Rian menolak permainan Truth or Dare di saat sang istri ada di sampingnya. Kalem begitu, kalau marah lumayan membuat bulu kuduk berdiri. Kan bahaya kalau moncong botol menunjuk padanya. Bisa-bisa ia dimintai kejujuran oleh sang istri perihal ke mana isi dompet yang dijatah oleh Nia. Mengapa bisa raib hanya dalam waktu satu hari?
Uangnya tidak habis untuk senang-senang dengan wanita lain. Tidak. Dia tidak setega itu pada istrinya yang tengah hamil tua. Tapi habis untuk mentraktir teman kantornya. Kemarin saat Nia bertanya, ia jawab untuk disedekahkan. Sekarang kalau disuruh untuk jujur bagaimana? Dia takut bohong sekali lagi, akan dihadiahi kutukan ibu hamil.
Jadi dia mengubah permainan menjadi Dare or Dare. Beruntung tak ada yang keberatan. Karena sepertinya semua yang berkumpul di ruang tengah rumah Erik dan Syera ini juga takut kalau disuruh jujur.
"Kita mulaai!"
Erika memutar botol yang ada di tengah, dikelilingi oleh mereka. Rian langsung tersenyum senang kala moncong botol berhenti tepat di hadapannya. Senang bukan karena akan dikerjai oleh teman-temannya. Bagian itu jelas menyesakkan. Dia senang karena tak ada truth di antara mereka.
Nia melirik Syera yang mendapat bagian pantat botol. Jadi dia yang akan memberi tantangan, tentunya kompromi dengan orang di sekitarnya, kecuali Nia yang tak ingin ikut mengerjai suaminya. Takut durhaka. Andai saja truth tak Rian hapus begitu saja. Dia pasti sudah meminta Syera untuk bertanya perihal uang Rian yang dia jatahkan dari gaji suaminya itu.
Di tempatnya Rian duduk santai, meski dadanya berdebar. Semua temannya tahu apa kelemahan yang ia miliki. Dan dia berdoa dengan wajah pura-pura tenang, semoga para temannya amnesia mendadak. Jadi dengan begitu tak akan ada tantangan untuk menangkap cicak atau kecoa.
"Oke!! Bentar, yah?"
Tama berdiri dari tempatnya setelah berdiskusi. Sedang yang lain langsung memberikan cengiran licik pada Rian. Perasaan pria itu tak enak. Nia yang tahu apa rencana temannya hanya bisa mengelus bahu sang suami. "Sabar. Ini ujian," ucap wanita itu yang sama sekali tak menenangkan.
"Oke!" Tama kembali. Ia duduk bersila di samping istrinya dan tersenyum lebar pada Rian. Senyumannya seperti boneka Annabelle. Menyeramkan. "Siniin tangan lo."
Rian terbelalak takut. Ia memandang istrinya mencari pertolongan. Tapi Nia malah bergeser, menjauh.
"Yan!"
Syera mengagetkan. Belum dapat tantangan saja dia sudah merinding duluan. Aduh tidak lucu kalau dia harus kencing di celana gara-gara dikerjai begini.
"Ka ... kalian jangan macem-macem, deh!! Ngapain gu--"
"Yan!! Profesional!!" Erik yang ada di sampingnya langsung menyerobot tangan Rian dan dengan berusaha keras menjulurkan tangan pria itu ke depan. Ada adu tarik menarik sebelum akhirnya Erika sang adik membantu agar bisa mengangsurkan tangan Rian ke depan.
"Sumpah demi mak gue yang belum mau anaknya mati--"
Buk!
"Sayang kok ngomog gitu, sih?!"
Nia malah memukulnya dan mengajukan protes. Punya istri kok seneng suaminya disiksa!!
"Itu cicak kan, Yang? Kamu kok tega sih sama suami?"
Siapapun yang mengidolakan ketampanan Rian. Jika melihat ekspresi pria itu saat ini, pasti semua yang mengidolakannya akan langsung memilih lupa dan jika ditanya; Rian itu siapa? Pasti akan menjawab. 'Nggak kenal'.
Ekspresinya seperti banci bertemu satpol PP.
Syera memutar bola mata jengah. Sama dengan yang lainnya. "Yang nentuin dare or dare kan elu tadi." Wanita itu melirik Tama. "Ayo, Mas! Buruan! Keburu mati cica--"
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
CasualeTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
