Jika ini merupakan sebuah novel, harusnya yang Syera lakukan ketika Erik menyatakan perasaannya adalah menelisik ke dalam mata pria itu, mencari kejujuran di sana. Menatap ekspresi Erik, mencoba menemukan kesungguhan di sana. Tapi karena terlalu kaget dan terlebih dahulu diisi oleh berbagai penilaian negatif, Syera tak sempat melakukan interogasi wajah tersebut.
Tapi mendengar pernyataan Erik barusan, sebelum pria itu masuk ke kamar meninggalkan dirinya yang kini merasa bersalah. Syera berpikir mestinya dirinya tak harus langsung memberikan penilaian buruk atau ... prasangka negatif pada rasa yang dimiliki Erik padanya.
Harusnya dia termenung sesaat, lalu menggeleng seakan tak percaya, dan tak lama meminta waktu untuk berpikir. Tapi yang dilakukan malah hal yang melukai perasaan Erik. Dirinya tak ingin dilukai, tapi dengan mudahnya melukai perasaan orang lain.
"Ck!! Coba tadi dipikirn dulu sebelum ngomong!"
Tapi dasarnya tercipta sebagai wanita yang selalu bertindak dulu baru memikirkan apa yang dilakukan. Setelah semua terjadi baru menyesal.
Kali ini Syera jadi ragu, jika Erik akan memaafkannya. Pria itu memang baik. Tapi bukan malaikat juga, yang akan memaafkan semua kesalahan yang dirinya lakukan.
Apalagi kesalahannya kali ini tampaknya lebih buruk dari kepergok dijemput Shaka.
"Ck! Terus aku mesti apa?"
Wanita itu berpikir keras untuk memperbaiki kesalahannya hingga lupa pada hal yang membuatnya harus mengalami kesulitan seperti ini. Helen. Pertemuan Erik dan mantan calon istri pria itu yang tadi menyulut emosinya sudah tak ia pikirkan lagi, karena dari yang dirinya lihat, Erik memang tak menjalin hubungan lagi dengan Helen. Mungkin tadi sore mereka tak sengaja bertemu.
Tapi jika sekarang ia berpikir begitu, mengapa tadi harus marah jika Erik bertemu dengan Helen di belakangnya?
Syera melotot, membungkam mulut dengan kedua telapak tangan. "Ya ampun! Goblok! Erik pasti nyangkain aku cemburu. Aku kan cuma ngga mau dia balikan sama mantan jahat kayak Helen." Meski jika dipikirkan lagi dirinya juga mantan jahat bagi Shaka, karena dulu di saat Shaka ingin terus menjalin hubungan tak peduli keluarganya akan marah, tapi Syera memilih mundur meninggalkan pria itu. Tapi kan dia tak sejahat Helen, menghilang di saat pernikahan hanya tinggal tiga bulan lagi.
Syera menopang dagu, menggerakkan tubuh di atas ranjang berukuran sedangnya, ke kiri dan ke kanan. "Tapi apa iya aku cemburu?" Dia berpikir lagi. Hal yang menakjubkan karena wanita itu bisa berpikir lama.
Dia lalu menggeleng, menjawab pertanyaannya sendiri. "Ngga! Masa cemburu sama Erik! Kalau cemburu cinta, dong?" Lalu menoleh ke arah kaca yang menempel di dinding berjarak dua meter darinya. Dia menelisik ekspresi anehnya. "Masa sih cinta?" Dia bertanya pada refleksi dirinya di kaca. Bibirnya maju, dan digetarkan hingga berbunyi brrrrr yang cukup panjang. Setelah itu tiada angin tiada hujan, Syera terkikik, memukul kepalanya. "Ngga lah! Ngga cinta." Tapi menginginkannya. "Udah ada Shaka." Namun tak yakin jika harus meninggalkan Erik.
Meninggalkan pria itu atau berpisah adalah hal yang pernah ia pikirkan namun kini hatinya tolak mentah-mentah.
Tapi tadi dia bahkan meminta perpisahan meski secara tersirat.
"Ya ampun!"
Benar kata pepatah. Jangan pernah berucap ketika emosi. Karena kata yang keluar pasti akan disesali kemudian. Dan kali ini Syera benar-benar menyesali kebodohannya.
Plak!
Dia menepuk bibirnya sendiri yang tadi sudah asal bicara. "Bodoh!" Keningnya juga terkena amukan tangannya. "Astaga!" Wanita itu meluruhkan tubuh ke belakang. Dia sudah meminta pisah meski secara tersirat. Lalu ia menolak perasaan cinta Erik, dan dibubuhi penilaian yang menyakitkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
AcakTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
