4 Perubahan Peraturan

136K 11.1K 151
                                        

Syera lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya adalah laki-laki yang hobi berkelahi, sama sepertinya. Sedikit-sedikit adu otot.

Ayahnya yang merupakan pensiunan TNI bahkan secara langsung mengajari anaknya cara untuk melindungi diri dari musuh--teman yang nakal.

Pulang dalam keadaan menangis, akan semakin mendapatkan hukuman. Tapi pulang dengan wajah penuh lebam asal tak menangis, akan diberi senyuman.

Begitu juga Syera tumbuh. Ibunya hanya mengajari ia sedikit tentang dunia wanita. Sisa pengetahuan hidup ia dapat dari kakak dan ayahnya.

Dia dimanja sebagai anak perempuan. Tapi tak serta merta masa kecilnya habis dalam buaian kelembutan.

Jika dia dan dua saudaranya melakukan kesalahan, maka ayahnya tak berat sebelah dalam memberi hukuman. Jika dua kakaknya harus berdiri dari siang, hingga sore di tengah halaman karena membuat kesalahan. Maka ia juga melakukan hal yang sama.

Ibunya tak banyak membantu saat dia dan dua kakaknya melakukan kesalahan. Bukan karena takut oleh sang suami, melainkan juga lelah menghadapi kenakalan putra putrinya. Tapi setidaknya, jika anaknya mendapatkan hukuman dijemur di siang hari, maka dua jam kemudian ibunya akan datang dengan payung dan sepiring nasi dan lauk.

Nanti jika ibunya sudah ikut berdiri menemani. Sang ayah akan luluh dan membebaskan mereka dari hukuman. Tapi sebagai gantinya, tentu saja mereka harus merapikan rumah, menggantikan tugas ibu.

Begitu cara ia dididik.

Mengalah ketika harga dirinya dijatuhkan jelas melanggar peraturan yang sudah ditanamkan di dalam dirinya sedari kecil. Ego Syera sudah dididik sedari kecil.

Tapi karena Erik. Pria yang baru satu bulan menikahinya, ia harus menjatuhkan diri dan memita maaf atas kesalahan yang tak ia lakukan.

Sebenarnya dia tak ingin meminta maaf. Tapi menetap di penjara, di saat ia harus bekerja esok harinya jelas bukan keputusan yang baik.

Tadi itu bisa saja ia menghubungi kakaknya untuk datang ke sini dan membebaskannya. Tapi dia sudah menikah, dan membuat saudaranya marah akan kelakuan Erik yang enggan membebaskannya hanya akan memperkeruh suasana.

Semua bisa mengendus ketidakberesan rumah tangganya dan sudah pasti Syera dipaksa bercerai dari Erik, kemudian dia harus mau dinikahkan dengan pilihan sang ayah.

"Kalau dengan menyogok Syafa Gym bisa bikin mereka bersikap seenaknya sama trainer di sini, gue ngga akan segan-segan ngebalikin semuanya dan mencoret nama Lili dari keanggotaan." Meta menggerung kesal dalam perjalanan pulang ke Syafa Gym.

Ia dan suaminya menjemput Syera pukul sembilan malam, tak lama dari Syera menghubunginya. Wanita itu tadi sudah mengumpati Erik habis-habisan, lalu mengumpati Lili dan anggota wanita lainnya yang membuat suasana Syafa Gym jadi gerah.

"Gue heran kenapa Erik bisa setolol itu!"

Tama yang menyetir lantas berdehem. Dia berada di dua pihak. Pihak satu memaklumi sikap Syera yang melakukan kekerasan terhadap Lili. Pihak lainnya, tak bisa menyalahkan Erik karena pria itu terkesan tak membela Syera. Dia tahu jika Syera memang harus berhenti bersikap kasar kepada siapapun yang mengganggu wanita itu.

Erik sangat ingin membuat Syera bersikap dewasa, sesuai dengan usianya. Sayang itu tak mudah untuk dilakukan. Syera dan sikap main hakimnya sendiri itu sudah bersahabat sedari bayi.

Syera tampak mengurut puncak hidungnya. "Gue nginep rumah lo, ya? Tidur di sofa ngga apa-apa." Syera mendramatisir keadaan. Yang mendengar hanya mendengkus saja.

Syera menempati kamar tamu yang sudah beberapa kali ia tiduri setiap kali menginap di rumah Meta. Dia beristirahat dari penyesalan yang menghujam diri. Penyesalan karena sudah mengucapkan kata maaf terhadap orang yang jelas bersalah padanya.

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang