Syera terus melirik Erik di meja makan. Pria itu tampak marah, begitu terkanya. Terlihat dari Erik yang memilih diam di antara keributan yang Rika buat. Sementara Syera sendiri memilih ikut heboh bersama Rika daripada memancing kecurigaan mertuanya.
"Pa, ma, tau ngga anak tante Neta tetangga kita itu. Kamu kenal kan, Syer? Anaknya udah ngelahirin loh! Nikahnya baru lima bulan. Syer, kamu kapan?"
Syera memutar bola matanya malas saat Rika memancing obrolan yang sensitif baginya dan Erik tentunya.
"Itu hamil duluan namanya, pinteer," jawab Vita tampak lelah meladeni obrolan anak perempuannya yang selalu saja aneh.
Rika langsung memajukan bibirnya, menatap sang ibu. "Iiiih mama mah gitu amat ngomongnya. Sakit ini perasaan, Ma."
Syera terkikik, lalu melirik Erik yang hanya geleng kepala saja pun dengan ayah mertuanya.
"Tapi beneran, loh."
Syera dan Erik bersamaan menatap Vita yang bersuara.
"Belum ada tanda-tanda Syera isi, nih?"
Vita menatap menantunya butuh jawaban. Sedang Syera lantas melirik Erik yang tampak tak peduli. Pria itu santai memakan makan malamnya tanpa ada niatan untuk membantu Syera menjawab pertanyaan ibunya.
Kesal. Syera kembali menatap Vita dengan wajah merasa bersalah. "Maaf, ma. Er--mas Erik bilang tunda aja dulu. Syera disuruh KB."
Namanya disebut, Erik lantas menatap tajam pada Syera yang tersenyum penuh kemenangan. Melihat sekitar, Erik mendapati tatapan penuh penghakiman dari kedua orangtuanya.
Pria itu menarik napas dalam. "Erik pikir kita harus pacaran dulu." Mengabaikan tatapan kesal Vita yang lebih kentara, Erik kembali menatap Syera. Dia akan menghancurkan wajah kemenangan wanita itu. "Tapi kayaknya aku salah. Syera mau punya anak secepatnya ternyata."
Syera lantas melotot ngeri. Terlebih melihat seringai yang Erik keluarkan.
"Mama sama papa tunggu sebentar lagi." Erik masih menatap Syera. Hatinya tertawa mendapati wajah wanita itu yang sudah memerah. "Nanti kami pasti bakal ngabarin soal kehamilan Syera. Secepatnya."
Berbeda dengan ucapan syukur Vita. Syera langsung tersedak mendengar ucapan Erik.
"Lo--eeeh kamu kenapa?" Rika menaikturunkan alis. "Seneng banget kayaknya udah dikasih izin buat hamil." Dia tertawa, seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Syera. Dan ya ... Rika sebenarnya tahu. Sangat tahu jika ada yang tak normal dalam hubungan kakak dan temannya ini.
*
"Syer." Rika mendekati Syera yang tengah mencuci piring. Rika sendiri baru selesai memberesi ruang makan. "Hubungan lo sama abang gue." Dia menyipitkan mata pada kakak iparnya yang sudah gelisah. "Ada sesuatunya, kan?"
Syera melirik Rika, lalu menyikut perut wanita itu. "Apaan sih. Ngga usah sok tau!"
"Ck!! Gue tuh paham lo dari lemak gue se-tong penuh, sampe kebakar habis, tersisalah kemolekan di badan gue!! Lo ngga bisa bohong."
Sekali lagi, Syera mengelak. Sebenarnya, andai dia tak menikah dengan kakak sahabatnya sendiri, dia pasti sudah menceritakan semuanya. "Ngga usah sok jadi detektif. Ngga cocok!"
"Alah!! Ngga usah ngehindar! Lo sama abang gue belum pernah begituan, kan?"
Syera menghentikan pekerjaannya lalu menatap Rika. Dia diam, mencari jawaban yang tepat. Tapi Rika menginterupsi dengan cepat pikirannya itu. "Serius?! Lo sama ab--"
Secepatnya, tangan yang masih penuh sabun itu membekap bibir Rika membuat wanita itu mendorong Syera dan langsung membasuh bibirnya cepat. "Setan lo, ya?! Kalau gue keracunan gimana?! Lagian itu penuh sama bakteri, malah lu sumpel ke mulut gue!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
General FictionTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
