Sekarang katakan saja jika suami istri yang sudah terikat dalam bahtera rumah tangga selama empat bulan itu merupakan pasangan serasi yang bahagia. Pergi berduaan di hari Minggu, dengan penampilan sama-sama rapi dan mempesona. Tapi jika serasi dinilai dari hal fisiknya saja, maka Syera tak setuju. Karena semenjak memasuki mobil Erik, pria itu diam seribu bahasa, bahkan melirik Syera saja tidak.
Pria itu hanya tersenyum tipis sekali saat menyambut dirinya tadi, dan sekarang keberadaan Syera seakan dibumihanguskan oleh pandangan pria itu.
"Ehem!" Syera berdehem, memancing setidaknya perguliran bola mata Erik berubah ke arahnya. Tapi tidak. Wanita itu langsung mendelikkan matanya kesal. "Yang di rumah mobil siapa?" Akhirnya dia yang memulai obrolan yang entah akan mati pada pertanyaan pertama atau berlanjut? Tanyakan pada Erik yang sepertinya tengah tak ingin berbincang.
"Mobil kantor. Kemaren ada rapat dan selesai sore. Buang waktu kalau ke kantor untuk ambil motor. Jadi aku bawa pulang mobilnya. Dan motor dibawa temenku."
Syera membuka mulutnya mendengar jawaban panjang Erik yang seperti menjebak dirinya untuk tak mengajukan pertanyaan yang lain perihal mobil. Pernyataan pria itu sudah menjawab pertanyaan yang Syera rancang.
Bagus. Erik pasti sengaja.
Akhirnya Syera hanya mengangguk saja, dan memilih untuk memperhatikan keramaian di luar sana dari dalam mobil milik Erik. Wanita itu diam dengan bibir maju ke depan, sambil berpikir apa yang bisa ia obrolkan dengan Erik, karena sesungguhnya tak enak jika didiamkan di saat dirinya bersalah.
"Ini serius di Kelapa Gading?"
Melihat kemacetan di depannya, Erik baru membuka suara. Tadi sebelum berangkat Syera menyarankan untuk ke Mall Kelapa Gading, sementara tak jauh dari komplek tempat tinggal mereka terdapat Mall yang bisa ditempuh tanpa harus melewati kemacetan.
Syera menatap suaminya, berpikir sejenak. "Eem ... iya. Di sana ada baju yang gue pengen."
Pria itu langsung mengeluarkan udara dari mulut, sambil menatap jajaran mobil dan motor di depannya yang membuat pusing kepala. "Kalau mau putar balik, mumpung di sebelah kita ada gang." Pria itu menawarkan solusi yang tampaknya tak berpengaruh untuk Syera.
Karena buktinya wanita itu hanya diam sambil menatap Erik monoton.
"Di sana juga pasti ada baju yang kamu mau."
Syera menggeleng pelan atas usaha Erik yang ingin menghindari kemacetan di depannya. Karena bagi wanita itu lebih baik menghadapi macet, dibanding harus pergi ke mall yang tak jauh dari rumah sakit di mana Shaka bekerja.
"Ini macet, Syer. Kalau gini kita siang baru sampai ke sana."
"Ngga papa lah."
Erik menaikkan sebelah alisnya, merasa ada yang aneh dari keengganan Syera yang terkenal serba praktis itu. Pasti bukan hanya karena baju, Syera membawa Erik pergi ke mall yang harus ditempuh melalui kemacetan. Pria itu mulai menerka.
"Shaka kerja di mana?"
Syera langsung melotot mendengar pertanyaan Erik. Dia tersenyum kaku, sambil mengeluarkan tawa kecil. "Kenapa ... kenapa tanyain Shaka?"
Erik menggeleng pelan. Dia menatap istrinya sejenak, lalu kembali memperhatikan jalanan di depannya. "Mungkin kamu takut kalau ketemu dia?"
Sontak, Syera tertawa kaku. "Ya ngga lah!" Sambil menekan dentuman keras di balik dadanya. Syera mempertanyakan naluri Erik yang begitu kuat dan tepat. Ini orang bisa baca pikiran gue apa, ya?
Seakan percaya, Erik mengangguk sekali, sambil melajukan mobilnya perlahan. "Ya udah, kita cari sarapan dulu aja, ya?" Lalu mengalihkan topik pembicaraan, karena tak ingin emosi karena semua terkaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
Ficción GeneralTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
