Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

26. Azka si Tutor Gitar

98 16 1
                                        

Melda mendaratkan bokongnya ditempat duduknya. Kini jam menunjukkan pukul 7 kurang 20 menit dan Melda telah sampai disekolah. Ia sengaja datang lebih awal karena hari ini adalah jadwal piketnya dikelas. Setelah menaruh tasnya dimeja, ia berjalan menuju sudut belakang kelas, letak peralatan kebersihan dikelasnya. Kemudian ia mulai menyapu.

Keadaan kelas masih cukup sepi. Hanya ada Nisa yang selalu membaca novel everywhere and everytime, ada Doni yang juga selalu menyambung tidurnya ketika sampai dikelas, Kesya yang asik dengan ponselnya, Indra yang pagi-pagi sudah kecanduan mobile legend.

"Ndra angkat kaki lo gue mau nyapu nih," perintah Melda saat ia akan menyapu bagian tempat duduk Indra. Tanpa menoleh Indra mengangkat kakinya dan tetap fokus pada ponselnya. "Ooh maap ya bi,"

Reflek Melda menggeplak bahu Indra sampai-sampai ponselnya terjatuh mengenaskan kelantai. Terlihat wajah Indra yang shock melihat benda kesayangannya tergeletak mengenaskan dibawah sana sementara Melda menyengir kuda sambil mengangkat kedua jarinya membentuk V.

"Melda yaampun hp mehol gue!" dengan segera ia mengambil ponselnya lalu meniup-niupnya dan mengelus-eluskan dengan rasa penuh kasih sayang.

"Heheh abisan lo sih panggil gue bi..bi.. emang gue pembantu lo!" kata Melda sambil menyengir lalu disusul pertanyaan dengan galak.

"Lo tau gak sih dia udah gue anggap sebagai pacar gue sendiri," pernyataan Indra membuat Melda memutarkan kedua bola mata jengah. Maklum Indra sudah lama menjomblo. "Cari pacar gih sono! Main ml mulu, mana dapet pacar. Gue mau piket,"

Akhirnya Indra keluar kelas dengan pasrah sambil menaruh pacarnya disaku seragamnya. Dan Melda bisa menyapu dengan nyaman.

Melda menoleh saat mendengar suara langkahan kaki memasuki kelas. Ternyata Azka. Saat mata mereka berpas-pasan Azka hanya mengangkat kedua alisnya sebentar sambil tersenyum tipis. Begitu juga dengan Melda.

"Rajin amat pagi-pagi," ucap Azka sambil berjalan menuju kursinya.

"Buat orang yang gak pernah piket sih, wajar kalo orang piket dibilang rajin," sahut Melda sambil menahan tawanya.

"Anjay dalem ya Mel,"

Satu persatu teman-teman kelas Melda berangsur datang memasuki kelas. Begitu juga dengan ketiga sahabatnya, Resty, Megan dan juga Nabila. Nabila yang kebetulan piket dihari yang sama dengan Melda ikut membantu setelah mengambil satu sapu lagi.

Riska yang memang menjabat sebagai seksi kebersihan, datang memasuki kelas. "Wah ini kelas apa tempat sampah?" tanyanya begitu memasuki kelas sambil geleng-geleng kepala. Kemudian ia berjalan kedepan kelas untuk melihat daftar jadwal piket pada hari Rabu ini. Kemudian ia melihat Indra yang baru masuk kekelas sambil memakan gorengan.

"Woi Indra piket gak lu! Pagi-pagi udah makan aja, liat ni kelas kotor banget!" kata Riska mulai jengkel sementara Indra hanya cengengesan tidak jelas. "Gue udah hapus papan tulis tadi," seru Indra membela diri.

"Lah kalo gitu tadi gue idupin lampu ama kipas angin. Berarti gue bantuin yang piket hari ini dong?" sahut Kesya yang mendengar pembicaraan Indra dengan seksi kebersihan itu.

Seketika murid-murid dikelas sontak tertawa saat mendengar perbincangan mereka. Riska si seksi kebersihan ini sudah biasa memang setiap pagi memarahi teman-temannya yang tidak piket.

Sementara Azka memegang sekop didepan kelas untuk membuang sampahnya ke tong sampah yang telah tersedia disetiap samping kelas.

"Lah tumben rajin amat abis gue sindir ya?" sindir Melda lagi saat Azka sedang memegang sekop didepan kelas mereka. Azka memasang wajah pasrah. "Gue mah apa, cowok. Cowok emang selalu salak,"

Tell Me WhyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang