Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

6. Pertolongan Kedua

206 35 8
                                        

Mobil Melda meninggalkan perkarangan rumah Rani setelah berpamitan dengan wanita paruh baya yang seumuran dengan Mamanya itu. saat Melda keluar dari gang rumah Rani, tiba-tiba ia dihadang oleh 3 preman dengan dua motor yang mendadak berhenti didepan mobilnya, membuat Melda mengerem mendadak dan kepalanya terbentur oleh stir mobil.

"Oh shit!" umpat Melda sambil meraba-raba dahinya. Ia melihat ada tetesan darah yang melekat pada tangannya.

Salah satu dari preman itu mengetuk kaca mobil Melda. Melda menelan ludahnya. kali ini ia benar-benar takut. Bagaimana kalau ia akan dirampok, atau bahkan diculik. Melda benar-benar bingung harus menghubungi siapa. Kini ia terperangkap diantara preman-preman tersebut.

"Woi! Keluar lo!" teriak preman yang lain ikut menghampiri mobil Melda.

Melda masih diam didalam mobilnya. Air bening yang transparan mengambang dikelopak matanya bagian bawah. Membuat pandangannya menjadi blur. Hingga air bening itu turun melewati pipi halusnya bak air terjun yang sangat deras.

Baru saja Melda ingin menelepon Mamanya, preman itu mengetuk-ngetuk kaca mobilnya lagi.

"Kalau lo gak keluar, gue pecahin nih kaca mobil!! Keluar lo!!" teriak preman itu lagi sambil terus mengetuk-ngetuk kaca mobil Melda. Dengan takut-takut ia buka pintu mobilnya, dan keluar dari mobil.

Melda masih terisak sambil memegang erat ponselnya. "Lama amat lo keluar. Mentang-mentang cantik, sombong dia bos," ucap preman yang baru saja turun dari motornya. Mengatakan kata "bos" pada preman yang badannya paling besar.

"K-kalian ma-..mau a-apa. Saya gak pu-punya apa-apa.." kata Melda tergagap.

Dengan sergap, preman yang dipanggil bos itu merampas ponsel Melda, membuat Melda memelototkan kedua matanya.

"Hp gue,, sini hp guee!!!" teriak Melda. Tangisnya pecah.

Lalu preman yang lainnya merampas sling bag yang Melda selempangkan. Melda berusaha mempertahankan tasnya dengan sekuat tenaganya. Terjadi adegan tarik-menarik. Kemudian preman yang dipanggil bos tadi, mendorong Melda hingga Melda tersungkur ketanah.

"TOLOONGG!!" teriak Melda. Tangisnya benar-benar pecah. Darah yang berasal dari jidatnya turun dengan mulus hingga mengenai baju kaus yang ia kenakan. Keadaan disini sangat-sangat sepi dan tak memungkinkan untuk ada orang yang mendengar teriakan Melda. Bahkan sekedar orang lewat pun tidak ada.

"WOY!!" seorang cowok yang mendengar teriakan Melda, berhenti dan turun lalu menghampiri Melda dan ketiga preman itu. mungkin kali ini nasibnya beruntung. Melda bernapas lega sambil memegang dadanya dan menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Heh, mau apa lo? gak usah sok ikut campur!"

"Woy siapa lo !!" ucap sipreman dengan wajah sangarnya.

"Dia cewek gue, jadi ini urusan gue!"

Si-Bos preman maju dan menghajar cowok yang datang tiba-tiba itu. Dan terjadilah adegan tumbuk menumbuk. Adegan yang tak pernah Melda lihat sebelumnya. Adegan yang Melda liat hanya ditv, dan sekarang dia bisa melihat didepan matanya. Sipreman melayangkan satu tinju kepada cowok yang menghajarnya itu. Melda meringis saat mendengar suara krek diantara mereka. Bisa Melda tebak itu adalah suara tulang yang mungkin retak?.

Dengan cepat Melda masuk kemobilnya. Berdiam diri dengan diselimuti ketakutan yang membuatnya tidak bisa bicara bahkan sulit untuk bergerak. Melda menelan ludahnya. tenggorokannya mendadak kering padahal tadi sebelum berangkat mengantar Rani, ia sudah meminum satu gelas besar air es yang selalu tersedia didalam lemari pendinginnya. Ia menutup wajahnya, menumpahkan segala air matanya.

Tell Me WhyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang