Berdiri di depan kursi yang tersedia di pinggir lapangan untuk beristirahat, Erik bolak balik memeriksa kantong celananya untuk memastikan dirinya benar-benar tak membawa uang, sedangkan tadi pagi ia merasa telah membawanya untuk jaga-jaga jika kehausan.
Merasa tak menemukan yang dicari, Erik duduk dengan wajah lesu. Tenggorokannya terasa begitu kering setelah lari mengelilingi lapangan yang luasnya setengah dari lapangan sepak bola sebanyak lebih dari sepuluh kali.
Biasanya Erik akan pulang jika sudah mencapai lima kali putaran atau paling banyak tujuh putaran, itu juga jika sebelumnya dia sudah memasukkan kalori ke dalam tubuhnya dalam jumlah berlebihan. Tapi pagi ini dia seperti kerasukan setan, berlari seperti orang frustasi.
Berlari seperti tadi sangat menguras tenaganya. Bukan karena ia lemah. Tenaganya tadi sudah terbakar saat Syera pergi dengan lelaki lain. Kemudian makin ia habiskan dengan berlari tanpa memikirkan tubuhnya yang sudah berontak meminta istirahat. Benar. Dia berlari tanpa jeda tadi. Makanya jadi tontonan banyak orang.
Ini semua memang karena Syera. Sial! Tinggal bersama dalam waktu yang tak singkat dengan wanita itu ternyata berhasil merubah pendirian hatinya untuk tak jatuh hati. Ya ... Erik tak ingin tampil seperti orang bodoh dengan menyangkal perasaannya. Meski mungkin perasaannya pada Syera belum merajai hatinya seratus persen, tapi dia tetap akan mengakui jika perasaan yang timbul untuk wanita itu ada dan nyata. Tapi cukup jadi rahasia antara dirinya, hatinya, dan Tuhannya saja. Syera tak perlu tahu, jika tak ingin makin sakit hati melihat kecongkakan wanita itu karena merasa dicintai. Bisa-bisa diledek setiap hari dia jika mengaku tentang perasaan yang ia miliki. Syera kan wanita yang tak memiliki hati.
"Haus?"
Dingin yang dirasakan di tengkuk Erik secara tiba-tiba membuatnya seperti tersengat, dan langsung menoleh ke belakang melihat Syera si pelaku yang menempelkan minuman kaleng dingin di area tubuhnya tadi.
Wanita itu berjalan untuk bisa duduk di samping Erik dan menyerahkan minuman kaleng yang masih tersegel rapi. "Dari jauh tadi gue liat orang yang kelimpungan, kayak cari-cari sesuatu." Syera memandang Erik melas. "Kiranya abang Erik lagi cari-cari uang. Ya, kan?"
Erik menerima minuman pemberian Syera dan meneguknya hingga setengah. Lelehan air yang mengaliri jakunnya membuat Syera yang masih memperhatikan menelan ludah kesusahan. "Oh ya?" tanya pria itu setelah mengelap bibir yang basah.
Syera langsung melarikan pandangan ke arah lain, agar tak terkena rayuan kotornya untuk menjilat sedikit bibir Erik yang agak menghitam tapi seksi di matanya. Bertingkah biasa seolah tak tersihir oleh pesona Erik yang muncul hanya karena meneguk minuman kaleng dan dibubuhi lelehan air yang membuatnya ingin menggantikan posisi lelehan air itu agar bisa merasakan gerakan seksi jakun Erik yang menonjol dengan gagahnya, Syera mengangguk. "Ngga usah ngelak. Gue liat lo ngga jadi beli minuman tadi."
Erik tersenyum miring, lalu mencubit pelan hidung Syera membuat yang dicubit merinding seketika. "Ternyata kamu perhatian juga, ya? Udah jalan sama si Mamat tadi, tapi matanya tetep fokus ke aku. Makasih, loh!" Erik berucap pongah.
Syera menyesal mendatangi pria ini dan memberikan sekaleng minuman. "Bodo ah, Rik!" Syera malas membalas.
Erik lantas tertawa melihat wajah merah Syera.
"Hai, Rik!"
Syera memutar bola matanya malas saat wanita yang ingin bergabung lari pagi dengan mereka datang dan menyapa pria di sampingnya.
"Hai, gue Santi. Sori tadi ganggu, ya? Ngga tau kalau lo istrinya Erik." Santi menatap Syera dan mengulurkan tangannya.
Kening Syera berkerut seketika. Istri? Erik ngaku gue bininya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
AcakTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
