28 Lawan yang Imbang

83.7K 7.7K 594
                                        


Erik berjalan keluar rumah, dan berhenti di teras setelah menutup pintu rumahnya.

"Sherly? Lo mabuk? Sherly siapa? Gue Januar."

Erik meringis mendengar jawaban dari seberang sana. Dia menghubungi temannya, dan sengaja menyebut nama seorang wanita yang dirinya pikir secara acak hanya agar Syera semakin kecewa.

Pria itu sudah terlanjur sakit hati atas semua keegoisan dan keras kepala Syera yang tak sama sekali bisa menghargai dirinya yang sudah sekeras mungkin menahan kesabaran pada wanita itu.

"Sorry. Lo ada waktu, Nu?"

"Gue apa Sherly?"

Erik berdecak sebal. "Lo! Gue mau ambil motor. Nanti gue anter mobil kantor ke rumah lo."

"Oh! Oke! Gue tunggu. Berarti gue besok balik sama lo lagi, oke!"

"Iya. Ya udah."

Tanpa sibuk menunggu jawaban teman kantornya. Erik memutus sambungan sepihak. Kemudian diam sejenak, memandang ke arah pintu karena kegamangan yang menyerbu.

Bersandar pada salah satu pilar, Erik malah meringis merasa miris sendiri saat pendengarannya sempat menangkap isakan Syera. Kini ia berada di antara dua kebimbangan. Kembali masuk dan memeluk wanita itu, atau pergi.

Dan setelah berpikir singkat, akhirnya ia memutuskan untuk pergi, karena Syera pasti tak membutuhkan pelukannya. Erik lantas menegapkan tubuh, bergerak ke arah garasi dan membukanya.

Pria itu berbalik sesaat melihat mobilnya yang terparkir di halaman rumah, menghalangi jalan. Jadilah ia membuang napas pelan, lantaran malas menyingkirkan kendaraan roda empatnya ke pinggir jalan, kemudian mengeluarkan mobil perusahaan yang ada di dalam garasi, dan kembali memasukkan mobil miliknya. Itu hal yang melelahkan.

Erik mengeluarkan mobil dari halaman rumah, kemudian kembali masuk ke garasi, mengambil kunci mobil perusahaan yang ia gantung di samping pintu menuju dapur. Sejenak, pria itu berpikir untuk masuk dan melihat keadaan Syera. Tapi egonya menolak.

Kembali ke garasi, membuka lebar pintu agar bisa dilalui kendaraan roda empat berwarna silver yang akan ia antar ke tempat tinggal temannya. Erik berbalik untuk masuk ke dalam mobil. Namun pandangannya malah tak sengaja terbentur pada pintu yang menghubungkan ruang dapur dan garasi. Pria itu diam sejenak, mengangkat dagu sambil mengeluarkan dengkusan pelan.

Syera sialan!

Setelah sekian lama menahan berbagai serapah untuk sang istri. Kini dengan hati berdesir, mendapati sosok itu berdiri menantang dengan tubuh berbingkai pintu, Erik akhirnya mengeluarkan umpatannya.

*

Wanita yang harga dirinya baru saja dileburkan oleh sang suami, mengangkat kepala menahan semua isakan.

Dia tahu dia tak bisa seperti ini. Menangisi tindakan Erik barusan, dan membiarkan pria itu pergi untuk melampiaskan nafsu yang pastinya sudah memenuhi ubun-ubun kepala suaminya.

Berdiri menekan tangis yang kembali ingin lolos dari bibir merahnya. Syera menghapus air mata kasar, terseok membawa tubuhnya yang masih merasakan kekosongan atas puncak yang tiba-tiba Erik hancurkan menuju kamar, dan duduk sebentar di sisi ranjang.

Berkaca pada cermin besar di hadapannya, Syera melihat dirinya yang begitu kacau, hasil kerja keras Erik untuk memberinya pelajaran.

Namun saat mendengar bunyi kendaraan dari luar, wanita itu mendongak, diam sesaat dengan hati ketar-ketir, takut jika Erik pergi dan benar-benar meninggalkannya untuk wanita sialan bernama Sherly. Siapapun itu. Dia akan menghabisi wanita bernama Sherly jika sampai menyentuh tubuh suaminya. Sial! Dia tak terima Erik dekat dengan wanita mana pun, dan persetan dengan kegilaannya yang sudah bermain cinta dengan Shaka.

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang