November, 2018
"Aaargh," pekik seorang pria saat sebatang tipis besi panas menembus kulit, otot, serta organ dalam perutnya.
Sudah satu jam pria slavik itu disiksa dalam sebuah ruang kedap suara di lantai atas sebuah rumah di tengah hutan. Darahpun tercecer memenuhi lantai putih itu. Nafas memburu hingga air mata pria pirang itu sama sekali tidak dihiraukan oleh seorang pria lain yang kembali memanaskan batang tipis besi itu pada bara api. Selain luka akibat besi panas, pria itu juga mendapatkan luka bakar parah akibat berdiri diatas bara api yang diletakkan tepat di bawah telapak kakinya.
Tidak kuat berdiri tegak lagi akibat sensasi kesakitan, perih, dan nyeri luar biasa di sekujur tubuhnya, pria itu ambruk ke depan. Bara api kemerahan itu langsung membakar kulit betis pria itu, mengakibatkan luka bakar kehitaman sepanjang betisnya. Lelaki lain yang berdiri membelakanginya itu langsung menoleh. Ia tersenyum miring melihat kliennya itu memilih menyerah dari game yang ia adakan.
Sebuah kapak militer yang tergantung di dinding ruangan langsung diraihnya. Tak lupa sebuah balok kayu besar di sudut ruangan.
"Argh," erang pria pirang itu saat rambutnya dijambak untuk mengangkat kepalanya.
"Tenanglah, setelah ini kau akan terbebas dari seluruh kesakitan yang kau rasakan sekarang,"
Digesernya dengan kaki balok kayu pinus itu untuk menyangga leher pria pirang yang kini pasrah menerima apapun yang akan dilakukan pria berkaus polo maroon itu. Tulang tangannya patah akibat pukulan keras dengan stik golf sebelum ia mulai disiksa di ruangan tertutup itu. Luka tusukan, sabetan, hingga sayatan pun memenuhi seluruh anggota tubuhnya, terkecuali pada bagian kepala. Pria itu masih tidak menduga jika hidupnya akan berakhir di tangan seorang pria psikopat yang akan menjadi algojo kehidupannya.
BRAKK
Lebatnya guyuran hujan dua jam lalu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi sesosok pria yang kini duduk balkon rumahnya yang terletak jauh di tengah perkebunan pinus miliknya. Hawa dingin kedatangan musim dingin di pertengahan bulan ke sebelas ini tidak membuatnya beranjak ataupun beralih memakai jaket yang kini ada di pangkuannya. Rambut hitamnya bergerak bebas mengikuti arah angin. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang mencetak jelas sebuah cekungan di pipi kanannya.
"Kalian terlalu lemah. Setidaknya biarkan aku sedikit bersenang-senang," tangan atletisnya kini beranjak mengelus sesuatu yang tertutup oleh jaket hitamnya.
"Bukan dia yang lemah, kakak. Kaulah yang terlalu kasar," timpal seorang pria lain yang bersandar di dinding, "setidaknya kau menyalurkan selera senimu,"
"Kau boleh mengambil bagian dalamnya. Klienku tidak membutuhkan itu, hanya luarannya saja untuk pemakaman keluarga," pria itu beranjak dan memberikan sesuatu yang ia bungkus jaket kepada pria yang memanggilnya kakak tadi.
"Astaga," pekik pria itu saat menerima bungkusan yang ia buka ternyata sebuah kepala manusia. Cairan kental kemerahanpun masih menetes keluar dari jaket itu.
"Kuserahkan sisanya kepadamu, Kevin!"
Kevin hanya mendengus dan meletakkan kepala itu dalam kotak kaca yang terletak tak jauh darinya. Ia berjalan gontai masuk kedalam dan kembali dengan satu set alat pembersih. Langsung dipelnya ceceran darah dilantai dan pembatas balkon tempat pria tadi duduk. Ia kembali masuk dengan alat pembersih juga kotak berisi kepala itu. Wajahnya ditekuk sebal. Bukan karena mendapat kepala manusia dengan darah segar masih menetes dari pembuluhnya melainkan karena terpisahnya kepala yang ia bawa berarti tulang belakangnya, yang merupakan tulang favoritnya, rusak terpotong.
KAMU SEDANG MEMBACA
The (Psyco) Godfather
RandomJangan mencari masalah denganku. Jika tidak aku yang akan datang membantaimu dengan tanganku sendiri - Alexandro Alvaro
