20 Kembali Asing

105K 7.7K 470
                                        

"Syera, kamu putusin aku tiga tahun yang lalu, karena kamu bilang pekerjaanku belum mapan. Aku tau, sebenarnya kamu dipaksa putusin aku. Beberapa bulan yang lalu kita ketemu lagi. Tapi waktu itu aku punya pacar yang dua hari berikutnya aku putusin karena aku pikir lebih mudah mendekati kamu lagi kalau ngga menjalin hubungan sama siapapun. Brengsek memang. Tapi ... asal kamu tau, aku pacaran sekali setelah putus dari kamu. Dan itu karena ibu paksa. Tapi sayangnya pertemuan kita waktu itu cuma sekedar menyapa. Aku mau nemuin kamu lagi, tapi aku malu. Kamu lihat aku jalan sama perempuan lain waktu itu, dan brengsek banget kalau aku harus nemuin kamu langsung. Jadi aku nunggu waktu. Dan ternyata kita ketemu lagi dua bulan yang lalu di rumah sakit, dan kamu terima tawaranku untuk balikan. Pertemuan kita itu aku anggap takdir Tuhan. Jadi ... aku ngga akan melepaskan kamu lagi. Apapun yang terjadi, kita sama-sama sampai menikah, punya anak, dan menua bersama."

Diantar hingga kosan lamanya, lalu tanpa menemui Emma yang tak tahu jika dirinya sempat mampir di teras kosan wanita itu, Syera pulang menggunakan ojek online.

Sepanjang jalan, Syera terus mengingat ucapan terakhir yang Shaka katakan sebelum dirinya turun dari mobil pria itu. Dia benar-benar merasa pusing sekaligus kesal akan diri sendiri yang sudah membuat drama rumit seperti ini.

Semestinya, kalau memang dia mencintai Shaka, dia mendatangi pria itu dulu, dan mengajaknya untuk kembali bersama. Bukan menawarkan pernikahan pada Erik yang terlihat berharap lebih akan hubungan pernikahan mereka, di saat Shaka ingin melamarnya.

Wanita itu bingung harus mengakhiri hubungan dengan siapa. Jika memang dirinya harus menurut pada kodratnya sebagai istri, tentunya ia harus meninggalkan Shaka. Tapi dia belum siap. Memangnya siapa yang bisa jamin jika Erik akan memperlakukan dirinya, seperti Shaka yang begitu mencintainya? Atau jika dia memilih Shaka, mengapa membayangkan jauh dari Erik membuatnya merasa gelisah dan takut?

Ya ampun!

Resahnya ingin memukul kepala yang serasa cenat-cenut.

Tiba di depan bangunan minimalis bercat putih dengan pagar coklat yang terkunci, Syera berdiri diam selama beberapa menit, mengambil waktu untuk mempersiapkan sapaan apa yang akan ia ucapkan pada Erik nanti, setelah yang dirinya lakukan tadi sore.

Bergerak ke sana ke mari, seperti seorang pencuri yang mencari cara untuk masuk tanpa dicurigai, namun mencuri perhatian beberapa tetangga yang lewat. Syera menggerutu sebelum membuka kunci pagar, karena tak bisa menemukan satu pun sapaan yang pas untuk Erik yang pastinya sudah berada di dalam.

Menarik napas dalam sebelum membuka pintu rumah. Syera mengucap salam pelan, dan melangkah tak kalah perlahan, entah apa tujuannya. Wanita itu seperti tak siap bertemu dengan Erik yang dia yakini tengah menonton TV sekarang.

Wanita itu mengurut kepalanya, lagi-lagi mengumpati pusingnya. Dia berjalan ke arah Erik yang tidur menyamping menghadap TV dengan tangan kanan sebagai penyangga. Wanita itu lantas berdehem, anggap sebagai permulaan sebelum menyapa.

Mendengar deheman di belakangnya, Erik lantas menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Eh, udah pulang?"

Syera mengangguk kaku, dengan senyuman yang lebih kaku dari anggukan kepalanya. "Iya."

Erik mengangguk sekilas, lalu kembali pada aktivitas sebelumnya, yaitu menonton. Syera sendiri langsung menunduk, memejamkan mata erat, sambil menggigit bibir bawahnya.

Dia merasa setelah apa yang terjadi tadi, hubungannya dengan Erik yang dirasa agak membaik, akan mengalami kemunduran parah.

Kembali mendongak dengan wajah lelah, dan penampilan yang bisa dikatakan lusuh, Syera mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan obrolan. Hingga pandangannya berhenti pada kertas pink-biru di atas meja makan. Dia mendekati benda itu dan membacanya. "Undangan dari siapa?"

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang