7 Aroma CLBK

126K 9.8K 249
                                        

Sebuah tepukan pelan di bahu Syera membangunkannya. Dia lihat Meta di sebelahnya, sedang Rika entah sudah ke mana. "Subuhan. Bangunin Erik." Dia mengangguk, seiring dengan Meta yang beranjak ke dapur.

Syera menoleh ke samping. Melihat sinis Erik yang tidur terlentang. Tak mau basa-basi membangunkan dengan cara lembut, Syera menampar pipi suaminya. "Bangun!!" ketusnya lantas bangkit tak peduli pada Erik yang langsung membuka mata dengan ekspresi kaget.

Dia terpaku menatap Syera pergi, sebelum kemudian mengusap pipinya yang terasa perih. "Seminggu kamu bangunin, patah semua gigiku." Dia menggerutu.

Semua pria bergegas ke masjid. Sementara para wanita lainnya solat berjamaah di rumah, selesainya mereka ke dapur untuk memasak.

"Duuuh! Berapa hari di dapur sih, Syer? Masak telor aja gosong!" Meta menggerutu sambil membuang telor dadar buatan Syera yang warnanya nyaris menyamai pantat panci.

Syera duduk di meja bar, sambil memakan satu persatu kentang goreng buatan Meta yang paling pandai memasak di antara mereka. Nia adiknya saja kalah. Karena itu Rian paling suka kalau diajak ke rumah kakak iparnya itu. Bisa makan enak. Kalau di rumah, selalu saja menikmati makanan yang keasinan, atau hambar. Kalau hambar bisa ia tambahi bumbu sendiri. Kalau asin? Begitu terus bisa hipertensi dia.

Pun dengan Erik yang sangat suka jika diajak makan ke tempat Meta. Setidaknya dia tak perlu berhadapan dengan masakan Syera yang selalu membuat perut melilit. Syera selalu masak segala hal yang berbau pedas.

"Kan tadi diajakin Rika ngobrol. Makanya--"

"Kok nyalahin gue, sih? Dasar kakak ipar jahat!"

Belum apa-apa Erika sudah menyela. Sambil mengambil sebungkus snack dari dalam kabinet. Rika mendekati Meta. "Kak!! Semalam ada yang cipokan sam--aw!" Meta mengusap kepalanya yang dilempar potongan kentang mentah oleh Syera. Wanita itu melotot pada kakak iparnya. "Apaan sih, Syer."

"Lo tuh yang apaan!!"

Meta melirik sekilas, lalu memutar bola mata. Sudah biasa melihat Syera dan Rika berdebat. Rasanya kalau tak cekcok sebentar saja. Bisa kena struk mereka.

"Aah aah. Rik udaah. Udaah!!" Dengan gaya mengejek, Rika mengikuti apa yang Syera ucapkan tadi malam.

Tidur malam yang semestinya indah. Hancur sudah oleh kakak dan kakak iparnya.

"Gue ngga gitu!" elak Syera yang sebenarnya lupa apa yang ia katakan semalam. Itu karena efek ciuman Erik yang sialan nikmat!

"Alaaa!! Ngga gitu sekali!! Tapi berkal--"

"Sast! Pagi-pagi udah ribut." Tiba-tiba Erik menengahi.

"Eh. Udah selesai?" Meta yang bertanya.

Erika merangsek maju, menggandeng kakaknya. "Bang!! Adek dianiaya sama kakak ipar." Dia mengusap kepalanya yang terkena lemparan kentang. "Balesin!"

Syera memutar bola mata disertai dengkusan kesal. "Plis deeh!!" Wanita itu memilih untuk mendekati Meta. Tapi nyatanya kehadiran Syera tak diharapkan. Dengan kejamnya, Syera diusir. "Ntar telor gue lo gosongin lagi!!"

"Gusti Allah!! Leba--"

"Adduuh!!"

Nia mengusap perutnya dengan ringisan sakit. Sontak semua melihat ke arahnya dan mendekati. "Kenapa?" Erik bertanya.

Nia diam sesaat dengan mata terpejam. "Sakit dari tadi. Tapi tadi ngga begitu kerasa. Tapi kok sekarang rasanya ... jelas banget, ya?" Nia kembali mengaduh. Tangannya mencengkram kuat tangan Erik.

"Riaaan!! Riaaan!"

Erik berteriak memanggil suami Nia, sedangkan para wanita mencoba menenangkan Nia yang makin merintih kesakitan.

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang