanya berbeda, ditambah lagi badannya yang mendadak selalu berkeringat. Tetapi mana mungkin ia menyukai Azka?

Melda tidak mau ambil pusing tentang perasaannya. Sekarang ia berjalan menuju dapur dirumah Azka untuk mengambilkan segelas air untuk cowok itu. Sementara Azka yang baru saja duduk disofa ruang tengahnya sedang membuka kotak makan yang Melda bawa.

"Lah pake diambilin air segala?"

Melda tersenyum. "Nggak apa kok,"

Azka sedikit terkejut saat melihat makanan kesukaannya yang ada didalam kotak makan milik Melda. Semur ayam. Memang makanan favoritnya dari dulu. "Ini buatan lo?"

Melda tertawa, "Ya enggak lah, gue mana bisa masak,"

"Jadi siapa yang masak?"

Melda terdiam bingung mau menjawab apa. Sampai ia bergumam tidak jelas untuk memilih alasan yang tepat dan masuk akal agar dipercaya Azka. "Eum.. masakan.. Mama. Iya! Masakan Mama," kemudian Azka hanya manggut-manggut sambil ber oh ria.

Azka menyendokkan makanan itu kemulutnya. Rasanya sama dengan masakan Mamanya. Sama persis. Rasanya juga sama dengan bekal yang dibawa Karin kala itu. Azka mengedikkan bahu tak peduli mungkin pikirannya saja karena terlalu merindukan Mamanya sehingga semua rasa semur ayam itu dirasa sama oleh mulutnya.

Melda, cewek itu memperhatikan setiap gerak-gerik Azka ketika makan. Namun saat Azka balik menatapnya ia malah pura-pura melihat kearah lain sehingga membuat Azka tertawa sendiri didalam hatinya.

"Oh iya, bentar lagi kan ujian Ka. Jangan sering bolos mulu, malem tidurnya harus cepet supaya lo bisa bangun pagi, kalo lo begadang mulu mana bisa bangun pagi,"

Azka menghentikan pergerakan menyuapnya. Ucapan Melda barusan mengingatkannya kembali pada wanita yang telah lama ia rindukan. Melda benar-benar persis seperti Mamanya. Hati Azka memang tak pernah berbohong, hatinya memang tepat saat tak bisa membenci cewek seperti Melda disaat ia memang membenci semua cewek.

Sial. Kenapa Melda sebegitu pedulinya sama gue?

Azka yang awalnya duduk disingle sofa berpindah duduk disofa panjang tepat duduk disebelah Melda. Dengan posisi yang sedikit menyerong agar ia bisa melihat Melda dengan leluasa. Tangannya bergerak menuju kedua tangan Melda kemudian menggenggamnya. Bahkan sampai Melda terkejut dengan perlakuan Azka yang tiba-tiba seperti ini.

"Mel... lo mau nggak?"

Melda meneguk salivanya. Dengan posisi seperti ini benar-benar membuat detakan itu kembali hadir. Bahkan rasanya seluruh tubuhnya mati rasa saat ini.

"Mau apa Ka?"

------------------------------------------------

Jangan lupa tinggalkan vote serta komentarnya!

Tell Me WhyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang