5 Kami Serius

129K 10.4K 86
                                        

Suara hentakan langkah cepat menghampiri Syera yang baru selesai mengenakan jaketnya. Belum ia berbalik untuk melihat siapa orang yang kurang kerjaan berlarian ke arahnya, sebuah tangan melingkari leher. "Sayang. Kita dinner, yuk?"

Syera memutar bola matanya. "Males!! Kalau sama lo mah dinnernya mentok di emperan jalan."

"Bener!! Jangan mau."

Suara wanita menyahuti Syera. Dalam dekapan pria yang tak lain adalah Rian, Syera langsung berbalik menatap tak percaya Nia yang tersenyum cerah padanya. "Ya ampun, sayang, kok ke sini sih?" Syera menepis tangan Rian dan berjalan menghampiri Nia. Dia memeluk wanita berperut besar itu dari samping, kemudian mengecup singkat pipi gembil Nia. "Bahaya loh. Ini udah sembilan bulan, malah jalan-jalan."

"Abis bahaya kalau Rian dilepas gitu aja. Nyangkut ke majikan lain dia entar."

"Ya ampun, Istri! Emangnya suami kamu ini anjing peliharaan?!" Rian cemberut dan Syera mual mendengar sebutan Rian pada istrinya.

"Kalian di sini?! Ayok cari makan! Keburu kemaleman."

Erika datang, dan Syera berucap syukur karena tak harus lebih lama lagi menghadapi kelebayan Rian.

Kemudian satu persatu muncul, mulai membicarakan di mana tempat mereka akan makan malam bersama seperti yang biasa mereka lakukan setiap malam minggu.

"Badanku ngga enak, Syer." Di sela-sela perbincangan para sahabatanya, Erik mencuri waktu untuk berbicara dengan Syera. Pria itu mengurut keningnya yang terasa pusing.

Syera yang ikut tertawa atas obrolan sahabatnya, melirik ke arah Erik. "Salah siapa kemaren hujan-hujanan."

"Aku sakit, Syer. Bukannya malah disalahin."

"Ekheeem!! Diskusi sendiri-sendiri!!"

Erika menginterupsi perbincangan Erik dan Syera. Membuat pasangan itu mendesis tak suka.

Rian yang tertarik pada ucapan Erika langsung menarik Syera masuk ke dalam pelukannya. "Sayang! Meski ada istri pertama. Pliis jangan beraninya selingkuh!" Rian yang gila dan kurang ajar mencibir Erik. Tingkah pria tiga puluh tahun itu benar kekanakan. Erik yang melihatnya saja mual.

Syera memberontak. Lalu menepuk pipi Rian. "Sumpah, Ni! Lo kok betah sih hidup sama cangcupret macem Rian?!"

"Terpaksa!! Gue tau kalau adik gue pasti diguna-guna!" Meta segera menyahut dan sebagai rasa prihatinnya dia memeluk Nia yang hanya tersenyum geli, dari samping.

"Ya ampun!! Kenapa lelaki baik kay--"

"Ayo buruan!! Gue laper."

Erik memotong ucapan Rian begitu saja, sebelum menarik tangan Erika dan Syera untuk meninggalkan Rian yang mencak-mencak, karena Tama, dan Meta juga pergi mengikutsertakan Nia. "Kalian yang jahat! Bukan Rangga!!"

****

Entah mengapa setiap ada kesempatan, Syera dan Erik berbincang di tengah-tengah obrolan sahabat mereka. Yang menyadari keduanya berbicara menganggap jika topik obrolan Erik dan Syera pasti tak jauh-jauh dari obrolan mesra.

Tapi yang mendengarnya pasti langsung mendengkus tak menyangka, karena nyatanya pasangan suami istri itu bukan saling bertukar kata mesra, melainkan bertukar emosi.

"Terserah! Gue ngga nyuruh lo hujan-hujanan kemaren. Terus lembur setiap hari. Males ngerokin! Ngga mau mijitin juga. Gue bukan tukang pijit."

"Dada sesek, Syer. Amal buat laki kenapa, sih?!"

"Lakinya model elu? Sori yah! Ga sudi."

"Pijitin bentar, pokoknya!"

"Ogyaaah!! Iissh nazis tralala trilili."

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang