31 Meluluhkan Ego

77.5K 7.9K 624
                                        

Syera menggeliat di dalam rengkuhan Erik yang susah seperti cicak di dinding. Menempel. Pria itu sengaja memberi sedikit ruang agar Syera tak menghubungi siapapun dari ponselnya yang sedari tadi terus berbunyi. Ada pesan dari sang kekasih, pesan dari Rika, pesan dari ibunya dan banyak pesan dari grup Syafa Gym. Syera yakin nanti sore dia akan dicecar para sahabatnya itu karena tak ikut bergabung ke dalam grup. Pun dengan Erik yang sepertinya tak memegang ponsel sedari kemarin sore.

"Rik, kamu ngga kerja?" Syera berusaha melepaskan diri dari pelukan Erik yang terlalu erat. Dia bergerak ke kiri dan kanan hanya agar Erik bangun dan membiarkan dirinya bebas. Ya ampun, mengapa dia malah jadi tahanan si babon ini?

"Apa sih, Syer?"

Gerutuan Erik terdengar, disusul dengan mulutnya yang menguap lebar. Dia merentangkan tangan dan Syera lantas bangkit membebaskan diri sebelum Erik kembali mengurungnya ke dalam tubuh besar pria itu. "Lo ngga ker--aw!" Syera meringis saat merasakan sebuah cubitan yang cukup kuat jatuh ke pinggangnya.

Dengan tatapan sinas dia melihat si pelaku pencubitan yang tetap terpejam dengan wajah tak berdosa. "Sakit!" protesnya tak suka lalu mengusap cubitan pria itu. "Kenapa, sih?!"

"Kamu panggil nama masih aku biarin, ya. Terus sekarang balik lo lagi?" Dia membuka mata melihat Syera yang cemberut. Sementara hatinya mulai memprotes diri yang  dari kemarin merubah panggilannya dengan Erik menjadi aku-kamu. Duh! Manis sekali.

Sudah diperawani. Itu juga setelah dikerjai. Menyerahkan diri sendiri untuk ditiduri. Sekarang si pria dengan banyak keuntungan malah ngelunjak?

Untung enak. Kalau ngga aku.....

Syera mengembuskan napas kalah. Memangnya sekarang dia bisa mengancam apa? Sudah diperawani begini. Minta cerai kan rugi. Belum lagi kalau Shaka tau dia janda tak perawan. Apa masih akan diterima?

Duh Shaka. Kira-kira bagaimana mengakhiri hubungan dengan pria itu tanpa membuat Shaka sakit hati?

Sekali lagi Syera mengumpati dirinya sendiri. Kalau tahu semua akan serumit ini, harusnya kemarin ia tak gegabah menyerahkan diri. Duh ini semua hanya karena harga diri dan ego yang terlalu tinggi.

Tapi mau disesali juga rasanya tak terima. Mau bagaimana lagi kalau ternyata bercinta tidak begitu buruk atau ... memang tak buruk. Eh sebentar. Kalau bercinta tanpa cinta itu apa disebut sebagai bercinta atau seks?

"Syer, masih pagi kamu melamun?"

Dengan tatapan monoton, Syera menatap suaminya. Dia yang tadinya duduk, kembali membaringkan tubuh. "Kamu ngga kerja?" tanyanya lalu.

Erik menyampingkan tubuh, dengan tangan sebagai penopang kepala. "Kamu ngga kerja?"

Syera memutar bola mata sebal. "Bisa ngga, pertanyaan jangan dijawab dengan pertanyaan? Ck! Aku ngga kerja. Capek."

Pria itu lantas tersenyum lebar, memamerkan jajaran gigi pria itu karena mendengar kata 'capek' dari istrinya. Ingatannya kembali melayang pada adegan sebelum solat subuh tadi. Mereka mengulangnya di kamar mandi dan setelahnya langsung membersihkan diri. Kasihan istrinya. Pasti lelahnya tak main-main. "Oke. Ulangi pertanyaannya."

"Ogah!"

"Ck! Ayo! Tanya!"

"Kok maksa?! Aneh!"

"Tanya atau kamu aku bikin capek lagi."

Sontak Syera menekan kuat rahangnya. Melakukan hubungan suami istri memang enak. Tapi tidak berarti setiap jam juga. "Aku tanya! Erik-kamu-ngga-kerja?! Puas?" sinis wanita itu kemudian mengumpat dalam hati.

Yang ditanya lantas tertawa lantang. Dia bangun dari ranjang yang ukurannya lebih besar dari milik Syera, kemudian berjalan menuju meja kerja. Mengambil ponsel canggihnya dan membuka pesan dari Januar yang mengomel karena dirinya kemarin tak jadi datang. Sementara itu Syera langsung menatap suaminya dengan ekspresi kebingungan. "Ngga jelas banget, sih," gumamnya. "Jadi kamu kerja, ngga?"

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang