Erik berdiri di ambang pintu, memperhatikan langkah ceria Syera yang melenggok ke arah dapur. Kening pria itu berkerut, sekaligus mengerucutkan bibir. "Baru pulang?"
Syera yang baru tiba di ambang pintu penghubung ke arah dapur berhenti. Wanita yang belum mengganti pakaiannya itu menampilkan raut terkejut saat berbalik melihat Erik. "Lo belum tidur?!"
"Kemana aja? Keluar sampai berjam-jam."
Ekspresi Syera berubah masam. "Kalau keluar beberapa menit aja, berarti gue cuma sekedar beli sereal ke minimarket depan! Helow bro!! Ini jalan-jalan!! Dan cewek mana yang jalan-jalan cuma satu jam aja?! Andaikan ada pun, yang jelas bukan gue!"
Ekspresi masam berganti pada Erik. Bertanya sebaris, dibalas lima baris. Begitulah perempuan. "Ngga ada suara motor. Motor kamu ke mana?"
Wanita yang masih berdiri di ambang pintu itu tampak berpikir sejenak, sebelum menjawab, "Ada di kos temen. Tadi pergi pakai mobil temen, sih. Jadi baliknya diantar."
Erik diam, lalu mulai berjalan mendekat. Namun aura aneh yang terpancar dari mata tajamnya membuat Syera tergerak untuk mundur selangkah. "Ken--kenapa?"
Erik menjawab setelah ia berada di samping sang istri. Kepalanya sedikit menoleh, menyatukan pandangan pada tatapan waspada Syera. "Haus."
Syera bergerak mundur dua langkah, untuk memberi ruang. Tatapannya yang belum teralihkan dari Erik, menjadi curiga ketika Erik tak bergerak dari posisinya.
Tapi kemudian ia terkesiap kala Erik menghirup udara dengan agak kencang. "Kamu cium sesuatu, nggak?"
Syera kembali waspada. Langkahnya bergerak cepat menghampiri Erik. Ia ketakutan. "Bau apa? Melati? Mawar? Kemenyan?"
Dengan serius, Erik makin menajamkan penglihatannya pada Syera. Ia menunduk dan menghirup rambut wanita itu. "Bau kebohongan."
"Anjrit!" Sontak Syera mendorong Erik. Namun dorongannya tak cukup untuk mengeser tubuh besar sang suami.
Erik hanya bergerak ke belakang sedikit, sebelum kemudian mendekatinya, dan menyudutkan ia di sebuah kabinet. Syera terpaku pada perlakuan menakutkan suaminya.
"Kenapa??"
"Kamu pulang sama siapa?"
"Sama temen!"
"Perempuan atau laki-laki?"
"Ha?" Syera mengerjap. "Ya ... ya cewek lah!"
"Heem. Aroma kebohongan makin tajam tercium!"
"Ngga usah lebai!" Syera kembali mendorong Erik, namun yang didorong bergeser saja tidak.
"Aku perhatikan lipstik kamu agak belepotan."
Setan! Batin Syera memekik.
"Bibir istriku ngga mungkin abis nabrak tem--"
"Kalau aku jalan sama cowok kenapa? Kalau bibir aku belepotan, kenapa? Masalah? Lagian kan tadi kamu yang bikin belepotan!!"
Secepatnya, Erik mengambil tangan Syera dan meletakannya di atas dada. "Ucapan kamu bikin sesuatu yang ada di sini menjadi nyeri." Erik menggeleng dramatis. "Sebelum jalan kamu pasti benerin lipstik kamu, Syer."
Syera melotot. Sangat tak yakin jika yang di hadapannya ini benar-benar Erik yang selama ini ia kenal. "Kayaknya tadi beneran ada aroma menyan, deh! Aroma setan yang ngerasukin elo!"
Alih-alih tertawa dengan ucapan Syera, Erik makin memperpendek jarak mereka. "Kamu selingkuh? Kamu lupa kalau kita ngga boleh menjalin hub--"
"Apaan, sih?! Lo jangan asal nuduh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
AcakTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
