Sudah tersedia di Karyakarsa
Seperti biasa, Syera dan bibirnya yang cerewet terus berbicara sepanjang jalan, memenuhi seluruh penjuru ruang mobil yang hanya dihuni oleh Erik dan istrinya itu.
Aneh. Syera yang berbicara, Erik yang merasa kering mulutnya.
"Eh, nanti beneran di hotel kan, tidurnya?"
"Kenapa ngga tidur di rumah aja sih, Syer?"
Decakan Syera menjawab pertanyaan Erik. "Nanya dijawab nanya." Wanita itu diam sejenak, kemudian membentuk pola abstrak pada kaca di sampingnya yang mengembun karena hujan deras di luar sana. "Aku ngga mau tidur di rumah karena pertama, teh Maya dan ak Endra masih di rumah."
"Terus kenapa dihindarin?"
Sontak saja Syera cemberut. "Ada anak-anak. Nanti bukannya istirahat malah ngajakin main."
Erik tertawa pelan. "Ponakan sendiri juga. Lagian belajar ngurus anak, gitu."
Komentar Erik membuat Syera mengerjap dan ingatannya langsung lari pada pil KB yang tadi dirinya minum. Lagi. Penyesalan itu menyerbunya. Dia diam, membuang wajah untuk memperhatikan jalanan dari jendela samping agar Erik tak membaca perubahan ekspresinya.
"Terus yang kedua apa?"
Erik kembali pada topik obrolan awal mereka. Pria itu, meski Syera tak mengungkapkannya, tapi dia tahu jika istrinya tampak tak nyaman setiap membicarakan anak.
Syera melihat suaminya lagi, meneliti wajah pria itu yang akhir-akhir ini menginvasi dengan lancang seluruh mimpinya. "Aku ngga nyaman lama-lama di rumah," jawabnya kemudian tanpa menyebutkan alasan mengapa dirinya tak nyaman.
Sesungguhnya Erik ingin bertanya lebih lanjut. Tapi Syera yang memejamkan mata dengan kepala bersandar ke belakang, menjadi pertanda jika wanita itu ingin mengakhiri perbincangan.
"Kamu tidur? Mau berhenti sebentar buat istirahat?"
Syera menggeleng. "Jalan aja. Aku capek."
Usapan lembut yang mengirim getaran aneh di balik dada wanita itu, membuatnya membuka mata dan menatap Erik di bawah cahaya lampu jalan yang sedikit masuk, menerangi kendaraan mereka. Syera diam, memikirkan gelenyar aneh yang selalu muncul setiap Erik menyentuhnya. Bagaimana pun sentuhan itu, selalu sukses menciptakan denyutan ganjil di dadanya.
"Rik...." panggil wanita itu setengah putus asa. Dia selalu menyangkal semua keanehan yang timbul karena sentuhan suaminya, karena ia percaya bahwa hati tak pernah ditempati dua nama.
Dia memiliki Shaka. Hatinya nyaman pada pria yang selalu memperlakukannya dengan baik itu. Pria yang tak pernah menolak apapun yang ia mau. Pria yang tahu bagaimana dirinya, dan keluarganya. Tapi Erik? Pria ini agak kasar meski dalam hal tertentu dia menyukai ketidaklembutan suaminya itu. Tapi pria ini terlalu jahil atau malah sangat kelewatan. Dan juga terlalu menuntut. Memaksa. Dan tak mengenal siapa dia dan keluarganya.
Tapi ... mengapa dia merasa Erik berusaha masuk ke dalam hatinya dan bahkan mulai menggeser satu nama di sana. Menggeser terlalu jauh, hingga posisi Shaka telah berada di tepi dan dia takut ombak akan menghanyutkannya dan menghilang. Tapi ... mengapa ketakutannya tak sama dengan ketakutan ketika Erik ingin menceraikannya? Dia yakin rasa takut ini karena dia tak ingin menerima reaksi ayahnya jika dia dan Erik bercerai. Tapi sepertinya tak hanya begitu. Rasa takut waktu itu terlalu berlebihan untuk ukuran Syera.
Iya. Dia terlalu berlebihan hingga sanggup menyerahkan tubuhnya pada Erik. Bukankah semua ini untuk Shaka kelak jika akhirnya mereka bisa bersama. Tapi ... membayangkan pria itu yang menyentuh tubuhnya dia tak terima. Tubuhnya telah berkhianat, hanya menginginkan Erik yang memberi nikmat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
DiversosTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
