Setelah Erik mendominasi obrolan untuk beberapa saat. Akhirnya ia terdiam demi tak ingin benar-benar memaki di tempat umum.
Beruntung tak lama pesanan mereka datang dan Erik makan dengan begitu lahap, sedangkan Syera tampak malas-malasan memakan sarapannya. Erik menyadari sikap istrinya, namun tak ia acuhkan. Sekarang dia tengah berada dalam mode benar-benar kesal dan kecewa.
Napas lega terdengar dari Erik, memancing Syera untuk melihat suaminya yang sudah menyelesaikan sarapannya yang tandas habis tak bersisa. Erik itu lapar apa rakus?
Seketika ia langsung mengerucutkan bibir. Bagaimana bisa orang bersikap setenang itu setelah cekcok terjadi di antara mereka barusan? Syera saja masih memikirkannya. Hebatnya wanita itu bisa berpikir juga.
"Aku tunggu di mobil. Kamu bayar, ya?"
"Eh?" Syera nyaris tersedak mendengar ucapan Erik. Sejak kapan ada aturan wanita mentraktir pria, apalagi makannya jauh lebih banyak dari yang mentraktir.
Erik yang baru akan berdiri, menatap istrinya yang terdengar terkejut. Dia kembali duduk untuk mempertanyakan respon wanita itu. "Kenapa eh? Aku sudah transfer uang ke kamu. Jadi untuk makan dan belanja pakai uang yang sudah aku transfer."
Kerutan di antara alis Syera menghilang bergantikan kerucutan bibirnya.
Setiap belanja menjelang akhir bulan wanita itu akan menyuruh Erik atau mereka pergi bersama. Itu semua dilakukan agar sisa uang yang ada di tangannya bisa bertahan hingga akhir bulan. Tapi karena kesal, Erik sengaja melakukan ini padanya. Belanja dengan uangnya? Ya ampun. Apa cukup.
"Ya ... ya tapi." Syera mendadak gelisah. "Duitnya tinggal dikit," jawabnya kemudian sambil berbisik disusul cengiran lebar. "Lagian kan itu transferan dua minggu yang lalu."
"Aku ngasih uang bulanan, Syer. Bukan uang mingguan." Erik memutuskan untuk berdiri. "Ya udah, bayar pakai gaji kamu."
Syera kehilangan kata-kata untuk menjawab. Dia hanya menganga dan melihat kepergian Erik menuju mobil pria itu. Harusnya Syera tahu resiko jika membuat si babon itu kesal. Erik akan menjadi orang yang amat sangat kelewat menjengkelkan.
Usai membayar makanan mereka, Syera masuk ke dalam mobil dengan raut kesal yang terbaca jelas. Sedang Erik masih mengabaikan, melaju kendaraan mereka yang sudah keluar dari area parkir.
Syera jadi berpikir untuk meminta Erik memutar arah, kembali ke rumah, karena uang yang ia miliki hanya tersisa tak lebih dari satu juta rupiah. Jika Erik menyuruhnya membayar semua belanjaan nanti, dengan apa dia membeli bensin motor dan makan siang di kantor?
Sialnya dia yang menggunakan uang pemberian Erik untuk membeli tas dan sepatu yang harganya dua kali lipat dari sisa uang yang ia miliki.
Akhirnya perdebatan dan sikap menjengkelkan Erik membuat perjalanan yang dilalui sepi, tanpa perbincangan sama sekali hingga tiba di tempat tujuan. Erik turun terlebih dahulu, berdiri di depan kendaraan, menanti Syera yang ragu-ragu untuk membuka pintu. Namun suara ketukan di kaca sampingnya membuat ia merengut sambil membuka pintu. "Kenapa lama?" tanya Erik, menggeleng pelan dan melimbai menjauhi Syera yang kemudian menyusul malas-malasan.
Kalau tahu begini ia tak perlu mengajak Erik pergi belanja. Peduli setan tak jadi berkencan. Toh rencana kencan yang ada di kepalanya sudah rusak semua karena sikap Erik.
"Aku cari snack. Kamu cari bahan-bahan dapur."
Belum sempat Syera membuka suara untuk mencegah, Erik sudah meluncur ke jajaran makanan ringan. Syera akhirnya hanya bisa menganga dan menatap troli kosong yang Erik beri padanya barusan.
"Mati gue."
Kalau duitnya ngga cukup gimana?! Ya kali gue gadaiin gelang yang baru lunas.
Dengan derita yang menyesakkan dada, Syera mendorong troli menuju bahan pokok dapur, sambil memikirkan nasib sisa uang yang sesaat lagi akan melayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
РазноеTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
