Sebuah kendaraan besar melintas menerobos kabut yang mulai turun di jalanan. Jarak pandang yang berkurang memaksa supir kendaraan itu mengurangi kecepatan kendaraan yang ia kemudikan. Beberapa kali ia menatap sebuah layar kecil yang terpasang di dashboard trucknya, menampilkan seorang pria dengan tangan terikat pada langit-langit, dan seorang pria lagi yang melayangkan beberapa pukulan padanya.
Kesadaran pria itu masih belum kembali sepenuhnya meskipun tubuhnya sesekali terhuyung ke depan, sebelum akhirnya terhuyung kembali kebelakang. Luka yang menghiasi sekujur tubuhnya yang terbalut dalam kemeja yang sudah koyak itu mulai mongering. Tidak ada lagi daging berwarna kemerahan yang nampak begitu segar maupun darah yang masih meneetes keluar dari sejumlah luka itu.
BUGH
BUGH
Dua tinjuan itu kembali mendarat pada perut pria yang berhiaskan beberapa luka. Tinjuan kuat pria yang bebas itu sendiri merupakan tinjuannya yang kesekian kalinya ia tujukan pada tubuh babak belur pria yang kini terborgol pada kedua lengan dan kakinya. Kedua pria itu terhuyung kedepan dengan cukup kuat secara tiba-tiba. Hal ini mengusik Alex yang sedang terlelap dalam pingsannya.
Pria berambut coklat itu mengerjabkan matanya perlahan. Pupil matanya berusaha menyusaikan intensitas cahaya yang rendah di tempat ia berdiri dengan kedua tangan terborgol ke atas. Kedua kakinya juga terborgol menyatu. Keningnya berkerut mencoba menebak dimana ia sekarang. Sebuah petunuk ia dapatkan saat ia merasakan tubuhnya terayun kedepan. Ia berdecak.
"Apa kalian tidak bisa menemukan transportasi yang lebih elite? Boks kontainer? Seriously?"
Pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Alex berhadiah sebuah tinjuan yang mendarat di ulu hatinya. Alex terbatuk beberapa kali, bukan karena tinjuan tadi, melainkan karena seekor nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya saat ia menghirup udara. Alex yang terbatuk menyulut tawa pria yang tidak begitu tinggi itu.
"Bagaimana? Apa sudah cukup menyakitkan?"
Alex yang merasakan nyamuk tadi masih menyangkut di tenggorokannya masih terbatuk, mencoba mengeluarkan nyamuk itu dari sana. Terlalu focus pada nyamuk yang pada akhirnya ia biarkan, ia terlupa akan sosok pria yang berdiri tak begitu jauh darinya itu.
Alex cukup yakin jika pria itu merupakan anggota dari salah satu kelompok geng mafia. Pria berkaus hitam itu kembali melayangkan beberapa tinjuannya ke sejumlah bagian tubuh Alex. Alex sendriri hanya berdiri diam, seolah tinjuan yang baru saja ia terima tidak memiliki efek pada tubuhnya. Emosi pria itu tersulut lebih besar saat melihat senyuman samar di bibir Alex.
Langsung diambilnya sebilah karambit yang tergantung di sisi kiri dinding kontainer. Alex sendiri kali ini lebih memilih diam dan kembali menerima apapun perlakuan yang akan ditujukan kepadanya karena ia merasakan matanya memberat. Inilah hal yang Alex benci. Rasa kantuk yang menyerang tanpa memperdulikan situasi dan kondisi. Rasa kantuk yang akan membawa tubuhnya beristirahat, sekaligus memulihkan luka-lukanya.
Alex hanya bisa tersenyum merasakan senjata tajam itu menggores lengan kanannya. Dengan mata terpejam, ia menikmati sensasi perih yang kini melanda lengannya. Pria itu tidak terlalu memperdulikan luka menganga yang ia peroleh dari pria-pria di siang itu karena tubuh Alex berbeda. Ia sendiri tidak begitu tahu alasannya, namun dokter pribadinya mengatakan jika tubuh Alex memiliki kemampuan menyembuhkan luka 2-4x lebih cepat dibandingkan manusia pada umumnya. Proses pembekuan darah pada setiap luka yang ia terima pun demikian..
BUGH
JLEB
Tinjuan demi tinjuan, sabetan, hingga tikaman terus menghujani tubuh yang sudah penuh luka iitu. Bahkan, darah segar kini keluar dari mulutnya. Bukan hanya akibat robek pada pipi bagian dalamnya, tetapi juga akibat pendarahan pada organ dalam tubuhnya. Nyeri dan perih kini dapat pria kelahiran California itu rasakan di sekujur tubuhnya. Darah segar kini tak hanya membasahi dan mengubah warna kemeja puth yang ia kenakan menjadi merah, namun juga membasahi lantai baja yang kini ia pijak.
"Bagaimana sekarang, huh? Apa kau sudah merasakan malaikat mautmu mendekat?" tanya pria itu dengan angkuhnya.
BUGH
Sebuah tendangan mengarah ke pinggang Alex tepat mengenai sebuah luka sabetan kecil. Alex hanya mengerang tertahan saat sepatu militer yang dikenakan pria itu mendarat di lukanya. Erangan Alex kembali terdengar saat sebuah pria itu mendaratkan cambukan pada punggung Alex yang langsung mengenai luka sayatan memanjang disana.
Darah yang tadinya sudah sedikit mengering kini kembali keluar. Yang bisa Alex lakukan sekarang hanya berusaha tetap tenang sehingga denyut jantungnya dapat melambat. Ia hanya bisa menahan rasa panas dan perih disaat cambuk itu kembali menyentuh punggungnya. Bau anyir kini memenuhi box kontainer berukuran 10x3x4 meter itu.
Alex dapat merasakan trailler yang membawa boks yang ia tumpangi kini berhenti. Tak begitu lama, terbukalah pintu kontainer, menampakkan sekilas bayangan seorang pria yang berdiri dibawah sana. Mata Alex memicing melihat dua pria yang kini berdiri melipat dada dengan mata mengamati lekat-lekat dirinya. Kerutan timbul di kening Alex saat menyadari latar belakang yang ia lihat kini, jalanan sepi dengan hamparan hutan pinus di sisi kiri dan kanan jalan.
"Hey, Lucas, buka borgolnya!" ucap pria yang membuka pintu. Pria yang sedari tadi menguji tubuh Alex hanya berdecak namun tetap melakukan apa yang pria itu ucapkan.
Alex yang langsung terjatuh ke bawah hanya bisa pasrah saat pria yang dipanggil Lucas itu mencengkram dan menyeretnya menuju ujung kontainer. Dengan menggunakan kakinya, didorong tubuh Alex hingga terjatuh ke jalanan yang beraspal kehitaman itu. Lucas turun lalu mengunci kembali pintu kontainer itu.
BUGH
Ditendangnya wajah Alex yang masih meringkuk di atas aspal. Pria itu menunduk.
"Badai yang akan turun hari inilah yang menamatkan riwayatmu," bisik Lucas dengan dingin tepat ditelinga Alex
JLEB
Scalpel Swann Morton yang selalu digunakan Alex kini tertancap tepat di perutnya. Alex yang tahu jika mata tajam scapel miliknya itu tidak mengenai organ dalamnya, hanya bisa mendesah lega. Lucas sendiri sudah beranjak pergi bersama trailler yang dikemudikan oleh pria lainnya. Mata Alex memicing melihat plat nomor trailler itu yang terlupakan oleh pengemudinya untuk disamarkan. Ia masih memilih berbaring di jalanan, tidak bergerak dari posisinya sama sekali.
Setelah cukup menenangkan diri dan menunggu hingga darahnya berhenti mengalir, Alex bangkit. Ia berjalan tertatih ke area perkebunan yang berada di sisi kiri jalan. Ia duduk bersandar pada salah satu pohon pinus yang tingginya mencapai 10 meter itu. Tangan kanannya bergerak dan mencabut scalpel yang masih tertancap pada perutnya. Darah segar langsung mengalir keluar kembali membasahi kemejanya yang kini telah berubah warna. Alex pun memejamkan mata. Mencoba memperlambat denyut jantungnya yang sempat kembali meningkat.
Alex yang justru terjatuh ke alam mimpi mengernyitkan keningnya saat kembali membuka mata. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali saat melihat suasana sekitarnya yang menggelap dan mulai berkabut. Tanpa menunggu, ia langsung bangkit. Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu yang begitu ia kenali. Sebuah batang logam yang merupakan sensor inframerah dengan lambang kapak. Dengan senyuman tipis Alex mencabut logam itu lalu melemparnya asal. Dijatuhkanlah scalpel yang tadi mengoyak otot perutnya ke tempat logam itu semula tertancap. Ia berbalik, matanya langsung manangkap goresan cat merah yang kini sudah memudar. Dengan pasti ia berjalan lurus ke arah kemana cat itu menghadap.
Alex tahu, meskipun ia tidak sampai ke tempat tujuannya yang berada di tengah hutan pinus itu, pemilik hutan pinus puluhan hektar ini akan mencarinya. Hanya karena sebilah scalpel berlumuran darah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The (Psyco) Godfather
AlteleJangan mencari masalah denganku. Jika tidak aku yang akan datang membantaimu dengan tanganku sendiri - Alexandro Alvaro
